MALANG KOTA – Ancaman yang mengintai musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini berbeda dibanding sebelumnya. Tak hanya dibayang-bayangi kemacetan arus lalu lintas (lalin), namun juga bencana alam.
Selasa lalu (9/12), Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menggelar rapat koordinasi untuk mengantisipasi ancaman macet dan bencana. Selain mengundang Polresta Malang Kota, koordinasi tersebut juga menghadirkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra menjelaskan, persiapan menjelang Nataru dilakukan rutin setiap tahunnya. Hanya saja pada 2025, ada atensi khusus dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI tentang risiko bencana alam.
Oleh karena itu, pemkot diminta fokus mengantisipasi macet sekaligus mewaspadai bencana.
”Berdasar (prakiraan) BMKG, Desember ini merupakan puncak musim hujan, sehingga perlu ditambah kewaspadaan. Terutama karena kondisi jalan yang dipengaruhi curah hujan cukup tinggi,” terang Jaya.
Rapat koordinasi mengeluarkan peta titik-titik rawan pohon tumbang dan banjir. Empat titik rawan banjir antara lain Jalan Galunggung, Jalan Letjen Sutoyo, Letjen S. Parman, dan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat).
Adapun empat titik rawan pohon tumbang adalah Jalan Veteran, Jalan Danau Jonge, Jalan Ki Ageng Gribig, dan Jalan Mayjen Sungkono. ”Titik rawan banjir dan gangguan alam lainnya akan dipantau secara khusus. Jika terjadi kondisi darurat, rekayasa lalu lintas dapat diterapkan secara situasional,” paparnya.
Selain bencana alam, dia melanjutkan, ada juga potensi kepadatan yang disebabkan pengerjaan proyek. Jaya mencontohkan pengerjaan drainase di Jalan Soekarno-Hatta. Kemudian perbaikan Jembatan Embong Brantas di Jalan Gatot Subroto. "Kami berharap sebelum Nataru proyek itu sudah selesai," imbuhnya.
Lebih lanjut dari tren tahun sebelumnya, titik yang diperkirakan akan mengalami lonjakan kendaraan adalah Kajoetangan Heritage. Pusat perbelanjaan seperti Mal Olympic Garden (MOG) dan Malang Town Square (Matos) juga berpotensi dipadati pengunjung. Demikian juga jalur utama masuk Kota Malang yang sering kali macet.
Dishub memperkirakan ada peningkatan kendaraan hingga 10 persen dibanding hari biasa. ”Belum ada rencana penutupan jalan di koridor utama Kajoetangan. Tetapi nanti akan ada pengaturan petugas untuk menjaga mobilitas warga,” tandas Jaya.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanngani Siraduhitta sepakat dengan pemetaan rawan bencana selama Nataru. Dengan cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun, keamanan wisatawan juga perlu diperhatikan.
Amithya menekankan, masa liburan jangan sampai menjadi tragedi baik warga Kota Malang maupun wisatawan asal luar kota. Sehingga harus dilakukan mitigasi sedini mungkin. "Pemkot Malang harus mulai memperhatikan pohon-pohon yang rawan tumbang. Kami akan urai karena keselamatan wisatawan menjadi nomor satu," tandasnya.
Senada dengan dishub, aparat kepolisian juga mulai melakukan persiapan untuk Operasi Lilin Semeru 2025. Operasi tersebut berlangsung sejak 20 Desember 2025 sampai 2 Januari 2026.
Kasatlantas Polresta Malang Kota Kompol Agung Fitransyah menyampaikan, pihaknya sudah menggelar koordinasi untuk persiapan Nataru. Koordinasi itu digelar di Aula Sanika Satyawada Polresta Malang Kota. Ada perwakilan dari lintas sektor yang hadir.
Selain mewaspadai potensi bencana, pihaknya juga mewaspadai lokasi-lokasi yang rawan macet. Misalnya di jalan utama seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Satsui Tubun (Kacuk), dan Jalan Gatot Subroto.
Untuk memantau arus lalin dan pergerakan masyarakat, kepolisian mendirikan beberapa pos. Terdiri atas lima pospam difungsikan memantau arus lalu lintas. Meliputi pos yang berada di dekat Exit Tol Madyopuro, Jalan Basuki Rahmat (dekat Gereja Kayutangan), Jalan Satsui Tubun (Kacuk), Jalan Soekarno-Hatta (Soehatt), serta Jalan A. Yani.
Lalu ada satu posyan yang khusus memantau tempat peribadatan. Lokasinya di Jalan Buring, dekat Gereja Katedral Ijen. Kemudian dua pos pantau. Masing-masing di dekat Jembatan Kedungkandang dan di Jalan Raya Balearjosari.
”Lintas sektor lainnya ada dinkes yang menyiagakan 5 rumah sakit rujukan, layanan darurat, tim RHA, dan tim EMPD di seluruh kecamatan,” sebut Agung. Hal itu untuk dukungan respons kesehatan cepat selama cuaca ekstrem sekaligus keramaian Nataru.
Sementara itu, PLN menyiapkan 14 posko, 581 personel, pemantauan cuaca WOFI, 57 titik SPKLU, serta SOP darurat. Tujuannya menjaga keandalan sistem kelistrikan dan mempercepat perbaikan apabila terjadi gangguan. Lalu DLH menyiagakan personel dan armada untuk menanggulangi jika ada pohon tumbang.
Terpisah, KBO Satlantas Polresta Malang Kota Iptu Saiful Husen menambahkan, dalam rangka mengurai kepadatan kendaraan, pihaknya sudah menyiapkan skema rekayasa lalin. Namun penerapannya disesuaikan kondisi di lapangan.
Misalnya jika terjadi kepadatan di Malang Utara seperti kawasan Jalan Ahmad Yani, diberlakukan pembatasan pada Tol Singosari. Kendaraan lantas dialihkan ke Tol Pakis atau Tol Madyopuro.
"Kendaraan juga bisa kami arahkan ke Jalan Borobudur," ucap Saiful. Rekayasa lalu lintas lain berupa penutupan U-turn di depan Taman Ken Dedes jika terjadi kepadatan di Jalan Raya Balearjosari sampai Jalan Raya Ahmad Yani. (adk/mel/dan)
Editor : A. Nugroho