MALANG KOTA – Selama lima bulan beroperasi, Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Bango belum bekerja optimal. Produksi air minum yang dihasilkan belum sepenuhnya terserap Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang.
Direktur Utama Perumda Tugu Tirta Priyo Sudibyo menyebut, kapasitas pembelian air dari SPAM Bango seharusnya bisa mencapai 200 liter per detik. Namun hingga kini, rata-rata debit air yang dibeli baru 171 liter per detik. Artinya, masih ada selisih sekitar 29 liter per detik yang belum termanfaatkan.
”Produksi 171 liter per detik itu pun belum stabil. Hampir setiap bulan masih ada gangguan teknis,” ujar Priyo, kemarin. Gangguan tersebut berdampak pada kuantitas sekaligus kualitas air.
Beberapa kali, air hasil produksi tidak memenuhi standar mutu sehingga tidak dapat langsung didistribusikan kepada pelanggan. ”Kalau kualitasnya tidak sesuai standar, tidak kami alirkan. Prinsipnya jelas, air yang diterima masyarakat harus aman dan berkualitas,” tegas pria yang akrab disapa Bogank itu.
SPAM Bango merupakan proyek kerja sama antara PDAM Kota Malang dan Perum Jasa Tirta (PJT) I dengan nilai investasi mencapai Rp 74 miliar. Skema kerja sama menggunakan pola Built Operate Transfer (BOT). Di akhir masa kerja sama, kepemilikan WTP akan diserahkan kepada PDAM.
Bogank menambahkan, air yang didistribusikan PDAM ditargetkan berstandar air minum, bukan sekadar layak pakai. Karena itu, WTP wajib memenuhi sejumlah parameter, mulai dari tingkat keasaman (pH), kejernihan, hingga bebas bau.
”Air PDAM harus bisa diminum. Karena itu kami ketat menjaga kualitas keluaran WTP,” ujarnya. Meski produksi masih belum maksimal, Perumda Tugu Tirta terus melakukan pembenahan teknis dan penguatan pengawasan mutu di SPAM Bango.
Upaya tersebut dilakukan agar kapasitas produksi bisa ditingkatkan tanpa menurunkan kualitas air. ”Kami lebih memilih debit sedikit berkurang daripada kualitas air menurun. Itu komitmen kami sebagai penyedia layanan air minum bagi warga Kota Malang,” pungkasnya. (adk/adn)
Editor : Aditya Novrian