Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dedikasi Tiga Guru SMPN Satap Pesanggrahan 2 Kota Batu yang Rutin Antar Jemput Siswa, Rela Bolak-balik saat Ada Kegiatan Ekstrakurikuler

Aditya Novrian • Rabu, 4 Februari 2026 | 10:03 WIB
IKUT BERTUGAS: Hendro Kusuma (kanan) foto bersama siswa SMPN Satap Pesanggrahan 2 Kota Batu dengan latar belakang mobil operasional sekolah.
IKUT BERTUGAS: Hendro Kusuma (kanan) foto bersama siswa SMPN Satap Pesanggrahan 2 Kota Batu dengan latar belakang mobil operasional sekolah.

PAGI itu, jarum jam menunjuk pukul 06.00. Udara di kawasan perbukitan Pesanggrahan masih dingin. Sisa embun masih menempel di dedaunan.

Di saat sebagian besar siswa masih bersiap mengenakan seragam atau menyantap sarapan, tiga guru SMPN Satu Atap (Satap) Pesanggrahan 2 justru sudah menyalakan mesin mobil operasional sekolah.

Hari mereka dimulai lebih awal, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai penjemput enam siswa yang tinggal jauh dari sekolah di wilayah dengan akses transportasi yang terbatas. Sekolah yang berada di daerah perbukitan Kota Batu itu memang tidak ramah bagi kendaraan.

TOTALITAS: Erris Kurniawan (kiri) menyalami siswa SMPN Satap Pesanggrahan 2 Kota Batu yang dijemput kemarin. Di belakangnya, ada Frida yang ikut mendampingi.
TOTALITAS: Erris Kurniawan (kiri) menyalami siswa SMPN Satap Pesanggrahan 2 Kota Batu yang dijemput kemarin. Di belakangnya, ada Frida yang ikut mendampingi.

Jalan menuju sekolah sempit, menanjak, berkelok, dan di beberapa titik terasa ekstrem. Tak semua kendaraan bisa melaluinya dengan aman. Motor matik misalnya, menjadi pantangan.

”Motor matik memang tidak diperbolehkan untuk naik ke sini, terlalu berbahaya,” kata Erris Kurniawan, guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang juga bertanggung jawab atas mobil sekolah.

Erris bukan satu-satunya guru yang terlibat dalam rutinitas ini. Bersama Frida, guru Seni Budaya, dan Eri Hendro Kusuma, guru Pendidikan Pancasila, mereka bergantian menjalankan tugas antar-jemput.

Tugas tambahan itu lahir dari kebutuhan, bukan penugasan formal. Ketika mobil operasional sekolah disalurkan oleh Dinas Pendidikan Kota Batu pada Januari 2024 dengan sistem pinjam pakai, tidak ada sopir yang disiapkan.

Agar mobil tak sekadar terparkir, para guru berinisiatif menggunakannya untuk membantu siswa yang kesulitan datang ke sekolah. Program antar-jemput mulai aktif pada semester kedua 2024. Awalnya tujuh siswa memanfaatkan layanan ini. Kini tinggal enam siswa setelah satu siswa memilih untuk berangkat sendiri.

Rumah para siswa tersebar cukup jauh, bahkan lintas wilayah. Ada yang tinggal di Kecamatan Junrejo, Kota Batu hingga Pujon, Kabupaten Malang. Jarak dan medan itulah yang membuat kehadiran mobil sekolah menjadi penentu keberlanjutan pendidikan mereka.

Tidak semua siswa diantar sampai depan rumah. Jika masih tersedia angkutan umum, guru biasanya mengantar hingga Terminal Batu. Namun dalam banyak kondisi, terutama saat hujan turun atau angkot sudah jarang beroperasi di sore hari, para guru memilih mengantar siswa hingga dekat rumah. ”Lebih sering diantar sampai sekitar rumah, biar aman,” ujar Erris.

Pembagian tugas dilakukan secara bergilir. Setiap guru bertanggung jawab selama dua hari. Setelah menuntaskan tugas menjemput di pagi hari, mereka tetap menjalankan peran utama sebagai pengajar di kelas. Tidak ada keringanan jam mengajar, tidak ada tambahan honor. Yang ada hanyalah komitmen agar anak-anak tetap bisa bersekolah.

Untuk operasional, Dinas Pendidikan memberikan bantuan voucher bahan bakar Rp 800 ribu per bulan. Namun angka itu belum selalu cukup. ”Kadang juga menutup pakai uang kas bapak dan ibu guru,” ungkap Frida tanpa nada mengeluh. Situasi itu sudah mereka pahami sebagai bagian dari konsekuensi berada di sekolah pinggiran dengan keterbatasan sarana.

Di antara ketiganya, Eri Hendro Kusuma menjadi guru dengan jarak tempuh terjauh. Rumahnya berada di Junrejo. Setiap pagi, ia harus menuju sekolah lebih dulu untuk mengambil mobil, lalu kembali menjemput siswa. Sesekali, demi efisiensi, ia menggunakan mobil pribadinya agar tidak bolak-balik.

”Yang penting anak-anak sampai sekolah dengan aman,” ujarnya singkat. Tantangan tidak berhenti di situ. Ketika beberapa siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, jadwal pengantaran pulang menjadi lebih rumit.

Guru harus melakukan perjalanan dua kali. Siswa reguler pulang sekitar pukul 15.00, sementara siswa yang ikut ekstrakurikuler baru selesai sekitar pukul 16.30. ”Kalau menunggu semua, kasihan siswanya. Jadi harus bolak-balik,” jelas Erris.

Meski melelahkan, rutinitas ini menyimpan sisi lain yang jarang terlihat. Di dalam mobil, hubungan guru dan siswa terjalin lebih dekat. Obrolan ringan mengisi perjalanan. Cerita tentang sekolah, keluarga, hingga mimpi-mimpi kecil anak-anak mengalir tanpa jarak. ”Hubungan dengan siswa jadi lebih dekat,” kata Eri.

Pemandangan itu terasa saat wartawan koran ini ikut mengantar pulang siswa. Tawa renyah terdengar di dalam mobil. Setiap siswa yang turun selalu menutup perjalanan dengan salim dan salam. Sebuah gestur sederhana, namun sarat makna. Barangkali di situlah letak upah tak tertulis bagi para guru. Rasa lelah yang terbayar oleh kedekatan dan kepercayaan murid-muridnya.

Saat ini, SMPN Satap Pesanggrahan 2 memiliki total 55 siswa. Jumlah yang tidak besar, namun masing-masing menyimpan cerita perjuangan untuk mengakses pendidikan. Hingga kini, sekolah belum memiliki sopir khusus. Pengoperasian mobil sepenuhnya dibebankan kepada para guru.

Ke depan, para guru berharap ada dukungan lebih konkret dari pemerintah daerah, terutama penyediaan sopir khusus agar tugas mengajar tidak terganggu. ”Supaya guru bisa lebih fokus mendidik, dan akses pendidikan anak-anak tetap terjamin,” pungkas Erris.

Di jalanan curam Pesanggrahan, mobil sekolah itu tak sekadar mengantar siswa. Ia membawa harapan, ketekunan, dan keyakinan bahwa pendidikan layak diperjuangkan. Bahkan sejak matahari belum sepenuhnya terbit. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#malang #PJOK #Satap #kegiatan ekstrakurikuler