Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Volume Sampah di Kota Malang Diprediksi Meningkat 20 Ton Per Hari

Mahmudan • Jumat, 26 Desember 2025 | 16:37 WIB
MENUMPUK: Sampah di TPA Supit Urang, Mulyorejo, Kecamatan Sukun, terus bertambah setiap hari. Satu unit alat berat diterjunkan untuk menata tumpukan sampah.
MENUMPUK: Sampah di TPA Supit Urang, Mulyorejo, Kecamatan Sukun, terus bertambah setiap hari. Satu unit alat berat diterjunkan untuk menata tumpukan sampah.

MALANG KOTA – Volume sampah diperkirakan mengalami peningkatan pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Lonjakan mencapai 20 ton per hari. Jika hari biasa menghasilkan sampah 720 ton, selama nataru menjadi 740 ton per hari.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran mengatakan, kenaikan sampah terutama pada jenis domestik atau rumah tangga.

Biasanya menjadi penyumbang tertinggi dibanding destinasi wisata, kuliner maupun hotel. "Setiap tahun rata-rata kenaikan 20 ton, untuk Nataru tahun ini hampir sama," ujar Raymond kemarin.

Untuk mengatasi lonjakan itu, DLH menambah frekuensi pengangkutan sampah. Jika hari normal, rata-rata 160 atau 170 kali truk sampah masuk TPA Supit Urang. Pengangkutan mengandalkan 48 armada truk sampah. "Armada truk sampah tidak ditambah. Artinya petugas kami melakukan lembur atau menambah jadwal pengangkutan," terang Raymond.

Dia menyampaikan, Kecamatan Klojen dan Lowokwaru menjadi produksi sampah terbanyak dibanding kecamatan lain. Sebab, banyak destinasi wisata di Klojen. Sedangkan di Lowokwaru, dia mengatakan, lonjakan volume sampah akibat banyak mahasiswa yang menetap di sana.

"Sekarang kebiasaannya banyak mahasiswa beli makanan di online. Ini membuat sampah plastik bertambah," ungkapnya. Sedangkan untuk destinasi wisata, DLH memberikan perhatian khusus pada Kajoetangan heritage.

Jika hari normal, pengangkutan sampah dilakukan pada pukul 02.00 dini hari. Pada Nataru kali ini, dibuat lebih awal. "Saya sudah meminta petugas mulai melakukan pengangkutan sampah pada malam hari. Dengan pengunjung lebih banyak, volume sampah pasti meningkat," tutur Raymond.

Dia menambahkan, satu destinasi wisata yang tidak menyumbang sampah adalah Alun-alun Merdeka. Itu karena dalam tahap revitalisasi. Tak hanya sampah rumah tangga, jenis sampah organik juga akan bertambah.

Sebab menjelang Nataru, banyak dilakukan pemotongan atau merapikan pohon. Ini merupakan permintaan dari masyarakat. "Kalau dari pohon langsung kami jadikan pupuk kompos. Diolah di TPA Supit Urang," pungkas mantan sekretaris diskopindag itu. (adk/dan)

Editor : A. Nugroho
#Plh #DLH #malang #Nataru