Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ribuan Sarjana di Kota Malang Menganggur, Industri Lebih Butuh Sertifikat Dibanding Ijazah

Mahmudan • Rabu, 10 Desember 2025 | 15:35 WIB
Angka Pengangguran
Angka Pengangguran

MALANG KOTA – Meski mayoritas pekerja di Kota Malang bergelar sarjana, angka pengangguran lulusan perguruan tinggi cukup besar. Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat ada ribuan menganggur.

Namun angka tersebut relatif kecil dibanding jumlah pengangguran dari jenjang pendidikan yang lain. Dari 27.710 penduduk yang menganggur, 8,81 persen lulusan SMP. Itu merupakan tertinggi dibanding jenjang lainnya.

Adapun pengangguran lulusan SMA/SMK sederajat berkisar, 7,24 persen, dan diploma I/II/III sebanyak 6,77 persen. “Untuk kalangan sarjana, tingkat pengangguran cukup rendah, hanya 4,37 persen (1.210 jiwa),” ujar Kepala BPS Kota Malang Umar Sjaifuddin kemarin.

Dia menyatakan, seharusnya angka di kalangan sarjana bisa ditekan. Sebab, peluangnya lebih besar dibanding jenjang lain di bawahnya. Dia membandingkan dengan lulusan SD yang peluangnya terbatas pada sektor informal.

”Pekerja dari lulusan pendidikan tinggi pada umumnya juga memiliki keleluasaan dalam mendapatkan pekerjaan di sektor formal,” terangnya. “Pengaruhnya jelas bisa mengangkat kualitas pekerja di Kota Malang,” lanjut Umar.

Di sisi lain, Umar memaparkan alasan masih banyaknya pengangguran dari kalangan lulusan strata satu (S1). Dia mengatakan, pada umumnya pengangguran berpendidikan tinggi akan berusaha mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kualifikasi pendidikannya.

Untuk itu, pemerintah perlu memperhatikan kualitas pekerjaan yang tersedia di Kota Malang. Terutama untuk ketersediaan lapangan kerja yang sesuai kualifikasi sarjana.

Terpisah, Fungsional Pengantar Kerja Ahli Muda Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Malang Eka Yudha Sudrajad memaparkan, kepemilikan ijazah tidak terlalu berpengaruh terhadap peluang mendapat pekerjaan.

Menurutnya, industri lebih membutuhkan sertifikat kompetensi dibanding ijazah. ”Meskipun tidak tamat sekolah, bisa tetap bekerja di luar negeri untuk sektor informal," jelasnya.

Sektor informal yang dia maksud seperti pekerja rumah tangga (PRT), gardener, care taker, family cooking, hingga baby sitter. Namun tidak menutup kemungkinan mereka bisa bekerja di sektor formal seperti operator atau pekerja kebun di perusahaan tertentu.

Sebelum bekerja di luar negeri, dia mengatakan, orang-orang yang memilih menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga mendapat pelatihan dari pemerintah. Salah satunya pemerintah provinsi melalui Balai Latihan Kerja (BLK). "Kami sempat akan menggelar pelatihan juga, namun ternyata BLK Wonojati sudah rutin memberi pelatihan," sambung Yudha.

Pelatihan di BLK Wonojati biasanya digelar empat angkatan dalam setahun. Satu angkatan berisi 20 calon PMI. Selain itu. pelatihan untuk PMI tidak murah. Satu pekerja biasanya membutuhkan budget Rp 7 juta sampai Rp 8 juta, sehingga pemkot hanya memberi info kepada calon PMI agar bisa mengikuti pelatihan melalui BLK.

Yudha menambahkan, ada pula kesempatan bekerja di dalam negeri. Misalnya pekerja borongan atau buruh di pabrik rokok. Untuk meningkatkan kompetensi masyarakat dalam mencari pekerjaan, pemkot rutin menggelar pelatihan.

Salah satunya pelatihan pijat tradisional kepada tunanetra. Kemudian pelatihan olahan pangan. "Setelah mendapat pelatihan, calon pekerja biasanya bisa langsung membuka lapak sendiri atau berwirausaha," tandasnya.

Di pihak lain, Sekretaris Direktorat Pengembangan Karier dan Alumni (DPKA) Universitas Brawijaya (UB) Muamar Khadafi SKom MM mengatakan, keterserapan lulusan UB masih 69,2 persen.

Itu berdasar profil lulusan tahun 2024. Sementara 12,3 persennya memilih berwirausaha dan 18,5 persen studi lanjut. “Masa tunggu mereka untuk bekerja rata-rata paling lama setahun,” ujar Khadafi.

Menurutnya, waktu masa tunggu itu biasa digunakan alumni untuk magang. Sembari melatih skill dan tetap mendapat insentif, baginya magang semacam itu juga bisa membuka peluang kerja di tempat magang. Pihaknya juga terus berusaha meningkatkan keterserapan kerja alumni UB dengan banyak membuka peluang kerja sama.

Mulai dari industri hingga instansi daerah, nasional, bahkan internasional. Dengan mengoptimalkan program magang di kampus, dia melanjutkan, harapannya keterserapan kerja bisa semakin meningkat karena para alumni sudah dibekali ilmu bekerja langsung di industri sesuai bidang ilmunya. (aff/mel/dan)

Editor : A. Nugroho
#DPMPTSP #s1 #bps #malang