Tiap Bulan Rutin Sisihkan Uang untuk Kegiatan Sosial
SUARA bacaan Yasin mengalun pelan di ruang tengah rumah sederhana di Desa Putat, Gondanglegi, Senin malam itu. Lebih dari 50 orang duduk bersila. Sebagian menunduk, sebagian lagi menatap kosong ke arah lantai.
Di antara bacaan doa, sesekali terdengar isak tertahan. Keluarga besar, tetangga, sahabat lama, hingga sejumlah pemain dan ofisial Arema FC larut dalam suasana haru. Mereka memanjatkan doa agar almarhum Kuncoro mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Keramaian pelayat malam itu tak membuat Ali, adik ipar Kuncoro, terkejut. Sambil berdiri di dekat pintu, ia menyalami tamu yang datang satu per satu. Baginya, banyaknya orang yang hadir justru menjadi gambaran siapa Kuncoro semasa hidup.
Sosok yang mudah akrab, ringan menyapa, dan tak pernah membeda-bedakan siapa pun. ”Abah (Kuncoro) itu orangnya sangat sederhana,” ujar Ali lirih. Kesederhanaan itu, kata Ali, bukan sekadar cerita. Dalam keseharian, Kuncoro tak pernah mengejar penampilan. Pakaian yang dikenakan sering kali itu-itu saja.
Tak ada keinginan untuk terlihat mencolok. Bahkan soal kendaraan, ia bertahun-tahun memilih sepeda motor meski sebenarnya mampu membeli mobil lebih awal.
Motor dianggapnya cukup. Lebih praktis, lebih cepat, dan sudah terbiasa. Dorongan keluarga agar ia lebih nyaman dan aman berkendara baru membuat Kuncoro membeli mobil beberapa tahun terakhir. Itu pun bukan untuk gaya hidup, melainkan semata-mata kebutuhan.
Namun, kesederhanaan Kuncoro tidak berhenti pada cara ia menjalani hidup. Ada sisi lain yang jarang diketahui banyak orang. Setiap bulan, sebagian penghasilannya selalu ia sisihkan.
Bukan untuk ditabung, melainkan disedekahkan. Anak yatim, pembangunan masjid, dan kegiatan sosial lain menjadi tujuan. Uniknya, kebiasaan itu dilakukan tanpa banyak bicara.
Ali mengungkapkan, keluarga bahkan baru mengetahui rutinitas itu belakangan. Awalnya, sedekah tersebut disalurkan diam-diam melalui adik kandungnya. Baru setelah beberapa orang datang menyampaikan terima kasih, keluarga menyadari apa yang selama ini dilakukan Kuncoro.
Rekan-rekannya pun merasakan hal serupa. Tak sedikit yang mengaku sering diberi uang jajan tanpa diminta, sekadar bentuk perhatian.
Di mata keluarga dan sahabat, hidup Kuncoro nyaris tak bisa dipisahkan dari sepak bola. Meski sudah lama gantung sepatu dan fokus menjadi asisten pelatih Arema FC, kecintaannya pada lapangan hijau tak pernah luntur.
Ali bahkan menghitung dalam sepekan Kuncoro bisa bermain hingga tujuh kali. Jika pagi hari ia mendampingi latihan Arema FC, sore harinya ia sudah berada di lapangan lain. Bergabung dengan kawan-kawan lama, mantan pesepak bola yang kini rutin bermain di kompetisi tarkam wilayah Gondanglegi.
Rutinitas itu sempat membuat keluarga khawatir. Usia Kuncoro tak lagi muda, aktivitas fisik yang terlalu padat dikhawatirkan menguras tenaga. Saudari-saudarinya kerap mengingatkan agar ia mengurangi kegiatan di lapangan.
Peristiwa yang terjadi di Stadion Gajayana pada 18 Januari lalu bukan kejadian pertama. Sebulan sebelumnya, saat bermain di Stadion Kanjuruhan, Kuncoro juga sempat kolaps. Saat itu, kondisinya sempat dinyatakan meninggal dunia sebelum akhirnya sadar kembali.
”Saat kami datang, dia sudah sadar. Tapi entah kenapa, sejak itu saya punya firasat,” kata Ali. Sejak kejadian tersebut, keluarga mulai lebih waspada. Mereka tahu kondisi kesehatan Kuncoro tidak seprima dulu meski secara kasat mata ia terlihat kuat.
Pria kelahiran Singosari itu dikenal memiliki daya tahan tubuh luar biasa saat muda. Kerabat dekatnya, Roni Yahya, mengenang bagaimana Kuncoro tetap lolos seleksi meski pernah mengalami cedera serius.
”Waktu ikut diklat di Ragunan untuk Arseto FC, kakinya sempat patah. Tapi dia tetap diterima. Akhirnya malah bergabung dengan Arema,” ujar Roni. Kekuatan fisik itu membuat Kuncoro disegani lawan. Duel-duel keras menjadi ciri khasnya. Banyak pemain enggan beradu badan dengannya.
Namun di balik fisik kuat itu, ada riwayat yang jarang diketahui. Selama aktif bermain, Kuncoro beberapa kali mengalami kejang disertai demam tinggi. Kondisi itu sempat membuat rekan setimnya cemas.
Dari pengalaman tersebut, Kuncoro mulai lebih memperhatikan kesehatannya. Ia rutin mengonsumsi vitamin dan tetap menjaga tubuhnya aktif dengan bermain sepak bola. Bagi Roni dan rekan-rekan lain, Kuncoro bukan hanya pemain keras. Ia juga memiliki naluri taktik yang tajam.
Kemampuannya membaca permainan dan mengamati potensi pemain membuatnya beberapa kali menjalani peran ganda sebagai pemain sekaligus pelatih. Bersama nama-nama seperti Widodo C Putro, Aji Santoso, dan Suwandi, ia belajar memahami sepak bola dari sisi berbeda.
Keinginan menjadi pelatih kepala sebenarnya ada. Namun Kuncoro menyadari satu hal, ia lebih nyaman bekerja di balik layar. Menurut Roni, Kuncoro kerap kesulitan menuangkan gagasan secara verbal. Karena itu, peran asisten pelatih menjadi pilihan yang membuatnya tetap dekat dengan sepak bola tanpa harus berada di pusat sorotan.
Malam kian larut. Satu per satu pelayat berpamitan, meninggalkan rumah duka dengan langkah pelan. Doa telah dipanjatkan, tahlil telah usai. Namun cerita tentang Kuncoro masih terus bergulir. Tentang kesederhanaannya, tentang kepeduliannya, dan tentang cintanya pada sepak bola yang tak pernah padam. (*/zan)
Editor : Aditya Novrian