MALANG KOTA – Kondisi hutan di Jawa Timur dinilai masih relatif terjaga. Namun, kontribusi sektor kehutanan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur masih tergolong kecil. Padahal, potensi ekonomi dari sektor ini dinilai jauh lebih besar jika dikelola secara optimal.
Isu tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan kehutanan di Bakorwil III Malang, kemarin (19/1). Sedikitnya ada lima materi yang dipaparkan.
Mulai dari potensi perhitungan PDRB kehutanan, kontribusi hasil hutan terhadap kesejahteraan rumah tangga, hingga kebijakan ekonomi pembangunan dan ekonomi ekologi kehutanan.
Kepala Bakorwil III Malang Asep Kusnandar menyampaikan, pembahasan sektor kehutanan tidak bisa dilepaskan dari pemahaman dasar tentang hutan dan kawasan hutan. ”Hutan itu bicara soal ekosistem dan sumber daya alam. Sedangkan kawasan hutan sudah masuk ke ranah hukum dan tata kelola negara,” ujarnya.
Asep menilai, selama ini pemanfaatan hutan masih cenderung konservatif sehingga belum berdampak signifikan terhadap PDRB. Padahal, potensi kehutanan di Jawa Timur cukup besar jika dikembangkan secara berkelanjutan.
”Perlu ada rekonstruksi cara pandang dan pemanfaatan hutan agar kontribusinya terhadap PDRB bisa meningkat tanpa mengorbankan kelestarian,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Peneliti Prof Dr Asihing Kustanti SHut MSi memaparkan hasil kajian tentang kontribusi hasil hutan terhadap kesejahteraan rumah tangga petani.
Dalam riset yang dilakukan di Desa Kedasih, Kabupaten Probolinggo. Ia menemukan bahwa manfaat ekonomi hutan di tingkat tapak jauh lebih besar dibandingkan angka yang tercatat dalam PDRB.
”Dalam data resmi, kontribusi sektor kehutanan ke PDRB hanya sekitar Rp 100 miliar. Padahal, ketika kami turun ke lapangan, nilainya bisa jauh lebih besar,” ungkapnya. (aff/adn)
Editor : Aditya Novrian