Mulai Bingung untuk Membayar UKT
DI KAMAR kos yang tak terlalu luas, kegelisahan datang hampir setiap malam di benak mahasiswa rantau asal Aceh dan Sumatera. Layar ponsel menjadi satu-satunya penghubung dengan kampung halaman di Sumatera. Di sanalah kabar banjir, rumah terendam, dan harta benda hanyut terus berdatangan.
Bagi mahasiswa rantau, jarak ribuan kilometer terasa kian jauh ketika orang tua dan keluarga berjuang memulai hidup dari nol. Setiap hari, mahasiswa asal Sumatera yang sedang menempuh pendidikan di Malang hidup dalam kecemasan berlapis.
Mereka bukan hanya memikirkan keselamatan sanak keluarga, tetapi juga nasib sendiri. Banjir besar yang melanda kampung halaman membuat sumber penghidupan orang tua terhenti.
Dampaknya merembet hingga saat ini. Uang bulanan tersendat, kebutuhan harian terancam, dan kewajiban kuliah menunggu di depan mata. Kesulitan itu dirasakan bersama.
Mulai dari kebutuhan makan, membayar sewa kos, hingga persoalan paling pelik seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT). Keluhan demi keluhan akhirnya bermuara ke Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Malang. Dari pendataan yang dilakukan, tercatat sedikitnya 93 mahasiswa asal Sumatera terdampak langsung.
Mereka berasal dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dan tersebar di berbagai kampus di Malang. Mulai Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Merdeka (Unmer), hingga sejumlah kampus swasta lainnya.
Untuk urusan perut, situasi perlahan membaik. Bantuan datang dari berbagai arah. Warung makan yang membuka dapur gratis, paket sembako dari pemerintah maupun lembaga nirlaba, hingga solidaritas sesama mahasiswa.
”Di awal ada (mahasiswa) yang seminggu hanya makan mi karena tidak punya lagi uang saku. Alhamdulillah sekarang banyak bantuan yang masuk, sembako dan makan gratis,” ujar Alamsyah Gautama, perwakilan HMI Kota Malang.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga ikut menjadi penopang. Setidaknya, mahasiswa rantau mendapat satu kali makan setiap hari, meski hanya pada siang hari. Bantuan itu cukup menenangkan untuk sementara. Namun, kegelisahan belum sepenuhnya reda. Masalah lain justru mulai menghantui, pembayaran UKT seiring dimulainya semester baru.
”Kalau untuk makan masih bisa diatasi, sekarang adik-adik cemas membayar UKT. Karena setelah ini dimulai semester baru,” kata Alam, sapaan akrabnya.
Biaya UKT di Malang bukan angka kecil. Rata-rata mahasiswa harus menyiapkan dana Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per semester untuk kelompok terendah. Di banyak jurusan, nominalnya bisa mencapai Rp 5 juta sampai Rp 7 juta.
Angka itu belum termasuk jurusan tertentu seperti kedokteran dan bidang kesehatan lain yang biayanya jauh lebih tinggi. Bagi keluarga yang baru saja dilanda bencana, mengeluarkan jutaan rupiah terasa nyaris mustahil.
Orang tua di kampung halaman masih berkutat dengan lumpur, perabot rusak, dan rumah yang harus diperbaiki. Dalam kondisi seperti itu, biaya pendidikan anak di tanah rantau sering kali menjadi pilihan terakhir. Kekhawatiran itulah yang mendorong HMI Kota Malang bergerak lebih jauh.
Mereka menggelar audiensi dengan DPRD Kota Malang, meminta dewan memfasilitasi komunikasi dengan pihak kampus agar mahasiswa terdampak bencana mendapat keringanan, bahkan pembebasan UKT.
”Beruntung dewan menyambut baik permintaan dari kami. Tinggal saat ini menunggu realisasinya saja,” ujar mahasiswa UMM itu. Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Dari penelusuran sementara, sudah ada dua perguruan tinggi yang memberikan pembebasan UKT bagi mahasiswa asal Sumatera yang terdampak banjir, yakni Unmer dan UIN Malang.
Sementara itu, UM masih melakukan pendataan. Harapannya, kebijakan serupa bisa diikuti kampus lain. Sebab, tanpa keringanan UKT, ancaman putus kuliah sangat nyata.
”Kalau tidak ada keringanan UKT, besar kemungkinan mereka tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Orang tua dengan kondisi darurat saat ini, kemungkinan besar meminta anaknya balik ke kampung,” tutur Alam.
Data 93 mahasiswa yang dihimpun HMI diyakini belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Angka itu hanya mereka yang terdata dan berani melapor. ”Kami meyakini masih banyak yang belum terdata dan tentu mereka membutuhkan bantuan yang sama,” kata pria berusia 24 tahun tersebut.
Komunikasi dengan keluarga di Sumatera kini relatif lebih baik. Sebagian besar sudah bisa dihubungi, meski di beberapa daerah sinyal masih terbatas. Ada yang harus pergi ke pusat kota hanya untuk mengirim kabar singkat kepada anaknya di Malang.
Di tengah keterbatasan itu, harapan mahasiswa rantau kini bertumpu pada kampus mereka masing-masing. Di sanalah, nasib pendidikan mereka dipertaruhkan. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian