MALANG KOTA – Sebanyak 408 ton beras disalurkan kepada masyarakat Kota Malang sepanjang 2025 melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Program tersebut digelar rutin di berbagai wilayah permukiman untuk menekan laju harga kebutuhan pokok.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan mengatakan, selama 2025 pihaknya menggelar GPM sebanyak 100 kali. Pelaksanaan terakhir berlangsung pada 31 Desember 2025.
”GPM menjadi salah satu strategi untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan pangan,” ujarnya kemarin kepada Jawa Pos Radar Malang.
Menurut Slamet, GPM mempermudah masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau. Program ini juga menjadi jalur distribusi pemerintah kepada warga. ”Masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke pasar, cukup datang ke lokasi GPM di lingkungannya,” katanya.
Tidak hanya beras, sejumlah komoditas lain juga disalurkan. Di antaranya gula pasir, telur ayam ras, daging ayam, cabai, bawang, hingga minyak goreng. Untuk beras, total distribusi mencapai 408 ton. Sementara gula pasir sebanyak 69 ton, telur ayam ras 33 ton, dan daging ayam sekitar 0,5 ton.
Distribusi hasil pertanian juga cukup tinggi. Tercatat bawang merah 4,5 ton, bawang putih 7,7 ton, cabai rawit 1,75 ton, dan cabai merah 1,5 ton. Adapun minyak goreng yang disalurkan mencapai 127.500 liter.
Slamet menambahkan, tingginya volume distribusi tersebut tidak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Dispangtan menggandeng Perumda Tugu Aneka Usaha (Tunas), Perum Bulog, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kota Malang, hingga PINSAR. ”Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi menjadi kunci,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa GPM bukan sekadar pasar murah. Program ini menjadi instrumen penting dalam menjaga Indeks Ketahanan Pangan Kota Malang, baik dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, maupun pemanfaatan pangan. (adk/adn)
Editor : Aditya Novrian