MALANG KOTA - Kalimat yang menyatakan bahwa seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya terbukti dari berpulangnya Kuncoro. Sebagian besar waktu Asisten Pelatih Arema FC itu dihabiskan untuk sepak bola. Dia pun mengembuskan napas terakhirnya setelah bermain di lapangan sepak bola bersama rekan-rekannya.
Kuncoro saat itu ikut ambil bagian dalam turnamen trofeo memperingati 100 tahun Stadion Gajayana, Minggu sore (18/1). Dia membela Tim Legenda Arema FC. Bersama Siswantoro, Claudio de Jesus, dan sejumlah nama-nama besar lainnya. Sempat bermain selama 20 menit, dia kemudian duduk untuk minum air.
Sesaat berikutnya, Kuncoro kolaps dan dirujuk ke RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Sayangnya, pertandingan persahabatan itu menjadi momen terakhir Kuncoro mendedikasikan diri untuk sepak bola. Dia dinyatakan meninggal sekitar pukul 17.15.
Pemakaman pun langsung dilakukan malam itu. Di Desa Putat Kidul, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Manajemen Singo Edan melihat kepergian Kuncoro sangat mengejutkan. Mengingat, eks penggawa Persija Jakarta itu dikenal punya daya tahan tubuh yang kuat. Jika sakit, dia tetap berusaha datang ke sesi latihan menggunakan masker.
”Kalau dia tidak kuat pasti akan bilang dan absen dalam latihan,” ujar General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi. Inal mengungkapkan, pada 14 dan 15 Januari lalu, Kuncoro sempat absen karena sakit flu. Baru kemudian kembali ikut latihan bersama tim sehari setelahnya.
Arema FC dan Kuncoro merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dia sudah membela Arema FC yang saat itu bernama Arema Malang sejak musim 1991. Tepatnya pada era Galatama.
Setelah tujuh musim, dia hijrah ke sejumlah tim besar seperti Persija Jakarta dan PSM Makassar. Selanjutnya kembali lagi memperkuat Arema pada musim 2001. Setelah itu dia kembali memperkuat sejumlah tim sebelum memutuskan gantung sepatu setelah memperkuat Surabaya DU pada 2010 lalu.
Sebagai pemain, Kuncoro dikenal sebagai sosok yang serba bisa. Dia tidak hanya dikenal sebagai seorang stopper. Sebab, mendiang juga pernah bermain sebagai bek sayap kanan dan gelandang bertahan. Gaya bermainnya yang tidak kenal lelah membuat dia dikenal sebagai pesepak bola yang ngotot, namun penuh perhitungan.
Kuncoro menjadi bagian penting dalam sejarah Arema Malang. Bersama Singo Edan, dia ikut mengantarkan tim meraih gelar Galatama XII musim 1992–1993. Prestasi tersebut juga berlanjut bersama sejumlah klub lain. Salah satunya datang saat membantu PSM Makassar menjuarai Liga Indonesia 1999–2000.
Perjalanan yang cukup mulus sebagai pemain mengantarkannya ke dunia kepelatihan. Pada musim 2011, dia kembali ke Tim Singo Edan. Namun, dia tampil di balik layar sebagai asisten pelatih. Sejak saat itu, dia mengabdikan diri secara penuh untuk Singo Edan. Mulai dari era Arema Indonesia, Arema Cronus, sampai Arema FC yang dikenal sekarang.
Saat menjadi asisten pelatih, manajemen Singo Edan melihat satu kelebihannya yang tidak dimiliki oleh pelatih lain. Yakni kemampuan membaca permainan dan membangun kedekatan dengan pemain.
Instingnya mengetahui kelebihan tim sekaligus mengekspos kekurangan lawan membuat dia selalu bertahan di tengah pergantian pelatih kepala selama 13 tahun. Sementara di kalangan pemain, dia dikenal cukup perhatian.
Dalam beberapa kesempatan, Kuncoro mampu mengubah performa pemain muda menjadi lebih maksimal. ”Seperti perubahan Achmad Maulana Syarif ke bek sayap kanan. Pak Kuncoro melihat potensi dia bisa bagus saat di situ, ternyata terbukti,” kenang General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi.
Saat menjadi asisten pelatih, Kuncoro sudah enam kali memimpin pertandingan sebagai caretaker. Itu terjadi di Piala Menpora 2021, Liga 1 2023/2024, dan Liga 1 2024/2025. Catatannya cukup seimbang dengan torehan dua kemenangan, dua kali seri, dan dua kekalahan.
Sebagai sosok yang humoris, Kuncoro dikenal cepat berbaur dengan semua pemain, tidak terkecuali penggawa asing. Ada kalanya, Kuncoro berbuat usil kepada pemain tertentu agar bisa mencairkan suasana di ruang ganti. ”Dia sering membuat kami tertawa,” ujar Gelandang Arema FC Matheus Blade.
Kendala bahasa tidak menghalanginya untuk menjadi penghibur di tengah intensitas latihan dan pertandingan. Itu membuat banyak pemain asing maupun lokal merasa sangat kehilangan ketika tahu Kuncoro harus pergi untuk selama-lamanya.
Dari postingan yang diunggah akun resmi Arema FC, pemain dan eks penggawa Singo Edan tidak henti-hentinya memberikan ucapan bela sungkawa. (zan/by)
Editor : Aditya Novrian