MALANG KOTA – Optimisme warga terhadap kondisi ekonomi kembali tertekan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada November lalu tercatat 159,9 persen. Turun dua poin dibanding Oktober yang masih di angka 161,5 persen.
Pelemahan ini juga diikuti turunnya Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) dari 149,6 persen menjadi 147,3 persen. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (IB) Malang Febrina menjelaskan, penyebab utama terjadi pada dua komponen penting. Yakni indeks penghasilan dan indeks ketersediaan lapangan kerja. Keduanya sama-sama turun signifikan.
”Indeks penghasilan terkoreksi 3,3 poin dibanding bulan sebelumnya," ujarnya. Pada November, indeks penghasilan berada di angka 151,0 persen, sedangkan Oktober mencapai 154,3 persen. Kondisi serupa terlihat pada indeks ketersediaan lapangan kerja yang merosot 4,2 poin dari 146,2 persen menjadi hanya 142,0 persen.
Penurunan ini dinilai sebagai sinyal perlambatan ekonomi. Pakar Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Joko Budi Santoso menegaskan, pemerintah daerah harus segera mengambil langkah cepat. Ia menyebut percepatan penyerapan belanja daerah, terutama di sektor padat karya, dapat membantu menggerakkan ekonomi masyarakat.
”Di tengah perlambatan investasi, APBD menjadi motor utama untuk menstimulus perekonomian,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga komoditas pangan agar daya beli warga tidak tertekan oleh inflasi.
Menurut Joko, bantuan sosial (bansos) dapat menjadi bantalan jangka pendek untuk menjaga daya beli. Meskipun sifatnya temporer, bansos mampu menahan penurunan konsumsi yang berlebihan. Ia menilai, masyarakat kini mulai menahan belanja barang-barang tahan lama (durable goods) dan hanya mengutamakan kebutuhan pokok.
Untuk mengurangi tekanan, pemerintah daerah bisa menghadirkan program yang langsung menurunkan beban pengeluaran masyarakat, misalnya subsidi transportasi. ”Transportasi itu bersentuhan dengan masyarakat setiap hari. Jika disubsidi, efeknya terasa luas,” ucapnya. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho