Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Serap Energi Negatif, Ratusan Umat Hindu Gelar Ritual Tawur Agung Kesanga di Lapangan Rampal

Nabila Amelia • Kamis, 19 Maret 2026 | 09:27 WIB
JELANG NYEPI: Ogoh-ogoh diarak ratusan umat Hindu menuju Lapangan Rampal, kemarin (18/3). Ogoh-ogoh itu jadi bagian utama dalam ritual Tawur Agung Kesanga. (Darmono / Radar Malang)
JELANG NYEPI: Ogoh-ogoh diarak ratusan umat Hindu menuju Lapangan Rampal, kemarin (18/3). Ogoh-ogoh itu jadi bagian utama dalam ritual Tawur Agung Kesanga. (Darmono / Radar Malang)

MALANG KOTA - Hari Raya Nyepi atau Saka Warsa 1948 bakal berlangsung pada hari ini (19/3). Sebelum Nyepi, ada ritual Tawur Agung Kesanga yang digelar di Lapangan Rampal kemarin (18/3). Dalam ritual itu, ratusan umat Hindu mengarak ogoh-ogoh.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang Prof Ir N G Made Wartana mengatakan, rangkaian Nyepi sudah berlangsung sejak 14 Maret lalu. Dimulai dengan upacara di Jalanidhi atau laut. Makna upacara di laut yakni melebur segala mala atau kotoran selama di dunia. 

”Kemudian kita memohon air suci untuk penyucian. Air dari laut dibawa saat Tawur Agung Kesanga untuk dipercikkan oleh umat,” kata dia. Tawur Agung Kesanga memiliki makna membayar sari-sari alam yang dinikmati selama hidup. 

Di samping itu, ada nyomia yang berarti upacara untuk mengharmonisasi alam semesta. Sementara ogoh-ogoh yang diarak warga dimaksudkan untuk menyerap energi-energi negatif pada diri masing-masing orang dan semesta. 

Ada empat ogoh-ogoh yang kemarin diarak. Ada yang disebut angkara murka tungkul, gedhug meled, rudra dursasana, dan satu ogoh-ogoh karya para pelajar SMK Negeri 11 Kota Malang.

Wartana melanjutkan, Tawur Agung Kesanga dilaksanakan di Lapangan Rampal yang merupakan salah satu pusat kota. ”Karena dari keyakinan umat Hindu, itu ditujukan untuk menyerap energi-energi negatif yang dekat dengan pusat kota. Seperti pemerintahan, pasar, lingkungan sekolah, dan keramaian,” imbuh dia.

Pihaknya berharap lewat ritual Tawur Agung Kesanga, kondisi di Malang Raya bisa semakin tenteram. Selain itu juga penuh toleransi dan kedamaian. Selama mengarak ogoh-ogoh, ada penampilan seperti tari rejang renteng hingga iringan barongsai.

Setelah ritual itu, baru digelar Nyepi. Saat Nyepi, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian. Semacam puasa selama 24 jam dari perbuatan yang berapi-api. Tidak berhenti di sana. Selanjutnya ada ritual Ngembak Geni yang dipusatkan di Kota Batu. Maknanya sudah kembali bebas.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang hadir menyampaikan bahwa Nyepi dan Ramadan yang bersamaan merupakan momentum kebersamaan sekaligus toleransi yang baik. ”Saya berterima kasih dan mengapresiasi bentuk toleransi yang baik di Kota Malang sekarang,” ucap dia. (mel/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
#lapangan rampal #nyepi 2026 #tawur agung kesanga #umat hindu kota malang