Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Tunggu Realisasi PSEL, Pemkot Rutin Sosialisasi ke Kampus soal Penanganan Sampah

Aditya Novrian • Senin, 9 Februari 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi truk pengangkut sampah. (freepik).
Ilustrasi truk pengangkut sampah. (freepik).

MALANG KOTA - Karena belum ada kepastian program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), Pemkot Malang terus berupaya mengoptimalkan pengolahan sampah di tingkat hulu. Tepatnya pengolahan sampah yang berfokus pada pengurangan dan pengelolaan sampah langsung dari sumbernya. Mulai rumah tangga, usaha, bank sampah, hingga TPS atau TPS 3R.

”Karena untuk PSEL tidak mungkin menggunakan APBD,” tegas Kepala UPT TPA Supit Urang Arif Darmawan. Ada banyak fasilitas pendukung yang dibutuhkan di dalamnya. Seperti rangkaian mesin pemilah, pencacah, dan pengering yang bisa mengubah sampah menjadi bahan bakar.

Belum lagi penyediaan jalan baru yang bisa dilewati truk-truk yang akan membuang sampah di TPA Supit Urang. Ditanya terkait rencana jangka panjang atau alternatif, Arif menyebut bahwa saat ini DLH Kota Malang fokus untuk mengubah mindset masyarakat.

Sebab, tanggung jawab pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada pemerintah. Melainkan sumber penghasil sampah, yakni masyarakat.

”Kami terus melakukan sosialisasi ke masyarakat bahkan kampus untuk mengubah mindset bahwa pengurangan sampah bisa dilakukan dari sumbernya,” tegas Arif.

Dia memberi contoh, ada 63 kampus yang berada di Malang Raya. Seluruhnya turut menyumbang sampah ke TPA Supit Urang.

Karena itu, pihaknya rutin melakukan sambang ke kampus-kampus untuk mendorong mereka agar bisa mengelola sampah secara mandiri. Saat ini, ada beberapa kampus yang sudah mengajukan kerja sama dengan DLH Kota Malang. Ada yang dalam berbentuk penelitian. Ada pula yang berbentuk kerja sama pengelolaan sampah.

Terpisah, Dosen Prodi Teknik Lingkungan (Tekli) Universitas Negeri Malang (UM) Fahir Hassan ST MT PhD menyebut, pemkot harusnya menghitung ulang masa pakai TPA Supit Urang.

Dengan demikian, bisa ditentukan juga rencana pengelolaan sampah di TPA Supit Urang ke depannya.

”Selain itu, pemkot juga harus rutin melakukan sosialisasi terkait rencana induk pengelolaan sampah ke masyarakat,” ucapnya.

Bentuk tanggung jawab masyarakat sebagai produsen sampah bisa dimulai dari hal-hal kecil terlebih dulu.

”Bisa dengan membawa botol minum setiap bepergian. Apalagi, sekarang di Kota Malang, water fountain atau pengisian air gratis semakin banyak,” tutur Fahir.

Selain botol minum, masyarakat bisa membawa kantong untuk menyimpan belanjaan. Jadi tidak setiap pergi ke toko meminta kantong plastik.

”Bahkan buang sampah itu juga tidak boleh sembarangan. Harus dimampatkan saat dimasukkan ke tempat sampah,” terang Farih. Dengan demikian, tempat sampah yang tersebar di jalan-jalan tidak mudah penuh. (mel/by)

 Baca Juga: Prabowo Pastikan Kampung Haji Indonesia di Mekkah, Targetkan Biaya Haji Lebih Murah

Disunting ulang oleh Marsha Nathaniela

Editor : Aditya Novrian
#PSEL #Pengolahan Sampah