Selama Ramadan, kajian agama di Lapas Perempuan Kelas IIA Malang menjadi lebih intens. Bagi warga binaan, momen tersebut menjadi ruang introspeksi sekaligus motivasi untuk memperbaiki diri.
NABILA AMELIA
LANGIT mulai gelap di halaman Lapas Perempuan Kelas IIA Malang. Setelah azan Isya berkumandang dan salat tarawih selesai dilaksanakan, para warga binaan tidak langsung kembali ke blok masing-masing. Mereka masih duduk rapi di saf, menunggu satu sesi lagi yang tak kalah dinanti yakni kajian agama.
Bagi sebagian warga binaan, kegiatan seperti itu dulu bukan bagian dari rutinitas. Namun selama Ramadan, suasana religius di dalam lapas membuat kajian agama menjadi lebih sering dilakukan. Tidak hanya dalam sesi pondok pesantren pada pagi hari, tetapi juga selepas salat tarawih di malam hari.
Kajian tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak sebelum Ramadan tiba. Pihak lapas mendatangkan ustadzah untuk memberikan pembekalan spiritual bagi para warga binaan sebagai persiapan menyambut bulan suci.
Bagi mereka yang baru pertama kali menjalani Ramadan di balik tembok lapas, momen itu sering kali menjadi ruang untuk merenung. Sebagian bahkan tak kuasa menahan haru ketika mendengar nasihat-nasihat keagamaan yang disampaikan para guru agama.
Apalagi sebelum menjalani masa hukuman, banyak di antara mereka yang terbiasa menghabiskan Ramadan bersama keluarga di rumah.
Kegiatan kajian agama kemudian berlanjut setiap hari melalui program pondok pesantren yang berlangsung pada pagi hari. Dalam sesi tersebut, para warga binaan belajar berbagai ilmu dasar keislaman.
Baca Juga: Cerita Warga Binaan yang Menjalani Ramadan di Balik Jeruji Besi (4)
Mulai dari tajwid atau cara membaca Alquran dengan benar, fiqh wanita, shirah nabawiyah yang menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW, hingga tauhid dan hafalan Alquran.
Sementara itu, pada malam hari setelah salat tarawih, kajian kembali digelar dalam bentuk ceramah singkat. Biasanya berlangsung sekitar 15 menit.
Kepala Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Perempuan Kelas IIA Malang Dian Ekawati mengatakan, selama Ramadan pihaknya menghadirkan dua ustadzah dari Pengurus Daerah Aisyiyah Kota Malang.
”Satu ustadzah bertugas sebagai imam salat tarawih dan satu ustadzah lainnya menyampaikan ceramah,” jelasnya.
Pada Ramadan tahun ini, pelaksanaan salat tarawih sempat mengalami penyesuaian. Beberapa hari pertama, kegiatan tersebut harus dipindahkan ke mushola kecil di dalam lapas.
Hal itu terjadi karena aula utama yang biasanya digunakan untuk salat berjamaah sedang menjalani perbaikan.
Ukuran mushola yang terbatas membuat pelaksanaan tarawih harus dilakukan secara bergiliran. Setiap malam hanya dua blok yang bisa mengikuti salat berjamaah di musala.
”Di sini ada lima blok, jadi ada satu blok yang sementara melaksanakan tarawih sendiri,” ujar Dian.
Setelah perbaikan aula selesai, salat tarawih akhirnya kembali dilaksanakan bersama-sama seperti sebelumnya. Bagi para warga binaan, kajian agama setelah tarawih sering kali meninggalkan kesan mendalam.
Salah satunya dirasakan oleh Ana Yuniarti, warga binaan asal Kelurahan Kotalama. Ia mengaku tersentuh ketika mendengar ceramah tentang makna puasa dan kehidupan orang-orang beriman.
”Kebetulan sebelum masuk ke lapas, ibadah saya masih bolong-bolong. Tapi di sini saya seperti menemukan hidayah,” ujarnya pelan.
Bagi Ana, masa menjalani hukuman justru menjadi waktu untuk memperbaiki diri. Ia bertekad ketika kelak kembali ke masyarakat, ia ingin lebih rajin beribadah dan menebus rasa bersalah kepada keluarganya.
Selama berada di dalam lapas, keluarga terutama anak-anaknya masih rutin menjenguk dan membawa berbagai kebutuhan. Hal itu membuatnya semakin ingin bangkit ketika suatu saat nanti kembali menghirup udara bebas.
”Mungkin nanti ada yang memandang saya sebelah mata. Tapi saya ingin fokus bekerja dan mencari rezeki yang halal. Yang penting bisa membahagiakan anak-anak,” katanya dengan suara sedikit bergetar.
Perasaan serupa juga dirasakan Wiwin April Melianti. Perempuan berusia 24 tahun itu masih mengingat betul salah satu materi ceramah yang disampaikan ustadzah selepas salat tarawih.
Ceramah tersebut membahas tentang tiga golongan manusia yang paling dicintai Allah SWT. Menurutnya, ustadzah menjelaskan bahwa manusia yang paling dicintai Tuhan adalah mereka yang bertakwa, rajin beribadah, serta menjalankan perintah-Nya.
”Dari situ saya jadi lebih semangat memperbaiki diri,” tuturnya.
Pesan yang disampaikan dalam kajian itu terasa sejalan dengan nasihat yang sering diberikan keluarganya dari rumah.
Mereka selalu mengingatkan Wiwin agar tetap bersyukur, bersabar, dan tidak mengulangi kesalahan di masa lalu.
Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang tertutup setiap malam, Ramadan di dalam lapas berjalan dengan cara yang berbeda. Namun bagi sebagian warga binaan, justru di tempat itulah mereka menemukan kesempatan untuk kembali mengenal diri sendiri. (*/adn)
Editor : Aditya Novrian