MALANG KOTA – Belum semua pelajar di Kota Malang menikmati makan bergizi gratis (MBG). Dari 742.477 siswa jenjang SD-SMA/SMK yang tercatat di data pokok pendidikan (dapodik), baru 52 ribu pelajar yang merasakan MBG. Selebihnya 690.139 siswa belum kebagian.
Angka tersebut bertambah jika diakumulasikan dengan siswa jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) (selengkapnya baca grafis). Banyaknya siswa yang belum kebagian MBG tersebut karena terbatasnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana mengatakan, pihaknya tidak memiliki target khusus mengenai jumlah penerima MBG. Dia fokus mengawasi SPPG yang sudah beroperasi. Sebab, dampaknya langsung ke siswa. “Prinsipnya, kalau ada yang menerima MBG ya kami awasi,” ujar Suwarjana kemarin.
Suwarjana mengatakan, pihaknya tidak berwenang menentukan jumlah SPPG. Namun apabila ada SPPG yang hendak beroperasi, disdikbud akan memberikan rekomendasi. Catatannya adalah harus memenuhi seluruh persyaratan.
Dia mencontohkan beroperasinya SPPG di Kedungkandang. Setelah mendapat pemberitahuan dari pihak SPPG, Suwarjana mengarahkan terkait sekolah mana saja yang dipasok. ”Paling tidak, satu SPPG bisa menanggung 3-8 sekolah saja,” terang pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Di lain pihak, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan Hariadi memaparkan daftar penerima MBG. Selain pelajar, ada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. ”Tapi didominasi pelajar. Jika ditotal jumlahnya mencapai 52.338 pelajar,” terang Slamet.
Dia lantas merinci jumlah siswa penerima MBG di semua jenjang. Untuk jenjang TK ada 5.173 pelajar, jenjang SD 23.269 pelajar, dan SMP ada 12.314 pelajar. ”Sedangkan 11.582 pelajar SMA se-derajat," kata Slamet. ”Sisanya adalah 46 ibu hamil, 12 ibu menyusui, serta 198 balita,” tambahnya.
Dia mengakui masih banyak pelajar yang belum menikmati MBG. Dikutip dari Dapodik periode 2025-2026, jumlah pelajar TK di Kota Malang mencapai 742.477 jiwa. Rinciannya 2.485.919 pelajar SD, 1.231.515 pelajar SMP, 557.495 pelajar SMA, dan 790.359 pelajar SMK. ”Seluruh kebutuhan MBG di Kota Malang, rencananya dipenuhi melalui 84 SPPG," sebut Slamet.
Kendati demikian, pihaknya belum tahu persis mengenai SPPG yang akan dibangun karena mitra atau yayasan berurusan langsung dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Slamet menyebut, terdaftar 21 SPPG yang akan beroperasi.
Di antaranya SPPG Lowokwaru Mojolangu, SPPG Kedungkandang Tlogowaru, SPPG Lowokwaru Merjosari 2, SPPG Kedungkandang Sawojajar, SPPG Sawojajar 3, SPPG Sukun Kebonsari 2, dan banyak lainnya.
Sisanya ada puluhan SPPG yang belum beroperasi. Penyebabnya beargam. Ada yang masih dalam tahap pembangunan, ada pula yang sedang memproses perizinan.
Selain SPPG yang belum beroperasi, ada 2 SPPG yang berhenti sementara. Yakni SPPG Yayasan LP Maarif NU dan SPPG Lanal Malang. "Dari informasi terakhir, 2 SPPG berhenti sementara karena sedang melakukan pergantian manajemen," imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang itu.
Karena berhenti beroperasi, ada sekitar 6.200 pelajar yang berhenti mendapatkan MBG. Itu karena sebelumnya SPPG Yayasan LP Maarif NU memasok makanan untuk 3.200 pelajar dan SPPG Lanal Malang ke 3.000 pelajar. "Kami pun hanya bisa menunggu dua SPPG itu beroperasi lagi," ucap Slamet.
Dia mengatakan, lamanya pertambahan SPPG juga dipengaruhi persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang baru-baru ini digiatkan oleh pemerintah pusat.
Persyaratan lain berupa legalitas hukum resmi, penggunaan bahan pangan lokal, hingga pendirian bangunan. Untuk pendirian bangunan harus mencari lokasi yang berjarak maksimal 6 kilometer atau sekitar 30 menit perjalanan menuju sekolah tujuan. Tujuannya untuk mencegah makanan basi.
Selain pelajar, MBG juga diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Belum ditentukan sasaran pasti untuk ketiga kelompok tersebut di Kota Malang. Namun data tiga kelompok terus bergerak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang drg Muhammad Zamroni mengatakan, pihaknya hanya memiliki jumlah sasaran secara umum. "Untuk ibu hamil ada 8.665 orang, ibu menyusui 8.377 orang, dan balita 31.668 anak.
Ini data resmi sasaran per 2025, tapi untuk segala kebutuhan kesehatan," ungkapnya. Sementara jumlah sasaran untuk MBG bergantung masing-masing SPPG. Biasanya SPPG mendapat data identitas penerima dari perangkat terkait seperti kelurahan atau kecamatan.
Anggota komisi D DPRD Kota Malang Suryadi menuturkan target terbaik adalah MBG bisa merata pada 2026. Sesuai target nasional yang sudah ditetapkan. Namun dalam praktiknya harus mengedepankan prinsip kehatia-hatian.
“SPPG yang sudah beroperasi diperketat pengawasan operasionalnya, sembari terus menambah yang baru,” paparnya. ”Jangan sampai SPPG bertambah banyak, tapi keamanan makanan tidak terjamin,” tambahnya.(mel/aff/dan)
Editor : A. Nugroho