MALANG KOTA – Anggaran untuk ruang terbuka hijau (RTH) mengalami penyusutan signifikan. Tahun 2026, pos belanja untuk pemeliharaan dan rehabilitasi RTH hanya dialokasikan sebesar Rp 250 juta. Jauh menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp 5 miliar hingga Rp 7 miliar.
Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang mengatakan, penurunan anggaran membuat pihaknya harus memprioritaskan perawatan RTH yang ada.
”Karena anggaran tahun depan semakin sedikit, kami lebih fokus melakukan perawatan pada RTH," ujar Raymond, Senin (22/12). Ia mencontohkan, perempesan pohon di taman-taman akan tetap dilakukan. Sementara perbaikan fasilitas seperti kursi, papan informasi, atau sarana bermain ditunda.
Jumlah RTH di Kota Malang cukup banyak, mencakup 88 taman, sembilan hutan kota, serta RTH di area pemakaman seperti Makam Bethek, TMP Pahlawan Trip, Makam Suropati, dan Makam Gading. Dengan kondisi anggaran yang terbatas, DLH pun gencar menjajaki kerja sama dengan pihak swasta melalui program corporate social responsibility (CSR).
Salah satu contohnya, revitalisasi Alun-Alun Merdeka yang mendapatkan dukungan CSR dari Bank Jatim senilai Rp 5 miliar. Raymond menyebut, pihaknya tengah mengajukan proposal tambahan kepada Bank Jatim untuk menjaga Alun-Alun Merdeka tetap terawat. Terutama bagian yang mulai menunjukkan kerusakan seperti kursi taman yang berkarat.
Selain itu, DLH juga membuka peluang kerja sama dengan perusahaan swasta untuk perawatan taman-taman di sepanjang Jalan Jakarta dan di belakang SPBU Jalan Bandung.
”Di taman belakang SPBU Jalan Bandung, ada videotron dan baliho. Kalau perusahaan mau memanfaatkannya untuk branding, mereka bisa menyediakan perawatan taman sebagai timbal balik," jelas Raymond.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlangsungan RTH di Kota Malang meski anggaran APBD terbatas. Pendekatan kolaboratif antara pemerintah dan swasta diharapkan mampu mempertahankan keindahan dan fungsi RTH bagi masyarakat. (mel/adn)
Editor : A. Nugroho