MALANG KOTA – Penyaluran kredit di wilayah Malang Raya menunjukkan pertumbuhan positif. Hingga November 2025, total kredit yang tersalurkan di Kota Malang tercatat mencapai Rp 29,9 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,18 persen secara year-on-year (YoY) dibandingkan periode yang sama pada November 2024.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Farid Faletehan menjelaskan, struktur penyaluran kredit masih didominasi pembiayaan untuk modal kerja. Porsinya mencapai 42,69 persen dari total kredit yang disalurkan. Sementara kredit konsumsi berada di posisi kedua dengan kontribusi 39,75 persen, disusul kredit investasi sebesar 17,56 persen.
Dari sisi sektor ekonomi, rumah tangga masih menjadi sasaran terbesar penyaluran kredit perbankan. Adapun bank penyalur didominasi oleh bank umum konvensional. ”Untuk jenis pembiayaan, sekitar 62,76 persen kredit disalurkan ke sektor non-UMKM,” kata Farid.
Meski tumbuh positif, peningkatan penyaluran kredit juga diiringi dengan kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL). Di Kota Malang, NPL tercatat sebesar 2,86 persen. Menurut Farid, angka tersebut masih berada dalam batas aman.
”Ambang batas NPL yang perlu diwaspadai itu di atas 5 persen. Kalau masih mendekati tiga persen, relatif aman, tetapi perbankan tetap harus berhati-hati,” ujarnya.
Kehati-hatian perbankan mulai terasa sejak awal 2025, terutama pada sektor barang tahan lama atau durable goods. Salah satu yang terdampak adalah penjualan kendaraan bermotor. Branch Manager Chery Malang Dheny Atmaja mengungkapkan, tingkat persetujuan pengajuan kredit kendaraan mengalami penurunan.
”Banyak calon pembeli datang, tapi approval kredit memang menurun,” katanya. Menurut Dheny, mayoritas pengajuan terkendala catatan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Padahal, sekitar 70 persen pembelian mobil masih mengandalkan skema kredit. (aff/adn)
Editor : Aditya Novrian