Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mbah Gombloh dan Kisah Menunggu Kekasih di Kajoetangan yang Telanjur Dipercaya

Aditya Novrian • Rabu, 28 Januari 2026 | 10:02 WIB
SIMPAN CERITA MENARIK: Warga melintas di kawasan Kajoetangan Heritage dengan latar mural Arifin atau Mbah Gombloh di dinding pertokoan, kemarin (27/1).
SIMPAN CERITA MENARIK: Warga melintas di kawasan Kajoetangan Heritage dengan latar mural Arifin atau Mbah Gombloh di dinding pertokoan, kemarin (27/1).

Mendiang Sudah Beristri dan Pernah Punya Pabrik Terasi

 

TAK semua kisah yang viral di internet benar-benar lahir dari fakta. Sebagian tumbuh dari potongan ingatan, tafsir orang-orang yang melintas, lalu menjelma cerita utuh yang dipercaya bersama.

Begitulah yang ada pada kisah Arifin alias Mbah Gombloh. Sosok yang bertahun-tahun menjadi bagian dari lanskap Kajoetangan Heritage.

Nama Mbah Gombloh dikenal luas sebagai lelaki tua yang setia menunggu kekasihnya di emperan toko kosong kawasan pertokoan Kajoetangan. Cerita yang beredar menyebutkan, Arifin berasal dari Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Setiap hari ia konon menempuh perjalanan pulang-pergi sejauh hampir 50 kilometer demi menunggu sang pujaan hati yang tak pernah datang. Mereka diyakini terpisah oleh peristiwa G-30S PKI, lalu berjanji bertemu kembali di tempat itu. Penantian panjang itu disebut berakhir tragis ketika Arifin meninggal pada 2017 akibat tabrak lari.

Kisah tersebut bersumber dari unggahan akun Instagram @aanmansyur, seorang penyair asal Makassar yang pada 2016 menyambangi Kajoetangan dan mengaku sempat berbincang langsung dengan Arifin. Cerita itu kemudian menyebar cepat, dibagikan berulang kali, dan menjadi semacam legenda urban yang melekat pada kawasan heritage tersebut.

Namun, cerita yang telanjur dipercaya itu menyisakan banyak celah. Komikus asal Kota Malang, Aji Prasetyo, termasuk yang merasa ganjil. Pada September 2021, ketika isu sejarah 1965 kembali ramai diperbincangkan, Aji berniat mengangkat kisah Mbah Gombloh dalam bentuk komik.

Tetapi sebelum menggambar, ia memilih menelusuri ulang cerita yang beredar. Beragam pertanyaan muncul. Bagaimana Arifin menempuh perjalanan jauh setiap hari? Siapakah perempuan yang ditunggunya? Benarkah ia terkait langsung dengan tragedi politik masa lalu?

Minimnya referensi membuat Aji memutuskan mendatangi Kajoetangan dan berbincang dengan orang-orang yang kesehariannya berada di sekitar lokasi Arifin biasa duduk. Dari tukang parkir hingga karyawan perbankan yang kantornya berdiri tak jauh dari emperan toko itu, cerita yang ia dengar ternyata berbeda.

Soal kematian misalnya, Arifin memang tertabrak kendaraan. Namun bukan tabrak lari seperti yang ramai disebutkan. ”Ia sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi menolak perawatan dan kembali ke tempatnya biasa duduk,” kata Aji.

Keesokan harinya, kondisi Arifin memburuk. Ia terbaring lemah di emperan toko. Beberapa karyawan perbankan dan petugas keamanan akhirnya membawanya ke rumah sakit. Arifin meninggal beberapa hari kemudian.

Cerita lain yang luruh adalah soal perjalanan pulang-pergi dari Ngantang. Faktanya, Arifin tinggal dan tidur di Kajoetangan, beralas kardus seperti tunawisma. Ia tidak sendirian sepenuhnya. Keluarganya kerap datang menjenguk dan membawakan makanan. Penelusuran Aji kemudian mengarah pada Zaenal Arifin, tukang parkir setempat dan warga asli Kajoetangan.

Kepada Zaenal, Arifin mau berbincang cukup lama. Kepada orang lain, ia cenderung tertutup. Dari Zaenal pula diketahui bahwa perempuan yang sering datang itu bukanlah kekasih masa lalu, melainkan istrinya sendiri. Selama berada di Kajoetangan, Arifin kerap membantu mengatur parkir. Jika ada rezeki lebih, ia diberi rokok atau makanan.

Fakta berikutnya semakin menjauh dari kisah romantik yang beredar. Arifin ternyata warga keturunan Tionghoa asal Kabupaten Sidoarjo. Ia pernah hidup mapan, memiliki pabrik terasi, serta keluarga yang utuh. Namun pada awal 1980-an pabrik tersebut terbakar. ”Kerugian besar membuat Arifin mengalami depresi berat,” cerita Aji.

Gangguan kejiwaan membuatnya kerap meninggalkan rumah. Ia pernah ditemukan di depan sebuah bioskop di Kota Pasuruan, dibawa pulang, lalu menghilang lagi. Pada 1984, Arifin sampai di Kota Malang dan bertahan hidup sebagai penjual kupon SDSB atau porkas, perjudian legal pada masa itu.

Dua tahun berselang ia berpindah ke Kajoetangan dan menetap di sana hingga akhir hayatnya. Keberadaan Arifin akhirnya diketahui sang istri. Keduanya sepakat untuk tidak tinggal bersama.

Arifin tetap di Kajoetangan, sementara istrinya rutin datang membawa makanan. ”Sejumlah warga bahkan pernah melihat seorang perempuan turun dari mobil mewah, singgah sebentar, lalu pergi lagi,” terang Aji.

Aji berupaya menelusuri kisah Arifin hingga ke Sidoarjo, namun langkah itu terhenti demi menjaga perasaan keluarga. Kisah tersebut kemudian dituangkan dalam komik berjudul Hingga Maut Memisahkan. Versinya berbeda dengan cerita yang viral, tetapi hingga kini tidak pernah mendapat sanggahan.

Bagi warga Kajoetangan, Mbah Gombloh tetap sosok yang membekas. Soleh, 49, salah satu tukang parkir, mengingat Arifin sebagai lelaki pendiam yang hanya mau berbincang dengan orang tertentu.

”Karena minim bicara itulah, cerita tentang dirinya tumbuh ke mana-mana,” terangnya. Antara fakta dan legenda, kisah Arifin akhirnya menjadi cermin bagaimana sebuah cerita bisa hidup lebih panjang dari kenyataan itu sendiri. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Viral #malang #fakta #Kajoetangan Heritage