Sudah Garap 27 Judul Serial Animasi Selama 2 Tahun
DI BALIK pagar sebuah rumah di Jalan Maninjau Raya, Sawojajar, Kota Malang, nyaris tak ada penanda mencolok. Namun begitu pintu dibuka, suasana berbeda langsung terasa. Dinding ruang tamu dipenuhi frame bergambar anime dengan warna-warna tajam dan detail khas Jepang.
Frame itu terpajang rapi seolah menjadi etalase perjalanan panjang sebuah studio animasi yang tumbuh jauh dari hiruk pikuk industri besar. Tempat itu adalah Jiva Animation.
Frame-frame tersebut bukan sekadar hiasan. Ada Wind Breaker Season 2, Witch Watch, Apocalypse, The Dangers in My Heart, Ishura, Apocalypse Hotel, hingga Tokyo Revengers: Tenjiku Arc.
Dua standee tokoh animasi berdiri di sudut ruangan. Beryl Gardinant dari Katainaka no Ossan, Kensei ni Naru tampak gagah, sementara sosok Lala dari film The Journey of Lala menghadirkan nuansa berbeda.
Lala bukan sekadar karakter, melainkan simbol mimpi Jiva Animation untuk melahirkan karya orisinal. The Journey of Lala merupakan film animasi yang digarap penuh oleh Jiva Animation.
Adapun deretan judul anime lain melibatkan studio ini di berbagai bagian produksi, mulai asisten produser, in-between animation yang memastikan transisi gerak halus, hingga coloring. Jika dihitung, sudah ada 27 judul animasi yang disentuh Jiva Animation. Capaian yang terbilang besar, mengingat studio ini baru berdiri di Kota Malang pada 2023.
Di balik layar, hampir 40 orang terlibat dalam proses produksi. Mayoritas masih berusia muda. Sebagian bahkan masih berstatus pelajar dan mahasiswa magang. Namun kualitas kerja mereka tak bisa dipandang sebelah mata. Standar yang diterapkan adalah standar industri anime Jepang yang dikenal ketat dan detail hingga ke gerakan terkecil.
Pendiri Jiva Animation Aswin Nurcahya menegaskan tak ada jalan pintas untuk mencapai kualitas tersebut. Semua yang bergabung diwajibkan belajar dari nol. ”Saat masuk ke Jiva, apa pun yang sudah diketahui sebelumnya dianggap tidak ada. Semua harus mulai dari dasar lagi,” katanya.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Aswin sendiri memulai perjalanan animasinya dari titik nol. Pria kelahiran 1994 itu mengenal dunia animasi secara serius saat masuk SMK Negeri 2 Jepara jurusan animasi.
Keputusan itu diambil bukan karena cita-cita besar, melainkan alasan sederhana. Ingin menghindari matematika. Saat itu, ia bahkan tidak memiliki kemampuan menggambar.
Hari-harinya di SMK diisi dengan latihan menggambar manual, belajar menggunakan kamera, hingga mengoperasikan komputer. Minatnya kian tumbuh ketika ia menonton Spirited Away karya Hayao Miyazaki.
Film itu membuka matanya tentang betapa kuatnya animasi sebagai medium bercerita. Sejak saat itu, animasi bukan lagi pelarian, melainkan tujuan hidup. Ketertarikan tersebut membawanya melangkah lebih jauh. Setelah lulus SMK pada 2012, Aswin memilih kuliah Bahasa Jepang di Universitas Diponegoro.
Keputusan itu semata-mata untuk membuka jalan belajar animasi di Jepang. Niatnya sempat ditentang orang tua. Animasi dianggap tidak menjanjikan masa depan. Bahkan ancaman penghentian biaya kuliah sempat muncul.
Namun Aswin bersikukuh. Pada 2018, ia akhirnya berangkat ke Jepang dan menempuh pendidikan di JAM Anime Senmongakko, sekolah kejuruan yang fokus pada animasi. Di sana, ia merasakan perbedaan drastis. Materi yang dipelajari jauh lebih detail, mulai dari pipeline produksi, alur kerja studio, hingga disiplin industri yang ketat.
Dua tahun di Jepang bukan masa yang mudah. Namun kerja keras itu membuahkan hasil. Aswin berhasil menyelesaikan dua film animasi. Satu mengangkat Kota Niigata, satu lagi mengisahkan pertemanan yang merenggang selepas sekolah sebelum akhirnya terjalin kembali. ”Dari situlah, orang tua mulai melihat keseriusan saya dan memberi dukungan penuh,” ujar dia.
Setelah lulus, Aswin tak langsung pulang. Ia menetap di Jepang hingga 2022 dan terlibat dalam berbagai proyek besar. Namanya tercantum dalam credit Tokyo Revengers, MF Ghost, Urusei Yatsura, hingga Majuno Tabi Tabi. Bagi Aswin, tiga target hidupnya telah tercapai. Sekolah animasi di Jepang, bekerja di studio anime, dan namanya muncul di credit film.
Namun di tengah gemerlap industri anime Jepang, ia melihat satu kenyataan. Indonesia masih kekurangan studio yang benar-benar serius menekuni anime dengan standar Jepang. Dari situlah muncul keinginan untuk pulang dan membangun sesuatu di tanah air.
Kota Malang dipilih sebagai basis. Alasannya sederhana, udara sejuk dan banyak sekolah serta kampus yang berkaitan dengan animasi. ”Tidak susah mencari SDM,” katanya.
Di studio itu, anak-anak muda ditempa dengan disiplin ketat. Mereka dibiasakan menggunakan Clip Studio Paint dan mengikuti alur kerja ala studio Jepang. Tak hanya soal teknis, tetapi juga manajemen waktu dan tanggung jawab.
Hasilnya, waktu belajar yang dulu bisa memakan enam bulan hingga setahun kini bisa dipangkas menjadi tiga hingga enam bulan. Meski berbasis di Malang, pasar utama Jiva Animation masih Jepang.
Studio ini juga terlibat dalam produksi Sazae-san, anime legendaris yang telah tayang sejak 1969 dan memiliki lebih dari 8.000 episode. Tim Jiva berperan sebagai asisten produser, in-between animator, hingga colorist.
Pasar lokal perlahan mulai digarap. The Journey of Lala menjadi langkah awal, bahkan sempat diperkenalkan di Malang Creative Center (MCC) pada 2024. Ke depan, Aswin dan timnya tengah menyiapkan proyek bersama studio Jepang, mengangkat cerita rakyat Indonesia dengan latar zaman pendudukan Jepang. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian