Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dua Titik Perhentian Bus Trans Jatim di Tlogomas dan Dinoyo Kota Malang Batal Digeser

Aditya Novrian • Jumat, 9 Januari 2026 | 10:18 WIB
SARPRAS: Bus Trans Jatim melintasi kawasan Dinoyo, Jalan MT Haryono kemarin (8/1). Halte di kawasan tersebut batal digeser.
SARPRAS: Bus Trans Jatim melintasi kawasan Dinoyo, Jalan MT Haryono kemarin (8/1). Halte di kawasan tersebut batal digeser.

MALANG KOTA – Rencana penggeseran titik henti Bus Trans Jatim di Tlogomas dan Dinoyo batal dilaksanakan. Pembatalan setelah Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jatim bertemu dengan perwakilan angkot, Rabu lalu (7/1).

Kepala Seksi Sarana Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Timur Cito Eko Yuli Saputro mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan perwakilan angkot. Tepatnya dari DPD Serikat Sopir Indonesia (SSI) Jawa Timur. ”Hasilnya, titik henti di Tlogomas dan depan Unisma (Dinoyo) batal digeser.Tetap berada di tempat semula," ujar Cito kemarin.

Demikian pula dengan titik henti lain, dia melanjutkan, sejauh ini tidak ada perubahan. Seluruh titik henti baik yang dalam bentuk rambu maupun shelter juga sudah rampung dipasang.

Cito memaparkan beberapa pertimbangan yang membuat dua titik henti itu batal digeser. Salah satunya dari sisi bangkitan penumpang. Berdasar data Dishub Jatim, titik henti di Dinoyo 1 dan 2 (Unisma), Tlogomas 1 dan 2, serta Raya Tlogomas banyak penumpang.

”Selain dari bangkitan penumpang, ada permintaan dari sejumlah pihak seperti mahasiswa dan komunitas pegiat transportasi umum di Malang,” sebut Cito.

Pertimbangan lainnya, dishub melihat kondisi di Kota Batu yang sudah saling melengkapi antara angkot dengan Bus Trans Jatim.Di Batu, angkot bisa menampung penumpang dari bus yang butuh transportasi menuju ke kawasan lebih kecil. Citooptimistis Kota Malang juga akan seperti Kota Batu.

Di lain pihak, perwakilan Komunitas Transport For Malang Wahyu StyoPratamamengapresiasi langkah yang sudah dilakukan Dishub Jatim. Di sisi lain, dia menyoroti titik henti berupa shelteryang perlu dilengkapi kanopi yang lebih lebar. "Kalau yang sekarang, penumpang rawan terkena hujan," terangnya.

Selain itu, Wahyu juga mendorong agar dishub lebih komunikatif. Terutama jika ada perubahan titik henti. Dia mengamati ada titik henti yang bergeser seperti di Ijen 1 yang sebelumnya dekat dengan Poltekkes menjadi ke dekat Bakorwil.

Kemudian titik henti di Stasiun Malang. Adanya pergeseran tersebut tidak dibarengi pemberitahuan. "Seharusnya diumumkan lewat media sosial resmi milik Trans Jatim, sehingga masyarakat tidak bingung," tuturnya.

Wahyu juga menyoroti Dishub Kota Malang yang masih berproses dalam melaksanakan integrasi antara angkot dengan Bus Trans Jatim. Karena tidak berjalan beriringan, alhasil rawan memicu konflik.

Senada dengan Wahyu, Ketua DPD SSI Jawa Timur Edi Sunarko menyampaikan, pihaknya masih menunggu kepastian integrasi antara Bus Trans Jatim dengan angkot. Hal tersebut seperti yang digadang-gadang Pemkot Malang sejak awal peresmian Bus Trans Jatim.

Sebab adanya Bus Trans Jatim juga memberikan dampak bagi para sopir angkot. Ada beberapa titik henti bus yang posisinya dirasa terlalu dekat. "Yang sempat kami ajukan untuk audiensi adalah titik henti di Tlogomas dan Dinoyo. Lalu titik henti di dekat Universitas Negeri Malang (UM) kampus 2,"  ungkap dia.

Di kawasan-kawasan itu, SSI sempat mengajukan perubahan karena ada lima trayek di sekitar Landungsari dan 2 trayek di Madyopuro yang terdampak. Setelah audiensi bersama Dishub Jatim, pihaknya bisa menerima. Namun, mereka tetap menagih janji program buy the service dari Pemkot Malang. (mel)

Editor : Aditya Novrian
#dinoyo #dishub #malang #ssi