MALANG KOTA – Drainase baru di kawasan Soekarno-Hatta (Soehat) selesai dikerjakan pada pertengahan Januari 2026. Proyek dengan biaya Rp 32 miliar itu diharapkan bisa mengurangi potensi banjir dan genangan hingga 35 persen. Namun yang terjadi masih jauh panggang dari api.
Sejak Februari hingga awal Maret ini, sudah terjadi tiga kali banjir di sana. Menanggapi itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang R Dandung Djulharjanto menyebut ada kendala di avur atau saringan drainase.
”Beberapa waktu lalu memang sempat terjadi genangan. Penyebabnya karena sampah yang tersangkut di saluran dan ditemukan berbagai jenis sampah,” ungkap Dandung. Dia menyebut bahwa saat itu sampah yang ditemukan mencapai satu truk. Jenisnya beragam. Mulai dari kantong plastik, botol plastik, patahan kayu, hingga ban.
Karena sampah-sampah yang tersangkut di salah satu saluran sekunder di Kecamatan Lowokwaru (sebelah Rumah Makan Cak Uut) itu, air tidak bisa masuk ke jaringan drainase yang baru. Karena itu, pihaknya meminta kerja sama dari masyarakat agar saling menjaga kondisi drainase.
”Karena dari pemprov kan sudah membantu dalam hal pembangunan. Jadi untuk perawatan akan dikembalikan ke daerah,” tegas Dandung. Dari pengamatan pihaknya, drainase Soehat sebenarnya bisa mereduksi genangan. Baik di bagian hulu maupun hilirnya.
Namun karena kendala pada avur, pihaknya bakal terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Juga bekerja sama dengan kelurahan untuk melakukan gerakan angkut sampah dan sedimen (GASS). Normalisasi saluran juga tidak hanya dilakukan di sekitar kawasan Soehat.
Tahun ini, ada normalisasi yang akan dilakukan bersama Dinas PU SDA Jawa Timur. ”Itu terhadap jaringan daerah irigasi Sengkaling kiri. Tepatnya mulai dari sisi utara Taman Krida Budaya Jawa Timur sampai Jalan Cengger Ayam,” beber Dandung.
Selain mengimbau masyarakat untuk menjaga saluran dari sampah, pihaknya akan terus melakukan evaluasi bersama Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur. ”Kami akan mengevaluasi bentuk jaring yang dipasang sekarang. Tapi saluran sebesar apa pun, jika dijadikan tempat pembuangan sampah bisa kehilangan fungsinya,” sambung pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Upaya lainnya yakni mengusulkan kelanjutan pengerjaan drainase. Mulai dari Bakso Damas sampai Patung Pesawat dan Jalan Borobudur. ”Karena di lokasi-lokasi itu masih kewenangan provinsi, kami coba usulkan untuk revitalisasi,” pungkas Dandung. (mel/by)
Editor : A. Nugroho