MALANG KOTA - Rangkaian peringatan hari antikorupsi sedunia (Hakordia) berakhir pada Jumat lalu (12/12). Acara tersebut jadi pelecut semangat masyarakat Bumi Arema untuk memerangi korupsi. Dalam perayaan Hakordia tahun ini, Inspektorat Kota Malang menghadirkan deretan stan pelayanan publik, lomba poster dan video pendek antikorupsi, hingga senam bersama.
Puncak peringatan Hakordia 2025 di Kota Malang dilakukan dengan penandatanganan gerakan Satukan Aksi, Basmi Korupsi. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang langsung memimpin acara itu. Lalu terdapat pelayanan Samsat Kota Malang, PMI Kota Malang, hingga Imigrasi. Lalu, pelayanan dari Dispendukcapil, Bapenda, serta Inspektorat Daerah dan PAKSI. Ada juga tenant dari Dinas Kesehatan, Disnaker, Dinas Pendidikan, dan PMPTSP.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengatakan, yang merasakan dampak dari korupsi adalah masyarakat secara langsung. Seperti pembangunan terhambat, kualitas hidup masyarakat turun, hingga ketidakadilan yang meluas. Kunci memerangi korupsi bisa dimaksimalkan dengan menjaga integritas, komitmen, kendali diri, pengawasan, dan akuntabilitas.
”Untuk itu seluruh jajaran pemerintah (Kota Malang) harus aktif mengajak masyarakat terlibat dalam gerakan antikorupsi, bentuknya bisa dengan lingkup terkecil pengawasan sampai orang terdekat,” papar pria yang akrab disapa Pak Mbois itu. Dia juga akan memaksimalkan pencegahan korupsi melalui pendidikan. Saat ini, setiap sekolah sudah ada pelajaran anti-korupsi dengan pembelajaran non-formal agar siswa belajar lebih rileks dan mudah menyerap materi.
Dalam peringatan Hakordia tahun ini juga berlangsung lomba antar siswa. Mereka ikut lomba membuat video pendek dan lomba poster secara online. Pesertanya merupakan perwakilan dari seluruh SMP di Kota Malang dengan total 69 siswa.
Plt Inspektur Kota Malang Dwi Rahayu menuturkan, salah satu langkah kampanye antikorupsi yang efektif melalui lomba. Menurutnya, peserta didik lebih menghayati nilai-nilai antikorupsi dari karya yang dibuat. Dia percaya materi antikorupsi itu akan terasa lebih luas efeknya.
”Poster dan video yang diunggah mereka untuk lomba, secara massif juga dilihat oleh masyarakat,” lanjut Dwi. Dia berharap setelah Hakordia selesai, kesadaran masyarakat terhadap kebiasaan korupsi bisa ditekan lagi. Termasuk dari hal terkecil yang sering diremehkan seperti menyontek saat ujian. (aff/gp)
Editor : A. Nugroho