Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Aktivitas Ramadan Pertama di SRMA 22 Kota Malang: Sisipkan Jam Tidur Siang Mulai 13.00-15.00

Aditya Novrian • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:02 WIB

NGAJI BARENG: Siswa SRMA 22 Kota Malang melakukan tadarus Alquran di aula sekolah kemarin siang.
NGAJI BARENG: Siswa SRMA 22 Kota Malang melakukan tadarus Alquran di aula sekolah kemarin siang.

 

RAMADAN baru berjalan beberapa hari, tetapi denyut kehidupan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang langsung berubah cepat. Sejak pukul 06.30, siswa sudah bergerak di lapangan. Memulai hari yang lebih panjang dari biasanya.

Pemandangan itu membuat Kepala SRMA 22 Rahmah Dwi Norwita Imtihana tersenyum kecil. Perempuan yang akrab disapa Wita itu teringat suasana sehari sebelumnya. Hari pertama masuk sekolah pada Senin (23/2) yang belum sepenuhnya berjalan mulus.

Saat itu, sejumlah siswa baru tiba di kelas pukul 07.30. Padahal, jadwal masuk selama Ramadan dimajukan menjadi pukul 07.15. Tak hanya terlambat, beberapa siswa juga sempat tertidur saat jadwal bersih-bersih pagi. Bahkan ada yang mengantuk di tengah pelajaran.

Namun Wita memilih memaklumi. Ia memahami anak-anak masih menyesuaikan pola hidup setelah kembali dari rumah. Menurutnya, sebagian besar siswa sebenarnya mampu bangun sahur tepat waktu. Hanya saja, rasa lelah setelah sahur membuat mereka kembali terlelap.

”Mungkin di rumah kebiasaannya begitu. Setelah kami pantau melalui wali asuh atau wali asrama, mereka akhirnya beradaptasi,” ungkapnya.

Hari kedua berjalan lebih tertata. Usai olahraga pagi, siswa diarahkan menunaikan salat Dhuha. Setelah itu, pembelajaran dimulai hingga pukul 12.00. Energi mereka tampak kembali penuh.

Di salah satu kelas X, suasana belajar matematika menjelang pukul 11.00 masih hidup. Seorang guru perempuan menjelaskan materi di depan kelas, sementara siswa silih berganti maju ke smart board. Sebagian lain aktif melempar pertanyaan. Rasa kantuk yang sempat muncul di hari pertama nyaris tak terlihat.

Selepas pelajaran, siswa pindah ke aula. Mereka melaksanakan salat Duhur dilanjutkan tadarus bersama hingga sekitar pukul 13.00. Setelah itu, sekolah memberi waktu tidur siang sampai pukul 15.00 yang menjadi momen paling ditunggu siswa.

Wita mengakui, jeda istirahat ini penting untuk menjaga stamina. Di hari biasa, aktivitas mereka berlangsung hingga sore. ”Adanya tidur ini kami lakukan agar kondisi mereka seimbang. Karena dini hari mereka harus sahur dan salat Tahajud,” jelas perempuan berkacamata itu.

Namun jeda istirahat bukan akhir aktivitas. Selepas tidur siang, agenda kembali padat hingga malam. Siswa mengikuti tadarus, setoran hafalan Juz Amma, hingga latihan kultum. Bagi sekolah, rangkaian ini bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga sarana melatih kepercayaan diri dan public speaking.

Program tersebut dikemas dalam Pondok Ramadan versi SRMA 22 yang berlangsung sepanjang bulan puasa, bukan hanya beberapa hari seperti di banyak sekolah. Untuk menjaga stamina siswa, pihak sekolah juga menyiapkan menu sahur dan berbuka yang dibuat senyaman mungkin.

Menu minuman segar seperti es kacang hijau dan es pisang hijau disajikan bergiliran. Jadwal makan diatur tiga kali. ”Untuk jadwal makan mereka 3 kali yakni pada sahur, berbuka puasa, dan camilan setelah tarawih,” tutur Wita.

Untuk camilan, pilihannya pun beragam. Mulai bakso, burger, hingga hot dog. Di balik rutinitas yang padat, tersimpan cerita personal para siswa. Muhammad Akbar Taufik Hidayat salah satunya. Siswa asal Kelurahan Mergosono itu mengaku merasakan Ramadan yang berbeda tahun ini.

Jika di rumah ia kerap merasa sendiri karena orang tua dan dua kakaknya sibuk bekerja, di asrama ia menemukan ruang berbagi. ”Di sini saya bisa curhat ke teman-teman sampai belajar bersama,” ungkap anak bungsu tiga bersaudara itu.

Kebersamaan juga terasa lintas iman. Akbar menjalani Ramadan berdampingan dengan teman-teman beragama Kristen Katolik yang tengah menjalani puasa pra-Paskah. Meski rindu rumah, terutama masakan favorit seperti oseng-oseng, sayur tempe, dan ayam kecap, ia tetap bersemangat.

”Setiap akan balik, bapak saya selalu mengingatkan untuk bisa sukses meniru kakak laki-laki saya yang menjadi TNI,” tegas remaja yang bercita-cita menjadi prajurit itu.

Cerita serupa datang dari Rifan Alif Fahreza. Siswa asal Magetan itu menjalani Ramadan pertama jauh dari keluarga. Adaptasi tak selalu mulus.

Namun pengalaman itu justru menjadi pelajaran. Alif mengikuti pembinaan bersama petugas kepolisian yang datang ke sekolah dan kini berusaha lebih disiplin. ”Meskipun sempat mokel. Saya akhirnya ikut pembinaan bersama petugas kepolisian yang datang ke sekolah,” ujarnya.

Di SRMA 22, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Bagi para siswa, bulan suci ini berubah menjadi ruang belajar tentang ritme hidup, disiplin, sekaligus arti kebersamaan yang pelan-pelan tumbuh di antara jadwal yang padat. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#pondok ramadan #malang #Belajar bersama #srma