MALANG KOTA – Pilihan tempat untuk sentra PKL Alun-Alun Merdeka mulai mengerucut. Pemkot Malang menilai Jalan Merdeka Selatan menjadi titik paling potensial untuk menempatkan pedagang. Namun, realisasi penempatan PKL itu masih harus melalui beberapa tahap.
Seperti banyak diketahui, sejak Alun-Alun Merdeka dibuka lagi pada 28 Januari lalu, pekerjaan rumah (PR) baru langsung diterima pemkot. Salah satunya yakni penempatan PKL. Itu setelah banyaknya keluhan dari masyarakat terkait operasional mereka, yang dianggap mengotori area publik tersebut.
Solusi penempatan pedagang itu perlu dilakukan dengan segera. Sebab, setelah ini bulan Ramadan tiba. Berdasar pengalaman tahun-tahun sebelumnya, PKL bisa masuk hingga area dalam alun-alun saat momen tersebut. Selain mengurangi estetika, keberadaan pedagang di area dalam alun-alun membuat taman itu menjadi kumuh dan kotor.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menuturkan, berdasar kajian pihaknya, Jalan Merdeka Selatan dipilih sebagai sentra PKL Alun-alun Merdeka. Artinya, lokasi itu harus steril dari arus lalu lintas. Penempatan PKL di sana, dikatakan dia, tidak dilakukan setiap hari. Hanya dilakukan saat akhir pekan saja.
”Nanti uji coba dilaksanakan Sabtu dan Minggu. Mulai jam 6 sore sampai jam 9 atau 10 malam. Selain waktu itu, Jalan Merdeka Selatan digunakan seperti biasa,” terang Wahyu. Dia mengatakan, sebelum uji coba penempatan PKL, ada satu tahap yang harus dilalui.
Yaitu harus mendapatkan persetujuan dari forum lalu lintas Kota Malang. Wahyu menyampaikan, ketika Jalan Merdeka Selatan dijadikan tempat PKL, harus ada rekayasa lalu lintas di titik tersebut. ”Nanti kami atur dari arah Jalan Merdeka Timur, Pendapa Kabupaten Malang ke Talun harus lurus dulu. Sedangkan yang dari arah utara (Kajoetangan) bisa langsung lewat Masjid Jami,” terang dia.
Pemilik kursi N1 menegaskan, persetujuan forum lalu lintas penting untuk menjalankan skema penataan PKL. Sebab, di dalam forum tersebut terdiri dari berbagai lintas sektor. Mulai akademisi, kepolisian, pemkot, dan tokoh masyarakat. ”Setelah forum lalu lintas setuju, kami akan uji coba dulu. Termasuk pada saat Ramadan nanti,” tutur Wahyu.
Evaluasi lain yang dilakukan Pemkot Malang terkait operasional air mancur. Muncul banyak keluhan tentang bau pesing dan banyaknya sampah di area tersebut. Itu karena konsep dry foundation membuat masyarakat bisa secara langsung menikmati air mancur di Alun-Alun Merdeka.
Wahyu mengatakan, bau tak sedap itu karena masyarakat memanfaatkan dry fountain untuk mandi dan buang air kecil. Melihat kondisi itu, pihaknya berencana memasang pagar semi permanen. ”Jadi ketika air mancur nyala pagarnya ditutup. Tidak ada lagi pemandangan orang mandi di sana,” ucap dia. (adk/by)
Disunting kembali oleh : Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian