Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sejak 1970-an, Kampung Gempol Marga Bhakti Menjadi Ruang Hidup Penuh Toleransi

Aditya Novrian • Senin, 2 Maret 2026 | 15:00 WIB

PERKUAT TOLERANSI:Beberapa warga Kampung Gempol Marga Bhakti dari berbagai latar belakang agama ikut buka puasa bersama di Rumah Sosial Titus Brandsma, Sabtu sore (28/2).
PERKUAT TOLERANSI:Beberapa warga Kampung Gempol Marga Bhakti dari berbagai latar belakang agama ikut buka puasa bersama di Rumah Sosial Titus Brandsma, Sabtu sore (28/2).

RUMAH Sosial Titus Brandsma di Jalan Sukun Gempol Nomor 12, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun tampak ramai Sabtu sore (28/2). Rumah yang sehari-hari menjadi lokasi penampungan para lansia itu dipadati warga setempat. Mereka berasal dari beragam latar belakang agama.

Ada yang Muslim, Katolik, dan beragama lain. Mereka adalah warga Kampung Gempol Marga Bhakti. Semua warga yang datang berbaur menjadi satu. Sebelum azan Magrib berkumandang, tak ada yang mengonsumsi makanan di meja.

Baru setelah azan berkumandang, warga yang hadir beserta lansia-lansia penghuni rumah sosial itu langsung berbaris di meja makan. Mereka bergiliran mengambil hidangan yang disajikan. Ada nasi, sayur asam, sambal terong, ayam goreng, tempe, dan es sirup.

Jika ada warga yang kesulitan mengambil hidangan, ada para frater dari Biara Karmel Marga Bhakti yang akan membantu. Selain itu, beberapa remaja putri berjilbab bersama ibu-ibu turut serta mengisi piring-piring yang sudah kosong dengan lauk baru dari dapur.

Semua hidangan yang disajikan dinikmati bersama-sama. Agenda seperti itu rutin digelar di Kampung Gempol Marga Bhakti. Kurang lebih sudah sejak tahun 2000-an. Sebelum tahun 2000, warga di Kampung Gempol Marga Bhakti cenderung menjalankan aktivitas ibadah di rumah atau tempat ibadah masing-masing.

Ignasius Budiono, seorang romo yang merupakan pimpinan Biara Karmel Marga Bhakti bercerita, sebelum menjadi seperti sekarang, Kampung Gempol Marga Bhakti masih minim permukiman. Para warga justru banyak yang berasal dari luar wilayah dan daerah.

Sebagian dibawa oleh Romo Data Pranoto pada 1971. Romo Data dikenal sebagai salah satu pemuka agama di Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan. Sebelum mengetahui kawasan di sana, Romo Data banyak melihat gelandangan, pengemis, dan tuna wisma yang menghuni kolong jembatan di sekitar Klojen dan Jembatan Majapahit.

Mereka diminta pindah karena pemerintah memiliki proyek rel Malang-Surabaya.  Bersama para pemuka agama lain di Gereja Kayutangan seperti Romo Aloysius Datapratignya, Romo Data akhirnya mengajak kelompok warga pra-sejahtera itu untuk bermukim di Kampung Gempol Marga Bhakti. ”Kebetulan lahan-lahan di Kampung Gempol dibeli pelan-pelan oleh pemuka agama dari gereja. Setahu saya pembeliannya dicicil sampai lima kali,” kenang Romo Budiono.

Dari sana, akhirnya ada 30 rumah sederhana dari anyaman bambu yang bisa dihuni. Sekitar tahun 1973, didirikan Kapel St Theresia Lisieux untuk tempat ibadah. Kendati demikian, pihak gereja tidak pernah melarang jika ada warga lintas agama ingin tinggal di sana. ”Siapa pun boleh tinggal. Ada rumah-rumah juga yang disediakan bagi orang-orang yang tidak mampu,” kata Romo Budiono.

Seiring berjalannya waktu, warga yang tinggal di sana pun tidak hanya mereka yang beragama Katolik. Ada pula warga yang beragam Islam dan Hindu. Mereka pun rutin menjalin komunikasi sekaligus silaturahmi setiap hari besar keagamaan.

”Sebagai contoh kalau Ramadan atau Idul Fitri, kami ya buka puasa seperti ini. Kami juga membagikan takjil,” kata Romo Budiono. Demikian pula jika Hari Raya Nyepi berlangsung. Mereka akan datang berkunjung ke Pura Goa Sukun Wijaya yang ada di Kampung Gempol.

Cerita tentang sejarah toleransi di Kampung Gempol Marga Bhakti juga disampaikan oleh Misdiyanto. Lelaki yang sudah tinggal di sana sejak 1978 itu mengungkapkan, sebelumnya aktivitas keagamaan belum terbuka seperti sekarang.

Dulu, beberapa warga Muslim masih banyak yang memilih ibadah di rumah masing-masing. Bahkan adanya tempat ibadah baru tahun 1980-an. Ditandai dengan berdirinya langgar yang sekarang menjadi Masjid Al-Fatah.

 Baca Juga: Tiga Reklame Bermasalah di Kabupaten Malang Kena Segel Satpol PP, Satu di Antaranya Segera Dibongkar

Hubungan antar-umat beragama semakin terbuka saat mantan ketua RW setempat yang bernama Eko hadir dalam kegiatan Maulid Nabi. Eko sendiri beragama Katolik. ”Kurang lebih selama 10 tahun terakhir, toleransi di antara warga semakin kuat,” tegas Misdiyanto.

Sebelum Ramadan, biasanya warga datang ke makam untuk ziarah sekaligus bersih-bersih. Karena makam warga Islam dengan Katolik berdekatan, kegiatan berkunjung ke makam biasanya dilakukan bersama-sama.

Lalu selama Ramadan, warga Muslim rutin menggelar pengajian keliling dari satu rumah ke rumah lain. Warga non-Muslim tidak pernah merasa terganggu dengan rutinitas itu. Sebab, kegiatan pengajian dilakukan dengan penuh toleransi. Saat menginjak pukul 21.00, pengajian sudah harus selesai. Demikian pula saat momentum Nuzulul Quran atau Lailatul Qadar.

Warga Muslim juga biasa menghadiri undangan berbuka seperti yang digelar di Rumah Sosial Titus Brandsma. ”Tanggal 8 Maret nanti kami juga mengadakan buka bersama di Masjid Al-Fatah. Rencananya juga mengundang perwakilan romo setempat,” imbuh Misdiyanto.

Setiap selesai salat Idul Fitri, warga Muslim, baik laki-laki maupun perempuan akan berbaris secara berhadap-hadapan. Lalu mereka akan menerima kunjungan dari warga Katolik untuk saling bersalaman. Silaturahmi semacam itu juga biasa dilakukan saat hari besar keagamaan lainnya. Seperti Natal atau Nyepi. (*/by)

 

Disunting kembali oleh Anna Tasya Enzelina

Editor : Aditya Novrian
#heterogen #Toleransi