Salat Wajib dan Sunah Kini Lebih Tertata
SEBELUM terjerat kasus narkoba, Nanik Mustika bisa melewatkan bulan Ramadan tanpa rasa bersalah. Namun kini dia bangun pukul tiga dini hari untuk tahajud dan sahur bersama ratusan perempuan lain. Serta menjalani ibadah penuh disiplin menjadi rutinitas baru yang membentuk dirinya.
Ramadan di balik jeruji besi ternyata lebih hidup daripada yang pernah ia rasakan di rumah. Perempuan berusia 37 tahun itu tak menampik, dulu ia bukanlah sosok yang disiplin berpuasa.
Bahkan ada masa di mana ia melewatkan banyak hari tanpa menunaikan kewajibannya. ”Dulu saya jarang puasa. Di rumah juga sibuk bersama suami, sementara dua anak saya masih kecil-kecil,” kenangnya pelan.
Segalanya berubah drastis pada tahun 2024, ketika Nanik bersama suaminya terseret kasus peredaran narkoba. Mereka terlibat dalam distribusi 2.080 butir pil ekstasi yang menyebar di sejumlah tempat hiburan malam di Surabaya, Bandung, Semarang, hingga Bali. Kasus itu akhirnya membuatnya mendekam di balik jeruji Lapas Perempuan Kelas IIA Malang.
Sejak masuk lapas, Nanik telah menjalani masa hukuman sekitar satu tahun delapan bulan. Dalam waktu itu, ia merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Kehidupan yang dulu bebas kini diatur dengan jadwal ketat. Bangun, sahur, salat, hingga kegiatan ibadah lainnya di masa Ramadan.
Setiap dini hari, Nanik bangun sekitar pukul 03.00 untuk menunaikan tahajud. Suasana kamar hunian masih sunyi, hanya terdengar sesekali bisikan atau langkah kaki dari lorong.
Setelah tahajud, ia bergabung dengan warga binaan lain untuk sahur bersama. Aroma masakan sederhana dari menu sahur menembus udara dingin di lapas. Namun itu justru menghadirkan kebersamaan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
”Ramadan di sini terasa lebih hidup. Kami sahur bersama, tidak sendirian,” ujarnya sambil tersenyum. Setelah sahur, mereka menunaikan salat Subuh berjamaah sebelum kembali tidur sebentar untuk mempersiapkan kegiatan pagi.
Aktivitas Nanik di siang hari pun beragam. Selama Ramadan, ia mengikuti program pondok pesantren yang diselenggarakan lapas, mulai dari belajar membaca Alquran, tadarus, hingga pengajian rutin. Rutinitas itu memberinya ketenangan dan kesempatan menjalani ibadah dengan lebih fokus.
”Karena kegiatannya teratur, saya jadi merasa lebih tenang menjalani puasa. Ibadah juga bisa lebih fokus,” ujarnya dengan mata berbinar. Meski demikian, ada kerinduan yang tak pernah hilang. Yakni keluarga di rumah.
Dua anaknya tumbuh tanpa kehadirannya setiap hari dan kenangan puasa di rumah dulu selalu membayang. Namun Nanik memilih menerima kenyataan itu sebagai bagian dari konsekuensi masa lalu. ”Pasti kangen keluarga. Tapi saya harus menjalani ini,” ucapnya lirih.
Perasaan serupa juga dirasakan Ana Yuniarti, perempuan berusia 49 tahun yang sudah tiga kali menjalani Ramadan di lapas. Sama seperti Nanik, Ana terjerat kasus narkoba dan meninggalkan kehidupan lamanya.
Sebelum masuk lapas, ia mengaku banyak bolong puasa karena sibuk mengelola usaha frozen food. Kini, di bawah bimbingan petugas, ia bisa menjalani puasa dengan disiplin.
Kerinduan pada suasana Ramadan di rumah tetap ada. Ia merindukan sahur bersama keluarga, berbuka di meja makan, hingga tarawih di masjid. Untungnya, keluarga yang tinggal di Kecamatan Kedungkandang rutin menjenguk, menjadi penghibur di tengah hari-hari panjang di balik tembok lapas.
Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Dian Ekawati mengatakan, Ramadan selalu membawa perubahan bagi warga binaan. Terutama bagi mereka yang baru pertama kali menjalani puasa di lapas.
”Biasanya saat saya menyampaikan pesan sebelum puasa dimulai, banyak yang terharu karena rindu keluarga,” jelas Dian, yang telah mendampingi warga binaan selama 26 tahun.
Ia menambahkan, tidak sedikit penghuni lapas yang justru merasa punya kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan. ”Mereka sering bilang, meskipun rindu keluarga, di sini mereka bisa lebih fokus beribadah,” ungkapnya.
Di balik dinding tinggi dan pintu besi yang terkunci rapat, Ramadan ternyata tetap berjalan khusyuk. Bagi sebagian perempuan di dalamnya, bulan suci bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi juga belajar memaafkan diri sendiri, memperbaiki masa lalu, dan menata harapan untuk kehidupan baru setelah bebas nanti. (*/adn)
Editor : A. Nugroho