Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

11 Bulan Temukan 300 Penderita HIV/AIDS Baru di Kota Malang, Mayoritas Pasien dari Luar Kota

Aditya Novrian • Selasa, 2 Desember 2025 | 16:37 WIB
Data HIV/AIDS Kota Malang
Data HIV/AIDS Kota Malang

MALANG KOTA – Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Malang terus bertambah setiap tahun. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat, sejak Januari hingga November 2025 terdapat 300 kasus baru. Jika diakumulasikan sejak pertama kali pendataan dilakukan, totalnya mencapai sekitar 6 ribu penderita yang pernah menjalani pengobatan.

Kepala Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif menjelaskan, mayoritas penderita merupakan warga dari luar daerah. ”Sekitar 70 persen berasal dari luar Kota Malang, sedangkan 30 persen atau sekitar 1.800 penderita merupakan warga Kota Malang,” ujarnya kemarin (1/12).

Seluruh penderita tersebut menjalani pengobatan di 16 puskesmas dan 8 rumah sakit yang menyediakan layanan HIV/AIDS. ”Contohnya, di Puskesmas Dinoyo saat ini ada sekitar 400 pasien aktif. Sementara di Puskesmas Pandanwangi terdapat 100 pasien,” tambah pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.

Menurut Husnul, tingginya jumlah penderita dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya pola hidup berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, hingga perilaku seksual tidak aman. Karena setiap tahun selalu ditemukan kasus baru, Dinkes mengimbau warga yang merasa mengalami gejala tertentu agar segera memeriksakan diri.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain kelelahan berkepanjangan, sariawan, radang tenggorokan, hilangnya nafsu makan, ruam kulit, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, serta keringat berlebih pada malam hari.

Husnul juga mengingatkan masyarakat mengenai tiga fase penyebaran HIV. Dimulai dari fase pertama atau periode jendela ketika risiko penularan sangat tinggi, fase laten yang bisa muncul dengan gejala ringan atau tanpa gejala, hingga fase AIDS ketika sistem kekebalan tubuh menurun drastis.

Untuk pemeriksaan, masyarakat bisa memilih dua metode. Yakni konseling dan tes sukarela, atau konseling dan tes yang diinisiasi petugas kesehatan. ”Kami juga melakukan pendampingan melalui mobile clinic dan para pendamping lapangan,” jelasnya.

Selain pendampingan, Dinkes terus mendorong penderita untuk rutin berobat. Obat antiretroviral (ARV) tersedia gratis dan harus dikonsumsi seumur hidup. Karena itu, penderita sangat membutuhkan dukungan keluarga dan lingkungan agar tidak putus pengobatan. (mel/adn)

Editor : A. Nugroho
#HIV / AIDs #arv #dinkes #malang