MALANG KOTA - Tiap tahun selalu ada laporan terkait bangunan sekolah yang rusak atau butuh renovasi di Kota Malang. Karena keterbatasan anggaran, proses perbaikan sarana pendidikan itu tak bisa dilakukan dengan cepat. Sekolah-sekolah yang sudah mendaftarkan kerusakan sarananya harus mengantre.
Contohnya tahun ini. Tercatat, hanya ada lima sekolah yang mendapat jatah perbaikan melalui APBD. Pemkot berdalih efisiensi anggaran jadi penyebabnya. Karena itu, program perbaikan sekolah harus disusun berdasar skala prioritas.
Sebagai bentuk upaya lain, tahun ini ada 49 sekolah yang diusulkan dapat anggaran perbaikan dari pemerintah pusat. Mayoritas bangunan yang rusak adalah ruang kelas. Di jenjang SD, totalnya ada 259 ruang kelas yang perlu diperbaiki.
Sementara di jenjang SMP, ada 48 ruang kelas yang dilaporkan mengalami kerusakan. Total ada 307 ruang kelas yang butuh perbaikan. Salah satu sekolah dengan kerusakan parah yakni di SDN Purwantoro 4, Kecamatan Blimbing. Struktur rangka batang penyangga utama di ruang kelas lantai dua sudah patah.
Akibatnya, siswa harus dipindah ke ruangan lain karena risiko atap roboh sangat tinggi. ”Kerusakan kuda-kuda atap bangunan itu sudah kami laporkan dua tahun yang lalu,” ujar Kepala SDN Purwantoro 4 Anis Zulaikhah. Pihaknya juga sudah mencantumkan tingkat kerusakan saat men-input keterangan ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Sekolahnya sempat tidak masuk nominasi penerima bantuan revitalisasi. Selain kuda-kuda atap yang patah, beberapa plafon di kelas juga tampak jebol. Anis memutuskan kembali mengajukan perbaikan sekolah satu bulan lalu. Dengan meningkatkan status bangunan sudah sangat membahayakan dan berpotensi roboh bila tidak segera ditangani.
Baca Juga: Produksi Anggrek di Kabupaten Malang Melonjak, Pasar Kian Bergairah
Hasilnya, bangunan sekolah langsung disurvei dan segera direhabilitasi. Sementara pembelajaran anak-anak dialihkan ke ruangan yang tersisa. Ruang kelas sementara itu lebih sempit dan beberapa atap bocor. ”Sedikit banyak pasti pembelajaran siswa terganggu karena terpaksa belajar di ruangan yang tidak nyaman,” lanjut Anis.
Meski harus dilakukan berdasar skala prioritas, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi menilai pemkot sudah cukup konsisten melakukan rehabilitasi sekolah. Baik untuk sekolah yang mengalami kerusakan ringan, sedang, maupun berat. ”Itu menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dalam menjamin keselamatan dan kenyamanan proses belajar mengajar,” kata dia. (aff/mel/by)
Disunting kembali oleh Anna Tasya Enzelina
Editor : Aditya Novrian