Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kasus Penipuan Keuangan di Kota Malang Tinggi, Berikut Modus Pelaku Gasak Uang

Aditya Novrian • Sabtu, 14 Maret 2026 | 11:50 WIB

Ilustrasi penipuan oknum berkedok pejabat daerah. (Finance Monthly/Ist)
Ilustrasi penipuan oknum berkedok pejabat daerah. (Finance Monthly/Ist)

MALANG KOTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat ada 691 layanan konsumen yang diterima. Angka itu meningkat 49,72 persen dibanding tahun sebelumnya. Permintaan informasi terkait asuransi, pembiayaan, hingga pengaduan aktivitas keuangan ilegal jadi paling banyak. Dari ratusan layanan itu, sebanyak 25 layanan berupa pengaduan.

Dari 25 pengaduan, sebanyak 30,43 persen terkait pinjaman online ilegal. Disusul 22,83 persen berupa aduan fraud eksternal atau penipuan. Kota Malang jadi wilayah paling banyak catat laporan jenis itu dengan total 20,58 persen.

Contoh utama penipuan yang terjadi seperti phishing atau penipuan email, false billing atau tagihan palsu. Selain itu ada juga pencurian data dan identitas, skimming ATM, serta penipuan kartu kredit. ”Untuk aduan penipuan paling tinggi memang Kota Malang, padahal daerah lain seperti Kabupaten Malang hanya 16 persen saja,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan.

Menurutnya, modus operasi yang digunakan juga makin beragam. Salah satu yang sedang marak yaitu mengirim undangan pernikahan yang saat dibuka adalah link scam. Secara nasional, sudah ada sekitar 397.028 rekening yang diblokir karena skema penipuan semacam itu.

 Baca Juga: Membedah Pentingnya Peningkatan Kompetensi Guru sebagai Investasi Pendidikan di Masa Depan

Namun itu hanya separo dari total 721.101 rekening yang dilaporkan terkena scam dengan total kerugian Rp 9,1 triliun. Dari dana sebanyak itu yang bisa diselamatkan hanya Rp 436,8 miliar saja. Itu karena, modus penipuan dengan mengirim link scam bisa langsung menyedot dana korban.

Modusnya, dana itu dilarikan secara multilayer dengan beragam format. Disebarkan melalui bank, virtual account, e-wallet, e-commerce, emas, hingga crypto. Itu menjadikan petugas sulit melacak uangnya.

Ada juga modus telepon dari bank. Padahal itu penipu yang belum diketahui pasti mendapat bocoran data nasabah dari mana. ”Biasanya dana korban yang terkena scam langsung hilang dalam waktu beberapa menit saja,” ujar Farid. Kejadian semacam itu harus segera dilaporkan agar aktivitas rekening bisa langsung diblokir sebelum dana disebar. Namun dalam kenyataannya, sebanyak 85 persen korban baru lapor 12 jam setelah kejadian.

Area Manager BSI Malang Waskito Vergino menuturkan jelang Lebaran modus penipuan lewat produk keuangan digital memang meningkat. Untuk itu nasabah harus selalu berhati-hati dan waspada. ”Kalau ada kendala apapun sebaiknya langsung mendatangi kantor cabang,” ujar dia. (aff/gp)

”Untuk aduan penipuan paling tinggi memang Kota Malang, padahal daerah lain seperti Kabupaten Malang hanya 16 persen saja,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan

 

Editor : Aditya Novrian
#Penipuan #penipuan uang #malang