Wartelsus Jadi Penghubung Rindu dengan Keluarga
RAMADAN di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang selalu dimulai dengan ritme yang sama. Suara pintu besi dibuka, langkah kaki para warga binaan di lorong, dan aroma makanan yang mulai disiapkan untuk sahur. Di tengah rutinitas yang berulang itu, Ana Yuniarti menjalani Ramadan yang berbeda dari kebanyakan orang.
Sudah tiga tahun terakhir, perempuan berusia 49 tahun itu tidak lagi menghabiskan bulan puasa bersama keluarganya di rumah di Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Sejak tersandung kasus narkoba, Ana harus menjalani hari-harinya di balik tembok tinggi lapas perempuan.
Ramadan yang dulu selalu identik dengan keluarga kini diganti dengan rutinitas bersama para warga binaan lain. Sahur bersama di ruang makan lapas, menjalani ibadah di dalam blok, hingga berbuka puasa bersama rekan-rekan sesama penghuni.
Semuanya berjalan dalam jadwal yang tertata. Meski suasana itu perlahan menjadi kebiasaan baru, rasa rindu pada rumah tetap muncul di setiap Ramadan datang.
Ana masih ingat betul bagaimana dulu ia dan keluarganya menghabiskan waktu menjelang berbuka. Biasanya, ia keluar rumah bersama anak-anak untuk mencari takjil di sekitar Kotalama. Deretan penjual makanan dadakan selalu ramai setiap sore Ramadan.
Ada kolak, gorengan, es buah, hingga aneka jajanan yang aromanya bercampur di udara. Setelah itu mereka akan berbuka bersama di rumah, lalu melanjutkan salat tarawih di masjid dekat tempat tinggalnya.
Kini semua itu hanya tinggal kenangan. Ana hanya bisa membayangkan kembali suasana-suasana sederhana tersebut setiap kali Ramadan datang. ”Kadang kepikiran ingin beli takjil di sekitar rumah lagi,” ujarnya pelan.
Meski begitu, harapan untuk kembali ke rumah mulai terasa dekat. Ana menyebut masa hukumannya sudah hampir selesai. Jika tidak ada perubahan, ia kemungkinan bisa pulang setelah Lebaran tahun ini karena sudah menjalani hukuman subsider.
”Kebetulan saya sudah mau pulang. Mungkin setelah Lebaran,” katanya. Menjelang waktu itu tiba, Ana berusaha menahan rindu dengan cara sederhana. Yakni menunggu hari kunjungan keluarga.
Selama Ramadan, pelayanan kunjungan di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang tetap dibuka seperti biasa, yakni setiap Selasa dan Kamis. Hari-hari itu selalu menjadi momen yang ditunggu oleh para warga binaan.
Jika tidak sedang sibuk, anak-anaknya biasanya datang menjenguk. Pertemuan singkat di ruang kunjungan itu menjadi pengobat rindu yang sudah menumpuk berbulan-bulan.
Di luar jadwal kunjungan, Ana sesekali menghubungi keluarganya melalui warung telepon khusus (wartelsus) yang disediakan di dalam lapas. Percakapan mereka biasanya sederhana, namun penuh kehangatan.
”Kalau telepon, anak-anak sering tanya saya mau makan apa,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ana tidak pernah meminta yang macam-macam. Menu favoritnya cukup sederhana, nasi dengan sayur. Jenis sayurnya pun tidak spesifik. Baginya, apa saja terasa nikmat jika berasal dari keluarga.
Sesekali, saat anak-anak datang menjenguk, ia juga meminta dibawakan jajan kiloan. Bukan untuk dimakan sendiri, melainkan untuk dibagi dengan teman-teman satu blok. ”Biar bisa dimakan bareng-bareng,” katanya.
Di dalam lapas, kebersamaan dengan sesama warga binaan sering kali menjadi cara lain untuk mengusir sepi. Namun tidak semua warga binaan memiliki jarak yang dekat dengan keluarga seperti Ana.
Wiwin April Melianti, misalnya, harus menempuh jarak sekitar 115 kilometer dari keluarganya di Kabupaten Kediri. Pertemuan dengan keluarga tidak bisa sesering yang ia harapkan.
Sementara itu, Nanik Mustika bahkan harus menahan rindu yang jauh lebih panjang. Perempuan itu berasal dari Kota Medan. Jarak sekitar dua ribu kilometer memisahkannya dari anak-anak yang masih kecil.
Karena jarak yang begitu jauh, ia jarang menerima kunjungan langsung. Cara paling sering untuk melepas rindu hanyalah lewat suara di telepon.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak (Binadik) Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Sri Witayanti mengatakan, perasaan rindu keluarga memang hampir selalu muncul di kalangan warga binaan, terutama saat Ramadan.
Selama enam tahun bertugas di lapas tersebut, ia telah melihat banyak cerita serupa. ”Ada yang rindu sahur bersama keluarga, ada yang rindu tarawih di kampungnya,” ujarnya. Karena itu, pihak lapas berusaha memberi kesempatan bagi para warga binaan untuk tetap berhubungan dengan keluarga.
Pelayanan kunjungan tetap dibuka selama Ramadan dengan jadwal yang sama seperti hari biasa, yakni Selasa dan Kamis. Hanya saja, jam kunjungan ditutup lebih awal. ”Biasanya sampai pukul 12.00, tapi selama Ramadan ditutup pukul 11.30,” jelas perempuan yang akrab disapa Wita tersebut.
Selain kunjungan langsung, fasilitas wartelsus juga disediakan agar para warga binaan tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga. Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Dian Ekawati menjelaskan, telepon tersedia di berbagai titik blok hunian.
Di blok satu terdapat empat titik wartel, blok dua enam titik, blok tiga enam titik, blok empat delapan titik, dan blok lima juga delapan titik. Selain itu terdapat enam kamar bicara umum yang bisa digunakan warga binaan.
Durasi telepon pun diatur berbeda-beda. ”Ada yang sepuluh menit, ada yang lima belas menit, tergantung jumlah penghuni blok,” jelas Dian yang telah 26 tahun mendampingi warga binaan.
Namun penggunaan telepon tidak selalu ramai. Sebab setiap panggilan harus dibayar menggunakan saldo yang dimiliki warga binaan. Saldo itu biasanya berasal dari kiriman keluarga melalui rekening atau uang elektronik berbasis chip. (*/adn)
Editor : A. Nugroho