Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Relawan Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya Tangani Mental Korban Bencana di Agam, Sumatera Barat

Mahmudan • Rabu, 24 Desember 2025 | 16:17 WIB
BERJIWA SOSIAL: Ketua tim relawan UMM-UB bersama warga korban banjir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.
BERJIWA SOSIAL: Ketua tim relawan UMM-UB bersama warga korban banjir di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Memori Keganasan Banjir Selalu Muncul Setiap Malam

MALAM bagi kebanyakan orang merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi warga Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Ketika matahari terbenam dan langit mulai gelap, sebagian dari mereka mengingat kembali suara gemuruh air yang meluluhlantakkan permukiman.

Malam itu, 25 November lalu, banjir besar menyapu hampir seluruh harta benda mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap, per 22 Desember lalu tercatat 1.106 korban jiwa.

Trauma warga korban bencana itu ditangkap oleh tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ketika bertugas di daerah terdampak.

Keberadaan tim UMM dan UB bertujuan mengikis memori kelam yang masih dirasakan oleh warga. Dipimpin dr Zuhrotun Ulya SpKJ, tim melakukan penanganan psikosial di beberapa titik terdampak bencana di Kabupaten Agam.

Penanganan dimulai pada 7-19 Desember lalu. Tahapan awal yang dilakukan adalah assessment kondisi mental korban terdampak. ”Kondisinyabisa dilihat dari tingkah laku mereka maupun dengan wawancara langsung dengan korban,” ujar Zuhrotun mengawali wawancara dengan Jawa Pos Radar Malang kemarin.

Setelah assessment, kemudian tim melakukan intervensi sesuai kondisi mental korban terdampak bencana. Dari hasil assessment, ditemui berbagai kondisi mental. Mulai stres ringan hingga depresi berat.

Stres ringan yang dialami korban terdampak misalnya ketika malam hari, timbul kecemasan. Mereka masih sering mengingat memori pada saat banjir besar melanda. Sedangkan yang depresi berat, ada yang sampai ingin berniat bunuh diri.

"Kenapa mereka lebih takut malam hari?Karena saat itu tidak ada aktivitas, memori mereka kemudian terisi peristiwa bencana banjir. Ada juga yang masih teriak tolong-tolong," jelas dokter Uul, sapaan akrab Zuhrotun Ulya.

Untuk stres ringan, penanganan yang diberikan lebih banyak mengajak bicara korban. Tim relawan memberikan pemahaman jika kondisi bencana akan segera terlewati. Setelah mereka menerima, kemudian ditumbuhkan semangat untuk memulai hidup dari awal dan tak mudah menyerah.

Sedangkan untuk depresi berat, penanganan yang dilakukan lebih kompleks. Pasien harus mendapatkan obat-obatan rutin setiap hari. Kemudian orang terdekat harus memantau perilaku pasien tersebut. Sebab dikhawatirkan melakukan hal yang berbahaya.

”Kalau yang depresi itu malah berpikir ingin tidak selamat.Lebih baik hanyut terbawa banjir bersama rumah karena tidak sanggup melihat harta bendanya habis dan melewati fase berat,” urai Uul. Meskipun ada korban dalam kondisi mental yang sangat terpuruk, hingga saat ini situasi terkendali dengan bantuan obat dan kontrol dari orang terdekat.

Selain depresi berat, kondisi paling memilukan yang ditemui Uul adalah ketika ibu hamil kehilangan dua anaknya. Saat kejadian, ada satu ibu hamil yang berusaha menyelamatkan tiga anaknya. Satu anak ditaruh di atas kepalanya, sedangkan dua anak lainnya digandeng di tangan kanan dan kiri.

Nahas, dua anak yang di kanan dan kiri itu terbawa arus banjir. Sehingga hampir dipastikan tidak selamat. Ibu tersebut hanya bisa menyelamatkan satu orang anak yang masih bayi di atas kepalanya. Satu anak lagi yang masih di kandungan.

”Pasca-banjir, tentunya ibu tersebut mengalami stres berat, karena harus kehilangan dua anaknya. Saat itu menjadi tugas kami agar mentalnya tetap stabil, supaya anak yang di kandungan tetap aman,” papar dokter berusia 38 tahun tersebut.

Berkat peran Uul dan timnya, ibu tersebut mulai menerima keadaan, meski proses pemulihannya membutuhkan waktu yang sangat lama.

Untuk stres ringan dan depresi, sebagian besar dialami masyarakat dewasa hingga lanjut usia (lansia). Meskipun demikian, anak-anak juga perlu diperhatikan kesehatan mentalnya. Untuk itu, ada program khusus trauma healing kepada mereka.

Trauma healing dilakukan melalui pendekatan psikososial berbasis permainan, kemudian dilakukan pengamatan ekspresi non-verbal. Bentuk kegiatan tidak terbatas pada game. Bisa dilakukan dengan storytelling, menggambar, mewarnai, bermain peran, permainan boneka tangan dan interaksi dengan para relawan.

"Pada trauma healing itu, anak yang tampak tidak aktif bermain kemudian dilakukan pendekatan personal. Anak diberi tempat dan waktu yang aman untuk mengungkapkan kondisi yang dirasakan sebenarnya," ungkap dokter yang bertugas di Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran UB itu.

Satu lagi pihak yang butuh diperhatikan kondisi mentalnya adalah tenaga kesehatan (nakes). Mereka adalah korban, tetapi dalam keadaan darurat, tetap dipaksa menjalani tugas sebagai tenaga medis. Tim relawan juga melakukan assessment kepada mereka yang bertugas.

Dari hasil penilaian itu, banyak nakes yang dalam kondisi stres berat. "Kami menemukantujuh tenaga medis yang rumahnya tersapu banjir, tetapi mereka harus memperhatikan kondisi korban yang lain. Kami datang untuk mereka dengan meringankan beban dan kondisi mental tenaga medis yang terdampak," pungkas Uul. (*/dan)

Editor : A. Nugroho
#universitas muhammadiyah malang (umm) #BNPB #malang #Universitas Brawijaya (UB)