Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Menelusuri Sejarah Situs Klandungan di Kota Malang yang Masih Diperdebatkan

Aditya Novrian • Kamis, 11 Desember 2025 | 17:08 WIB
BERSEJARAH: Kondisi ekskavasi situs Klandungan di Dusun Bendungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, yang dipagari kemarin siang.
BERSEJARAH: Kondisi ekskavasi situs Klandungan di Dusun Bendungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, yang dipagari kemarin siang.

Jadi Salah Satu Tempat Suci Masa Mataram Kuno

KEHENINGAN Dusun Bendungan, Desa Landungsari, Kecamatan Dau, seolah menyimpan sesuatu yang lebih tua dari pepohonan jeruk yang tumbuh subur di sekelilingnya. Jalan kampung yang perlahan menyempit membawa siapa saja yang melintas menuju area selatan dusun.

Kawasan yang menjadi gerbang menuju sebuah situs kuno yang namanya sudah lama beredar dari mulut ke mulut, Klandungan.

Akses menuju lokasi tidak mudah. Meski ada papan penunjuk arah sederhana, kendaraan roda empat tak bisa melaju hingga dekat situs. Pengunjung harus menitipkan mobilnya di sekitar pasar atau lapangan. Lalu berjalan kaki atau naik motor menembus perkebunan.

Di antara rimbunnya daun jeruk yang melambai pelan diterpa angin, sebuah bendera merah putih kecil menjadi penanda paling jelas. Di sanalah situs itu berada. Sunyi, terpencil, dan menyimpan misteri.

Sebuah pagar bambu berdiri mengelilingi area inti. Pada salah satu sudut pagar terpampang tulisan ”Selain yang Berkepentingan Dilarang Masuk.” Meski demikian, dari balik pagar tak terlihat hiruk pikuk aktivitas.

Hanya ada enam lubang ekskavasi lama. Kedalamannya tak sampai satu meter. Di dasar lubang-lubang itulah batu bata kuno tersusun. Berukuran sekitar 5 x 8 sentimeter, jauh lebih kecil dari bata modern.

Di sisi barat, tiga tumpukan bata lain yang lebih kecil mempertegas bahwa tanah ini pernah menyimpan bangunan atau setidaknya struktur tertentu yang kini tinggal serpihannya. Warga sekitar menamai tempat ini Situs Balekambang.

Sejarawan Dwi Cahyono mencoba memaknai penamaannya. ”Bale artinya bangunan besar, Kambang berarti dikelilingi air,” tuturnya.

Penjelasan itu bukan hanya permainan kata. Kontur tanah situs ini berupa gumuk. Bukit kecil yang diapit dua aliran Sungai Metro di utara dan selatan. Sungai itu mengalir jauh ke selatan Malang dan diyakini berhulu di Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau.

Dwi juga menjelaskan kawasan itu dulunya merupakan persawahan yang kini mengering. Sebelum kawasan situs dibersihkan pada 2015, tanah ini tertutup ilalang tinggi dan rimbunan pohon pisang. Namun, warga sesungguhnya sudah mengetahui adanya sesuatu yang tersembunyi.

Ada yang melihat susunan bata kuno muncul di permukaan tanah setelah hujan. Ada pula yang, saat menggali sumur atau septic tank, menemukan lapisan bata yang tersusun rapi di dalam tanah.

Dugaan mengenai apa sebenarnya Klandungan dulu masih terus diperdebatkan. Sebagian menyebutnya permukiman kuno. Sebagian lagi menduga kawasan itu merupakan tempat suci umat Hindu sekte Saiwa. Hal itu didukung oleh penemuan arca Ganesha yang kini disimpan seorang warga.

”Kalau hanya satu arca, biasanya simbol pelindung kawasan. Tapi kalau nanti ditemukan lebih dari satu, itu pertanda adanya tempat peribadatan,” ujar Dwi.

Ekskavasi berikutnya menjadi penentu terkuat apakah dugaan itu benar adanya. Yang menarik, nama Klandungan tercatat dalam empat prasasti kuno. Yang pertama adalah Prasasti Kanuruhan B atau Wurandungan dari tahun 944 Masehi, berupa tujuh lempeng tembaga dari masa Mpu Sindok di era Mataram Kuno.

Prasasti itu menyebut adanya lima tempat suci di Malang Raya dan salah satunya berada di Klandungan.

Tiga prasasti lainnya adalah Prasasti Marinci atau Ukir Negara, dari periode akhir Kerajaan Kadiri hingga awal Majapahit pada masa Hayam Wuruk. Semuanya menguatkan posisi Klandungan sebagai desa perdikan. Wilayah bebas upeti yang biasanya memiliki bangunan suci di dalamnya.

Namun fakta bahwa prasasti itu menetapkan Klandungan sebagai desa perdikan justru membuka tafsir bahwa wilayah ini sudah eksis jauh lebih lama. Yakni pada masa Kanjuruhan masih menjadi permukiman biasa.

Petunjuk masa prasejarah sendiri tak terlihat karena permukiman era itu berada lebih ke barat. Mendekati kawasan Kota Batu sekarang.

Tanah Klandungan seperti sebuah buku besar yang baru dibuka pada halaman-halaman awalnya. Temuan bata dan arca hanyalah fragmen kecil dari kisah yang tersembunyi. Ekskavasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada 2026 diharapkan dapat menyingkap lebih banyak jejak yang masih terkubur.

Untuk saat ini, yang tersisa hanyalah gumuk sunyi di tengah kebun jeruk. Diam, namun penuh cerita yang menunggu digali kembali. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#mataram kuno #kecamatan dau #situs sejarah #malang