Dalam dua tahun terakhir, angka pelaporan kendaraan baru berada di kisaran 443 ribu unit. Pada 2024, tercatat 443.734 kendaraan melakukan pelaporan pajak, dan pada 2025 angka ini tetap tinggi, yaitu 443.287 kendaraan baru. Mayoritas kendaraan baru adalah sepeda motor dan mobil, sementara mobil dan truk memberikan kontribusi lebih sedikit.
Sutanto, Pengelola Data Pelayanan Perpajakan (PDPP) Samsat Malang Kota menekankan, tingginya jumlah kendaraan baru menunjukkan kebutuhan mobilitas warga yang terus meningkat. ”Dua bulan pertama tahun ini, angka pelaporan sudah mencapai 364.216 kendaraan. Angka ini menunjukkan bahwa masyarakat masih aktif membeli kendaraan baru untuk kegiatan sehari-hari,” katanya.
Faktanya, jumlah kendaraan baru yang tinggi menjadi salah satu penyebab utama kemacetan. Jalan-jalan utama di pusat kota dan kawasan padat aktivitas sering dipenuhi kendaraan, meski tidak semua kendaraan baru digunakan sekaligus. Peningkatan mobilitas masyarakat, kendaraan lama yang masih beroperasi, dan kendaraan baru yang terus bertambah membuat volume kendaraan di jalan tetap tinggi.
Baca Juga: Dinas Perhubungan Kota Malang Siapkan Skema Contraflow di Dua Titik Berpotensi Macet
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang, Handi Priyanto, menambahkan, tingginya kendaraan baru juga menjadi peluang untuk meningkatkan penerimaan pajak, terutama Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). ”Tahun lalu realisasi pajak BBNKB mencapai Rp 52 miliar dari target Rp 61 miliar. Tahun ini, kami optimistis target Rp 60 miliar bisa tercapai dengan strategi jemput bola dan sosialisasi ke diler kendaraan baru,” ujarnya.
Sementara itu, pengendara yang setiap hari melewati jalanan kota merasakan dampak langsung. ”Beberapa kilometer saja bisa setengah jam, kadang lebih, apalagi saat pagi dan sore,” keluh Sari, seorang pekerja kantoran.
Baca Juga: Dinas Perhubungan Kabupaten Malang Siagakan Tim Pengurai di Titik Rawan Macet
Fenomena ini menegaskan satu hal. Kemacetan Kota Malang tidak akan berkurang selama jumlah kendaraan baru tetap tinggi dan mobilitas masyarakat terus meningkat. Infrastruktur jalan yang terbatas dan kepadatan kendaraan lama turut memperparah kondisi, sehingga solusi jangka panjang tetap dibutuhkan. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho