Kini Hanya Tersisa Gapura Selamat Datang
JEJAK Terminal Gadang kini hanya bisa dibaca dari sisa-sisa yang nyaris luput dari perhatian. Di tepi Jalan Raya Gadang sisi timur, tepat sebelum perempatan yang selalu ramai kendaraan, sebuah gapura berdiri sendiri. Tulisan “Selamat Datang di Terminal Gadang” masih jelas terbaca, meski area di baliknya telah lama sunyi.
Tidak ada lagi deru mesin bus, teriakan kernet memanggil penumpang, atau barisan angkot yang dulu saling berebut ruang. Terminal yang pernah menjadi denyut nadi transportasi Malang Selatan dan Barat itu telah menghilang. Kini hanya menyisakan kenangan dan ruang kosong yang tertutup seng proyek mangkrak.
Sebelum dipindahkan ke Terminal Hamid Rusdi di Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang, Terminal Gadang adalah simpul penting. Letaknya berdampingan dengan Pasar Induk Gadang (PIG), membuat arus manusia dan barang nyaris tanpa jeda.
Pagi hari, penumpang dari Dampit, Turen, Kepanjen, hingga Sumberpucung memadati terminal. Sore hari, arus balik memenuhi jalur yang sama. Kini kawasan yang dulu penuh denyut itu hanya menyisakan kanopi kecil bekas tempat tunggu penumpang dan beberapa kios yang tertutup debu waktu.
Karena seluruh area dipagar seng, jelas tidak ada lagi angkutan yang benar-benar masuk ke dalam bekas terminal. Namun kehidupan transportasi tak sepenuhnya pergi. Beberapa angkot biru, terutama jalur Arjosari–Mergosono–Gadang (AMG), masih parkir dan ngetem di sekitar area lama.
Mereka berjajar di depan gerbang gudang Bulog Kota Malang atau di terminal bayangan yang tumbuh di sekitar perempatan Gadang. Di situlah denyut kecil itu bertahan.
Galih, 40, sopir angkot AMG, memilih menunggu penumpang di kawasan tersebut. Menurutnya, jarak menjadi alasan utama. ”Terlalu jauh kalau harus ke (Terminal) Hamid Rusdi. Di sana juga jauh lebih sepi,” katanya.
Bagi para sopir, kebiasaan dan kebutuhan penumpang lebih menentukan daripada aturan di atas kertas. Mereka mengikuti arus yang ada, bukan peta resmi.
Terminal Gadang resmi dinonaktifkan pada 2009 dan fungsinya digantikan oleh Terminal Hamid Rusdi. Namun perubahan itu tidak serta-merta mengalihkan kebiasaan puluhan tahun. Galih mengenang sebelum ditutup hampir semua angkutan pasti masuk ke terminal.
Bus Dampit dan Lumajang, bahkan bus lintas Surabaya–Malang–Blitar, semuanya berhenti di Terminal Gadang. Sekarang, bus-bus besar seperti PO Bagong, Harapan Baru, Tentrem, Madjoe Berlian, dan Citra Wisata Mandiri jurusan Malang-Blitar–Tulungagung–Trenggalek hanya melintas di depannya.
Sementara bus ke arah timur seperti Santoso, Malinda, Al Akbar, Parikesit, Putra Mulya, hingga Vios Trans melayani penumpang di terminal bayangan. Jika ditarik lebih jauh, Terminal Gadang bukanlah bangunan yang tiba-tiba hadir lalu pergi.
Ia lahir pada 1988 bagian dari program Tata Transportasi Lokal (Tatralok) Pemkot Malang. Kala itu, terminal-terminal yang berada di pusat kota dipindahkan ke pinggiran. Bersamaan dengan Gadang, dibangun pula Terminal Arjosari, Landungsari, Mulyorejo, dan Madyopuro.
Sejarawan Kota Malang Agung Harjaya Buana menyebut kebijakan itu sebagai upaya menata kota sekaligus mengurai kepadatan. Sebelum Terminal Gadang berdiri, bus dan angkot ke arah timur dan barat mengakhiri perjalanan di berbagai titik. ”Seperti Terminal Pattimura dekat Pasar Comboran atau di depan Stasiun Trem Jagalan,” terang Agung.
Secara historis, Kota Malang memang kerap memindahkan terminal besarnya. Dari Pecinan, Sawahan, Pattimura, hingga Arjosari dan Gadang. Namun satu pola selalu sama, terminal tak pernah jauh dari pusat ekonomi.
Terminal Pecinan berada di sekitar Pasar Besar, Pattimura dekat Pasar Klojen, dan Gadang berdampingan dengan PIG. Kedekatan itu bukan kebetulan. Terminal dirancang untuk mempermudah akses perdagangan. Arus penumpang mengikuti jam operasional pasar, menciptakan siklus yang hidup dan saling menguatkan.
Ketika Terminal Gadang dipindahkan ke Hamid Rusdi, menurut Agung, sistem yang sudah berjalan puluhan tahun itu seolah diputus. Dampaknya terasa hingga kini. ”Terminal baru sepi, sementara terminal bayangan tumbuh di sekitar lokasi lama,” jelas Agung.
Karena itulah, meski petugas Dishub Kota Malang berkali-kali melakukan penertiban, kebiasaan sulit diubah. Sopir tetap mengambil penumpang di sekitar Gadang.
Terminal lama mungkin telah lenyap secara fisik, tetapi fungsinya masih hidup dalam ingatan, kebiasaan, dan rute harian para sopir dan penumpang. Di balik gapura yang berdiri sendiri itu, Terminal Gadang tetap ada setidaknya sebagai jejak yang menolak benar-benar pergi. (*/biy)
Editor : A. Nugroho