MALANG KOTA - Sektor perhotelan di Kota Malang tampak lesu. Itu bisa dilihat dari angka tingkat penghunian kamar (TPK) hotel pada bulan Januari. Nilainya terkoreksi hingga 15,89 poin secara month-to-month (mtm) dibanding Desember 2025.
Begitu juga dengan okupansi pada bulan Februari lalu, yang belum menunjukkan peningkatan signifikan. Tren penurunan itu diproyeksikan bakal terus terjadi hingga akhir Maret nanti. Sebab, kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, pengunjung di Kota Malang juga dipenuhi wisatawan Nusantara. Mereka rata-rata melakukan perjalanan liburan pulang-pergi tanpa menginap di hotel.
”Bahkan dibanding Januari tahun 2025, okupansi tetap mengalami penurunan 6,61 poin,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Umar Sjaifuddin. Terutama untuk okupansi hotel bintang. Penurunannya mencapai 48,68 persen. Yaitu 19,59 poin secara mtm dan 4,10 poin secara year to year (yty).
Untuk rata-rata lama menginap tamu, Kota Malang berada di angka 1,36 hari. Dengan dominasi tamu Nusantara sebanyak 97,38 persen. Sementara tamu asing hanya mengisi 2,62 persennya saja.
Manajer Marketing Pelangi Hotel Ardha Orbita Sabatini menuturkan, okupansi di hotelnya tidak sampai 30 persen pada bulan Februari. Rata-rata tamu menginap hanya satu malam saja. ”Tamu yang datang juga didominasi wisatawan lokal,” ujar Arda.
Pada awal bulan puasa atau pertengahan bulan Februari, okupansi hotelnya justru mengalami penurunan. Sementara untuk pemesanan kamar saat Hari Raya Idul Fitri, terpantau belum mencapai 50 persen.
Ardha menyiasati penurunan kunjungan itu dengan memaksimalkan paket khusus Ramadan seperti buka puasa all you can eat (AYCE) mulai harga Rp 120 ribu. Serta promo halal bi halal mulai Rp 150 ribu.
Dari tahun ke tahun, penurunan okupansi hotel selalu terjadi saat Lebaran. Sebab mayoritas masyarakat memilih pulang ke kampung halamannya. Hotel baru ramai lagi sekitar tiga sampai empat hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Di tempat lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Agoes Basoeki mengakui bahwa TPK hotel pada bulan Februari memang terkoreksi. Yaitu di bawah 80 persen untuk keseluruhan hotel.
”Kondisi perekonomian memang sudah terlihat membaik, tapi masyarakat masih banyak yang menahan pengeluarannya,” kata dia. (aff/by)
Editor : A. Nugroho