MALANG KOTA - Peringatan HUT Kota Malang ke-112 bakal memiliki warna yang berbeda. Sebab pada awal tahun ini Pemkot Malang mulai merancang baju khas Malangan. Seragam itu akan digunakan pertama kali pada 1 April 2026.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menuturkan, langkah itu diambil karena Kota Malang belum memiliki baju khas daerah. Momentum menjelang perayaan HUT Kota Malang dianggap sebagai momentum yang pas untuk mempersiapkan baju khas daerah tersebut.
Baca Juga: Tunjang Sektor Pariwisata Kota Malang, Pemkot Segera Bagikan 200 Becak Listik
Pemkot Malang telah melakukan pertemuan dengan beberapa pihak untuk merancang baju tersebut. Mulai dari tokoh budaya, sejarawan, pemerhati budaya, hingga pelaku fashion.
"Kami ingin merancang baju yang ada dasarnya. Ada alasan kenapa memilih desain itu," ujar Wahyu.
Pemilik kursi N1 itu mengatakan, rencananya ada dua konsep yang bakal dipadukan. Yaitu konsep kerajaan yang sudah ada di Malang. Serta, mengusung tema masa kolonial Belanda. "Karena Kota Malang juga sangat kental dengan kolonial. Wali kota pertamanya orang Belanda dan masih banyak peninggalan bangunan (Belanda) di sini," bebernya.
Baca Juga: Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Ajak Warga Hidupkan Kembali Siskamling
Dengan menggandeng pemerhati budaya, sejarawan, dan pelaku fashion, Wahyu berharap bisa tercipta satu konsep yang padu. Targetnya, rancangan baju itu bisa selesai sebelum 1 April 2026.
"Kami akan luncurkan saat perayaan HUT Kota Malang, tepat pada 1 April," imbuh dia.
Mantan Sekda Kabupaten Malang itu menambahkan, baju khas itu bakal digunakan untuk ASN pemkot lebih dulu. Belum ada rencana menerapkannya untuk siswa sekolah.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi mendukung rencana merancang baju khas Malangan tersebut. Menurut dia, itu bisa menjadi produk budaya dan ciri khas Kota Malang. Selama ini, dia menyoroti bahwa Kota Malang masih kekurangan identitas.
Mulai dari sisi budaya maupun wisata. Sehingga baju khas Malangan itu bisa menjadi warna baru bagi budaya atau wisata. "Saya harap pembahasannya bisa melibatkan banyak pihak. Usulan dari budayawan dan sejarawan harus diakomodir dalam rancangan baju itu," tegas Suryadi. (adk/by)
Editor : Aditya Novrian