Rindu Ajari Anak-Anak Mengaji di Pondok Pesantren
RASA haru sekaligus getir tak bisa dibendung Wiwin April Melianti selama Ramadan tahun ini. Kebahagiaan mengajar mengaji saat bulan suci tidak lagi dirasakannya. Kini dia harus rela melewati hari-hari di balik jeruji besi selama bulan suci.
”(Dulu) Kalau tidak sedang jadwalnya mengajar mengaji, saya tadarus sendiri sepulang kerja,” ungkap dia saat ditemui Jawa Pos Radar Malang pada 2 Maret lalu. Sebelum menjadi warga binaan, Wiwin mendampingi beberapa anak didiknya untuk mengaji di pondok pesantren dekat kediamannya di Kabupaten Kediri.
Meski berat, warga binaan yang masuk Lapas Perempuan Kelas IIA Malang pada 27 Januari 2025 tersebut berusaha legawa. Dia mengambil hikmah dan pelajaran dari kesalahan pada masa lalu. Pada Senin sore pekan lalu, dia tampak mengikuti tadarus serta setoran hafalan surat-surat pendek dan juz 30 sebelum menemui wartawan koran ini.
Wiwin tidak sendiri. Dia melaksanakan tadarus bersama 79 warga binaan lain di musala lapas. Mereka dibagi menjadi 15 kelompok. Lalu, puluhan perempuan itu membaca secara bergantian dan menyimak bacaan Al-Quran dalam kelompok masing-masing.
Saat sesi membaca Al-Quran, para warga binaan didampingi pengajar dari pengurus daerah Aisyiyah Kota Malang. Sementara pada sesi setoran hafalan surat-surat pendek dan juz 30 didampingi petugas pembina lapas.
”Selama di lapas, saya jadikan momentum untuk mencari bekal. Supaya saat pulang nanti bisa diamalkan ke anak-anak didik,” tegas perempuan berusia 24 tahun itu. Sejak dulu, Wiwin memang bercita-cita untuk menjadi ustadzah. Namun, takdir berkata lain.
Jalan Wiwin untuk menjadi ustadzah rupaya tidak berjalan mulus. Dia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya pada masa lalu lewat kehidupan di lapas. Masa hukumannya tiga tahun delapan bulan. Sekarang tersisa jadi satu tahun delapan bulan.
Karena ingin menjadi sosok ustadzah yang bisa menjadi panutan di masa mendatang, Wiwin berupaya disiplin dalam beribadah. Salah satunya dengan rutin mengaji pada momentum Ramadan.
Mengaji tidak hanya dilakukan Wiwin saat jadwal tadarus yang sudah ditetapkan oleh pihak lapas. Saat sedang menunggu buka puasa, Wiwin tetap menyempatkan mengaji di sel. Dia memiliki target untuk bisa khatam Al-Quran sebelum Idul Fitri 1447 Hijriah.
Selain tadarus, Wiwin juga disiplin mengikuti kegiatan keagamaan lainnya. Mulai dari salat wajib hingga salat tarawih berjamaah. ”Saya juga ikut kegiatan merajut di lapas,” beber perempuan kelahiran Lampung tersebut.
Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Dian Ekawati menyampaikan, tadarus merupakan kegiatan rutin. Tidak berlangsung hanya saat Ramadan saja. ”Untuk tadarus biasanya berlangsung mulai pukul 09.30 sampai menjelang Ashar,” terang dia.
Karena berlangsung selama hampir 6 jam, biasanya warga binaan yang sudah mengikuti tadarus tidak diwajibkan ikut kegiatan lain. Misalnya, merajut atau menjahit. Namun jika ada yang ingin ikut tambahan kegiatan diperbolehkan.
Dian melihat, banyak warga binaan yang tekun mengaji. Beberapa di antara mereka juga memiliki target untuk bisa khatam Al-Quran saat Ramadan. Untuk itu, Dian bersama para guru yang bertugas mengajar mengaji selalu membimbing para warga binaan dengan sabar. (*/gp)
Editor : A. Nugroho