12 Orang Bertugas Siapkan Menu Sahur dan Berbuka
JARUM jam baru menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika aktivitas mulai bergerak di dalam Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Para warga binaan bergegas menyantap sahur yang telah dibagikan petugas. Ramadan di balik tembok penjara memang terasa berbeda.
Tidak ada dapur keluarga, tidak ada suara anak-anak yang dibangunkan sahur. Namun ratusan perempuan di sana tetap menjalani bulan suci dengan ritme kehidupan yang perlahan mereka biasakan.
Menu sahur dimakan bersama di blok masing-masing. Suasananya sederhana, tetapi terasa hangat oleh kebersamaan para penghuni lapas. Di tempat itulah Ramadan dijalani dengan jadwal yang tertata rapi dari dini hari hingga menjelang malam.
Sebelum menjalani hari-hari di balik jeruji, masing-masing warga binaan memiliki rutinitas Ramadan yang berbeda. Nanik Mustika misalnya. Sebelum berada di dalam lapas, ia terbiasa menghabiskan waktu Ramadan dengan mengurus anak-anaknya.
Bangun sahur, menyiapkan makanan untuk keluarga, hingga menjalani aktivitas rumah tangga menjadi bagian dari kesehariannya. Sementara Ana Yuniarti memiliki kesibukan lain. Ia mengelola toko frozen food. Ramadan biasanya menjadi momen paling ramai bagi usahanya. Di sela-sela berdagang, Ana juga sering menemani anak-anaknya berburu takjil di sore hari sebelum melaksanakan salat tarawih bersama.
Berbeda lagi dengan Wiwin April Melianti. Perempuan asal Kabupaten Kediri itu biasanya menghabiskan Ramadan dengan kegiatan mengajar. Ia mengajari anak-anak dari pondok pesantren di kampung halamannya.
Kini, semua rutinitas tersebut berubah. Ramadan dijalani dengan aktivitas baru yang sudah disusun oleh pihak lapas.
Selepas sahur, sebagian warga binaan memilih melanjutkan ibadah dengan salat tahajud. Nanik termasuk salah satunya. Ia memanfaatkan waktu sunyi menjelang subuh untuk berdoa dan membaca ayat-ayat suci.
Setelah salat subuh, beberapa warga binaan kembali beristirahat. Baru sekitar pukul 05.00 aktivitas mulai kembali bergerak. Blok dibuka dan para penghuni lapas bersiap menjalani berbagai kegiatan pembinaan.
Salah satu kegiatan yang rutin dilakukan selama Ramadan adalah pondok pesantren. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 08.30.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan tadarus Alquran yang biasanya berlangsung hingga menjelang salat Ashar. Suasana di dalam lapas pun berubah menjadi lebih religius.
Di sela kegiatan keagamaan, para warga binaan juga mengikuti berbagai aktivitas keterampilan. Nanik memilih bergabung dalam kelompok menjahit. Aktivitas tersebut kini menjadi salah satu kegiatan yang ia tekuni setiap hari.
”Kalau saya selain pondok pesantren dan tadarus juga ikut kegiatan menjahit,” ujarnya. Produk yang dihasilkan cukup beragam. Dalam satu bulan, kelompok menjahit di lapas itu mampu menyelesaikan ratusan pesanan. Mulai dari baju toga wisuda, pakaian untuk umrah, sweater, hingga jaket.
Di sudut lain ruangan keterampilan, Ana dan Wiwin memilih kegiatan berbeda. Mereka menekuni kerajinan merajut. Benang-benang yang semula hanya gulungan sederhana berubah menjadi tas, aksesori, hingga berbagai kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.
Tak hanya kegiatan seni kriya, lapas juga menyediakan aktivitas tata boga. Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Sri Witayanti menjelaskan, sebagian warga binaan mendapat kesempatan bertugas di dapur. Namun jumlahnya terbatas.
”Hanya ada 12 warga binaan yang bertugas di dapur dan mereka didampingi dua petugas,” ujarnya.
Menurut perempuan yang akrab disapa Wita itu, mereka yang dipilih bukan sembarang orang. Warga binaan yang bertugas di dapur harus memiliki minat di bidang memasak serta telah melalui proses asesmen dari pihak lapas.
Biasanya mereka mulai menyiapkan makanan sejak pukul 09.00 atau 10.00. Menu pertama yang dimasak adalah makanan bagi 45 warga binaan non-muslim yang tidak menjalankan puasa. Setelah itu dapur kembali sibuk menyiapkan makanan bagi 395 warga binaan muslim yang akan berbuka puasa.
Menjelang sore, aktivitas di dalam lapas mulai melambat. Para warga binaan kembali ke blok masing-masing. Sekitar pukul 15.00, makanan berbuka puasa sudah dibagikan oleh petugas. Namun mereka tidak langsung menyantapnya. Makanan itu disimpan sambil menunggu waktu berbuka tiba.
Berbeda dengan masyarakat pada umumnya yang bisa berburu takjil di luar rumah, para warga binaan hanya bisa menunggu waktu berbuka di dalam blok. Untuk mengisi waktu, mereka memanfaatkan berbagai fasilitas sederhana yang tersedia. Ada yang menonton televisi, membaca buku, atau membersihkan kamar.
Sebagian lainnya memilih mengobrol santai dengan sesama penghuni lapas. Fasilitas televisi dan buku-buku yang tersedia di blok cukup membantu mengusir rasa bosan menjelang magrib. (*/adn)
Editor : A. Nugroho