MALANG KOTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadan. Namun, pelaksanaannya akan menggunakan skema khusus agar distribusi makanan tidak mengganggu ibadah puasa para siswa.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnan mengatakan, berdasarkan informasi terbaru, MBG tetap dilaksanakan dengan penyesuaian standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
”Programnya tetap jalan saat Ramadan. Hanya saja menunya disesuaikan. Bukan menu basah, tetapi menu kering atau makanan yang tidak berkuah,” ujar Slamet kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin.
Dengan skema tersebut, makanan MBG tidak dikonsumsi di sekolah, melainkan bisa dibawa pulang oleh siswa untuk disantap saat berbuka puasa. Penyesuaian menu dilakukan untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Menurut Slamet, contoh menu yang disiapkan antara lain telur rebus, sayur-sayuran tanpa kuah, serta jenis makanan lain yang tetap memenuhi standar gizi. Prinsip utamanya adalah makanan tidak mudah basi meski disimpan beberapa jam.
”Intinya makanan yang aman dan tidak cepat rusak. Standar gizinya tetap terpenuhi,” imbuh mantan Sekretaris Diskopindag Kota Malang itu.
Slamet juga memastikan proses pengadaan bahan makanan hingga pendistribusiannya tetap berjalan normal selama Ramadan. Tidak ada perubahan mekanisme, hanya penyesuaian pada jenis menu.
Hingga awal 2025, Kota Malang tercatat memiliki 47 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG). Dari jumlah tersebut, 30 dapur MBG sudah beroperasi, sementara 17 lainnya belum berjalan. Padahal, idealnya Kota Malang membutuhkan sekitar 84 SPPG untuk menjangkau seluruh sasaran.
Dalam pelaksanaannya, setiap dapur MBG memiliki batas layanan sesuai SOP. Minimal satu dapur melayani 1.000 siswa dan maksimal 3.000 siswa. Pembatasan ini diterapkan untuk menjaga kualitas layanan sekaligus meminimalkan risiko, termasuk kejadian keracunan makanan yang sempat terjadi sebelumnya. (adk/adn)
Editor : Aditya Novrian