Mi Instan Jadi Pilihan saat Sahur dan Berbuka
MENJELANG Ramadan biasanya menjadi waktu yang paling ditunggu Rakhmad Cakra Wijaya. Beberapa hari sebelum puasa, lelaki 46 tahun itu hampir tak pernah absen datang ke masjid dekat rumahnya di Jalan IR Rais, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Bersama warga sekitar, dia mengikuti tradisi megengan. Mulai doa bersama, saling bersalaman, dan berbagi apem yang hangat mengepul dari tampah. Tapi untuk tahun ini hanya bisa ia kenang dari kejauhan.
Cakra memilih bertahan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mendampingi warga yang belum sepenuhnya pulih dari banjir besar sejak November 2025. Tugas itu datang dari Nurul Hayat, lembaga amil zakat nasional tempat dia mengabdi sebagai anggota divisi sigap bencana.
”Tanggal 14 Februari sebenarnya dijadwalkan pulang, tapi ada program rekonsiliasi bencana yang belum selesai dikerjakan yakni pembangunan MCK,” ungkap Cakra. Rencana pulang ke Malang pun ia tunda. Baginya, tanggung jawab menyelesaikan amanah di lokasi bencana lebih mendesak daripada rindu pada keluarga dan tradisi kampung.
Hingga hari ini, hampir tiga bulan Cakra tinggal di Aceh Tamiang. Waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan bagaimana banjir mengubah wajah daerah itu. Kenangan pertama yang terlintas adalah perjalanan darat selama lima jam dari Kota Medan menuju lokasi. Sepanjang jalan, lubang-lubang menganga di badan aspal menjadi penanda kerasnya terjangan air beberapa bulan sebelumnya.
Permukiman warga tak kalah memprihatinkan. Banyak rumah masih dipenuhi lumpur, batu, dan potongan kayu. Sebagian keluarga memilih bertahan di pengungsian karena rumah mereka belum layak dihuni. ”Karena kondisi rumah kotor, tidak sedikit warga yang bertahan di tempat pengungsian,” ucapnya.
Persoalan paling mendesak adalah air bersih. Sumur warga tercemar lumpur, sementara jaringan pipa rusak. Untuk minum, sebagian warga terpaksa memanfaatkan air keruh yang tersedia. Kedatangan relawan yang membawa pasokan air bersih menjadi penolong di tengah keterbatasan.
”Untuk minum, mereka hanya bisa ambil air berlumpur. Jadi saat para relawan seperti dari Nurul Hayat datang mendistribusikan air, mereka sangat berterima kasih,” tutur Cakra.
Listrik pun sempat padam total. Pemerintah bersama relawan memasang panel surya di beberapa titik. Selain itu, genset didirikan untuk menyuplai kebutuhan energi.
Satu unit genset bisa melayani sekitar 16 rumah. Namun penggunaannya terbatas karena harga bahan bakar di lokasi mencapai Rp 25 ribu per liter. Biasanya genset hanya dinyalakan dari sore hingga pukul 23.00. Setelah itu, kawasan kembali tenggelam dalam gelap.
Akses komunikasi juga sempat lumpuh.
Situasi berangsur membaik setelah pemerintah mendistribusikan puluhan perangkat internet satelit pada Desember 2025. Meski demikian, persoalan logistik masih dirasakan di sejumlah wilayah. Ada warga yang bertahan dengan menu sederhana: mi instan dan telur.
Di tengah situasi itu, satu pemandangan membekas kuat di ingatan Cakra.
Suatu sore dia melihat seorang anak laki-laki berjalan sambil menenteng gulungan tikar dan buku mengaji. Bocah itu menuju bangunan TPQ yang rusak diterjang banjir.
”Ternyata semangat mereka untuk belajar mengaji tinggi. Saya sampai menangis melihatnya,” kenang dia.
Momen tersebut menguatkan tekadnya untuk mengawal program rekonsiliasi bencana hingga tuntas. Bersama tim, Cakra terlibat dalam pembangunan ulang tempat ibadah, MCK, sumur, hingga pipanisasi air. Hampir setiap hari dia berkeliling dari satu dusun ke dusun lain di Kecamatan Bandar Pusaka, seperti Dusun Rindu, Pengidam, Sukajaya, dan Juar.
Perjalanannya juga menjangkau Dusun Pematang Durian di Kecamatan Sekerak serta Dusun Sriwijaya di Kecamatan Kuala Simpang. Rutinitasnya dimulai sekitar pukul 08.00. Dia baru kembali ke pos saat malam turun. Jika material bangunan menipis, Cakra harus menempuh perjalanan ke kota lain untuk berbelanja.
Rabu lalu (18/2) misalnya, dia pergi ke Kota Langsa membeli tandon air, pipa, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan. Kesibukan itu dipastikan berlanjut hingga pekan pertama Ramadan. Target utamanya adalah merampungkan renovasi masjid agar warga bisa beribadah dengan nyaman.
”Karena MCK, sumur, dan renovasi masjid belum selesai. Kami targetkan terutama untuk masjid selesai pekan ini, sehingga warga setempat bisa menjalani ibadah puasa dengan lancar,” tegas Cakra.
Berpuasa jauh dari rumah membuatnya harus beradaptasi. Waktu berbuka di Aceh Tamiang datang sekitar pukul 18.30, sedikit berbeda dengan di Malang. Menu sahur dan berbuka pun sederhana. Mi instan dan telur jadi pilihan karena sulit menemukan jajanan takjil seperti di kota asalnya.
Sesekali dia membeli ayam di pasar untuk dimasak bersama rekan-rekannya di pos. ”Sesekali belanja ayam di pasar yang buka untuk dimakan di pos,” katanya.
Di sela kesibukan, Cakra menyempatkan diri menghubungi keluarga di Malang melalui panggilan video dan pesan singkat. Rindu tentu ada, tetapi dia mengaku sudah terbiasa.
Selama enam tahun menjadi relawan ambulans di Nurul Hayat, bepergian ke berbagai daerah adalah bagian dari hidupnya. Bagi Cakra, Ramadan kali ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Di Aceh Tamiang, dia belajar memaknai puasa sebagai kesabaran dan pengabdian.
Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya kering dan bangunan yang masih diperbaiki, dia melihat harapan tumbuh pelan-pelan. Harapan itu yang membuatnya bertahan, menyelesaikan satu per satu pekerjaan, agar warga bisa menyambut hari-hari baru dengan lebih ringan. (*/adn)