MALANG KOTA – Kinerja sektor perhotelan kembali menunjukkan perbaikan setelah semester pertama 2025 sempat dihantam kebijakan efisiensi yang membuat okupansi turun tajam. Memasuki Agustus, kondisi makin diuji oleh aksi demonstrasi yang berimbas pada pergerakan wisatawan.
Belum lagi minimnya event dan libur panjang membuat tingkat hunian hotel kembali stagnan. Pada Oktober, situasi mulai bergerak naik. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel tercatat 51,53 persen, naik 4,20 poin dibanding September. Meski demikian, bila dibandingkan Oktober 2024, angkanya masih turun 3,54 poin.
Secara komposisi, hotel bintang masih menjadi penyumbang tertinggi dengan TPK 65,10 persen. Kenaikan month-to-month tercatat 7,16 poin. Sementara hotel nonbintang naik tipis 0,61 poin, dengan tingkat hunian 35,01 persen.
Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifudin menilai lonjakan TPK pada Oktober dipengaruhi gelaran event besar. ”Ada banyak kegiatan olahraga dan festival selama Oktober,” ungkapnya.
Deretannya antara lain Festival Olahraga Piala Wali Kota, Festival Bulutangkis U-15 Piala Menpora, Malang Food Fest Carnival, Konser Swara Semesta, hingga Live Arena Festival. Dari komposisi tamu, wisatawan domestik masih mendominasi.
Di hotel bintang, porsi tamu lokal mencapai 95,89 persen, sementara turis mancanegara hanya 4,11 persen. Pada hotel nonbintang, tamu asing bahkan kurang dari 1 persen. Umar menjelaskan, sedikitnya wisatawan asing disebabkan negara-negara asal mereka mulai memasuki musim dingin, sehingga pola liburan bergeser.
Rata-rata lama menginap tercatat 1,47 hari. Untuk data TPK November, BPS baru akan merilisnya Januari mendatang. Ketua PHRI Kota Malang Agoes Basoeki membenarkan tren kenaikan tersebut. Ia menyebut okupansi Oktober di sejumlah hotel anggota sudah mendekati 80 persen.
”Kondisi ekonomi mulai bergerak positif, jadi okupansi ikut membaik,” ujarnya. Ia menambahkan, dukungan berbagai event cukup membantu, meski dampaknya belum sepenuhnya optimal. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho