DI JALAN Hamid Rusdi, Kelurahan Bunul, Kecamatan Blimbing, Suci Herawati merasakan betul perubahan dalam dua bulan terakhir. Lapak kecil yang ia kelola bersama saudara kembarnya, Yuli Rahayu, kini tak pernah sepi.
Dulu, pembelinya didominasi para orang tua yang sudah akrab dengan cita rasa polo pendem sejak kecil. Kini, setiap akhir pekan, anak-anak muda berkaus olahraga ikut meramaikan antrean.
”Sekarang dua jam langsung habis,” ujarnya. Jika sebelumnya mereka berjualan hingga pukul 09.00, sekarang pukul 08.00 Suci sering sudah berkemas pulang karena dagangan habis.
Saudara kembar asal Blitar itu memulai usahanya pada Juni lalu saat pedagang polo pendem kukusan masih bisa dihitung dengan jari. Setiap hari, mereka membawa 12 varian.
Dari rumpun umbi singkong, ubi ungu, ubi cilembu, bentoel, kacang tanah, sampai talas. Ditambah kukusan jagung, sukun, pisang, dan telur. Semua dibanderol seragam, Rp 1.500 per biji, sehingga pembeli leluasa mencicipi berbagai jenis.
Setiap hari sekitar 20 kilogram bahan mereka kukus. Prosesnya dilakukan malam hari karena tiap jenis polo pendem membutuhkan waktu matang yang berbeda dan relatif lama.
Permintaan makin tinggi sejak konten TikTok tentang lapak mereka berseliweran di linimasa. Sejumlah pembeli bahkan kadang mengeluh tak kebagian.
”Ada yang DM (direct message) juga. Tapi memang produksi kami terbatas,” kata Suci. Musim hujan menambah tantangan karena kualitas umbi sering menurun. Banyak yang menjadi kehitaman akibat kandungan air berlebih.
Meski demikian, Suci tetap bersyukur. Menurutnya, tren hidup sehat yang makin kuat di Kota Malang justru membuka ruang bagi camilan tradisional untuk naik daun.
Polo pendem yang dulu identik dengan jajanan orang tua, kini hadir sebagai pilihan ringan, mengenyangkan, sekaligus kaya serat tanpa perlu tambahan bumbu. Ia berharap demam camilan sehat ini bertahan lama, bukan sekadar viral musiman agar para pedagang kecil sepertinya bisa terus berkembang. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho