MALANG KOTA – Upaya Pemerintah Kota Malang mewujudkan ”Kota Antibanjir” terhambat. Master plan drainase sudah rampung dan peta bencana disiapkan, tapi beberapa proyek untuk menanggulangi banjir terpaksa ditunda
Setidaknya ada empat proyek di dinas pekerjaan umum, penataan ruang, perumahan, dan kawasan permukiman (DPUPRPKP) yang masuk daftar tunda. Di antaranya kelanjutan drainase jacking (pengerukan bawah tanah) Jalan Bondowoso-Jalan Tidar, drainase di Jalan Letjen Sutoyo, hingga pembangunan dua bozem (selengkapnya baca grafis).
Keempat proyek tersebut sudah diplot untuk tahun depan. Namun ditunda akibat pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD). ”Untuk pembangunan saluran drainase di Jalan Letjen Sutoyo dan Jalan Bondowoso, kami masih menunggu dari pemerintah pusat. Pengadaannya di pusat,” ujar kepala DPUPRPKP Kota Malang R. Dandung Djulharjanto kemarin (13/12).
Drainase di Letjen Sutoyo nantinya sepanjang 1,2 kilo meter. Sementara di Jalan Bondowoso sampai Jalan Tidar sepanjang 1,3 kilometer. Jika ditotal kebutuhan dana untuk dua saluran ini mencapai Rp 145 miliar. Namun biayanya ditanggung Bank Dunia.
Ada pula kebutuhan bozem. Lokasinya di kawasan Bareng dan Sawojajar. Dengan adanya bozem, pemkot memprediksi banjir yang tereduksi bisa mencapai 80 persen. Rencana penambahan dua bozem sudah dibahas sejak 2023 lalu, namun belum terealisasi sampai sekarang karena ketersediaan anggaran.
Selain proyek antibanjir, program fisik lainnya yang terdampak pemangkasan TKD ada di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang. Terutama proyek pengelolaan sampah. Dalam pengelolaan sampah, ada TPS yang tersebar di 57 kelurahan. Semuanya membutuhkan pemeliharaan, bahkan ada yang harus diperbaiki. Berdasar data DLH, terdapat empat TPS yang butuh perbaikan. Di antaranya TPS di Jalan Gajayana, TPS Rampalcelaket, TPS Tunggulwulung, dan TPS Muria.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala DLH Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang menyampaikan, pihaknya masih mengupayakan solusi lain agar TPS Jalan Gajayana bisa diperbaiki.
Setelah peluang mendapatkan dana APBD tertutup, pihaknya akan menggandeng perusahaan. Yakni melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR). ”Program lainnya usulan dari musrenbang,” sebut Raymond.
Bidang olahraga, proyek penting yang tertunda adalah pembangunan lintasan sepatu roda di GOR Ken Arok. Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan rehabilitasi lintasan sepatu roda sejak 2024 lalu. ”Kami juga sudah rampung menyusun detail engineering design (DED),” ungkap Baihaqi.
Dalam DED itu, dia melanjutkan, lintasan olahraga rencananya dilebarkan. Ada tambahan pagar pengaman, ruang ganti, tribun, hingga lampu penerangan. Karena sudah dipenuhi rumput-rumput, disporapar juga akan melakukan pembersihan.
Jika ditotal, biaya yang diperlukan untuk rehabilitasi lintasan sepatu roda mencapai Rp 2,5 miliar. ”Sebenarnya kami usulkan tahun depan, tapi ternyata belum bisa,” sambung Baihaqi.
Hambatan pengerjaan proyek penting juga dialami dinas perhubungan (dishub). Salah satunya kelanjutan gedung parkir Kajoetangan heritage. Pembangunan gedung tersebut berlangsung tahun ini dan akan dilanjutkan tahun depan. Namun anggaran tahun depan dipangkas, sehingga tidak bisa melanjutkan proyek gedung parkir.
Kepala Dishub Kota Malang Widjaja Saleh Putra menyampaikan, rencana awal pembangunan parkir bertingkat adalah empat lantai. Namun dilakukan revisi karena penyesuaian anggaran pada tahun ini. Untuk kelanjutannya, Jaya belum bisa memastikan kapan.
Pada 2026, sementara ini belum ada rencana penambahan lantai karena tidak ada anggaran. ”Sewaktu-waktu bisa dilakukan penambahan, karena fondasi sudah kami rancang untuk empat lantai,” tuturnya. Dengan perubahan rencana, pembangunan itu berdampak pada kapasitas kantong parkir.
Seharusnya bisa menampung lebih dari 200 mobil, sementara saat ini baru 80 mobil. Hal yang sama juga dialami dinas koperasi perindustrian dan perdagangan (diskopindag). Instansi tersebut bertanggung jawab mengelola dan merawat seluruh pasar rakyat.
Pada 2021 lalu, anggaran perbaikan pasar mencapai Rp 7 miliar. Tahun depan hanya Rp 1,5 miliar. Padahal masih ada beberapa pasar yang membutuhkan perawatan cukup besar.
Kepala Diskopindag Kota Malang Eko Sri Yuliadi menerangkan, dengan anggaran Rp 1,5 miliar, pihaknya hanya dapat melakukan perbaikan kecil. Misalnya memperbaiki talang rusak dan drainase. ”Anggaran itu (Rp 1,5 miliar) dibagi kepada 10 pasar,” ujar Eko.
Dengan demikian, masing-masing pasar hanya kebagian sekitar Rp 150 juta. Pasar yang akan mendapatkan perbaikan seperti Pasar Madyopuro, Pasar Tawangmangu, sampai Pasar Bareng. ”Kami menyesuaikan anggaran. Melihat hanya Rp 1,5 miliar cukup digunakan untuk perawatan kecil saja,” terang Eko.
Di lain pihak, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nurakhmadi menyampaikan, belum semua proyek fisik bisa terakomodasi karena beberapa faktor. Antara lain dana TKD turun, belanja pegawai pemkot yangmeningkat hingga 49,5 persen, serta adanya program Rp 50 juta untuk RT.
Oleh karena itu, ada beberapa proyek yang diupayakan untuk dikerjakan melalui anggaran lain. Misalnya proyek drainase. ”Kalau saya tanya ke praktisi dan PU, jika ditotal sesuai masterplan, kebutuhan untuk drainase saja Rp 1,8 triliun,” beber Dito.
Dengan nominal yang fantastis, pemkot mengupayakan pengajuan bantuan ke pemerintah pusat hingga pihak lain. Salah satunya Bank Dunia. Tujuannya mencicil pembiayaan. Selain Bank Dunia, Dito terus mendorong agar pemkot mencari CSR atau menggunakan model pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Dengan demikian, proyek atau program yang belum terakomodasi APBD, tetap bisa terealisasi. ”Bisa juga membangun kerja sama dengan perguruan tinggi,” katanya.
Selain drainase, Dito mendengar pemkot sedang menjajaki kerja sama dengan perguruan tinggi untuk infrastruktur pengelolaan sampah.
”Salah satunya pembuatan insinerator skala kecil untuk TPS,” terang legislator Fraksi Nasdem itu.
Menurut dia, penjajakan serupa bisa dilakukan untuk infrastruktur lain seperti fasilitas olahraga. ”Untuk fasilitas olahraga, mungkin bisa menggandeng perusahaan. Sebagai timbal balik, ada branding perusahaan di fasilitas tersebut,” pungkasnya. (mel/adk/dan)
Editor : A. Nugroho