MALANG KOTA, RADAR MALANG - Saat krisis ekonomi dan politik terjadi pada 1998 lalu, komunitas warga Tionghoa kerap menjadi target utama kerusuhan rasial yang brutal. Rasa cemas dan khawatir tentu menyelimuti perasaan warga etnis Tionghoa saat itu. Termasuk mereka yang tinggal di Kota Malang, terutama di kampung Pecinan.
Salah satu tokoh Tionghoa di Malang bernama Soetjipto Tanojo atau Tan Giok Leng yang saat itu menjabat Ketua Kelenteng Eng Ang Kiong berusaha meredam kekhawatiran kelompoknya. Hingga terbentuklah Forum Komunikasi Warga Tionghoa Malang Raya atau biasa disingkat dengan FKWTMR. Mereka bersatu untuk saling menjaga keamanan golongannya.
Saat krisis politik mereda, forum yang berangkat dari kecemasan itu banting setir menjadi forum bakti sosial. Aksi pertama pada 2001 yakni membantu korban banjir bandang di Situbondo. ”Karena anggota kami rata-rata pengusaha, kami mintai bantuan seikhlasnya dan saat itu terkumpul 2.700 sak beras yang diangkut 17 truk untuk para korban,” cerita Wakil Ketua Umum FKWTMR Sutjipto Goenawan saat ditemui di sela kegiatan bakti sosial, beberapa waktu lalu.
Sejak awal, pria yang memiliki nama Tionghoa Go See Kay itu sudah menemani almarhum Soetjipto Tanojo menjalankan FKWTMR. Dia memilih posisi wakil ketua sejak awal berdirinya forum, 24 tahun lalu. Keduanya sudah berkeliling Indonesia untuk menyalurkan bantuan. Seperti bencana meletusnya Gunung Kelud di Kediri, gempa di Lombok, hingga penyaluran ribuan paket bantuan semasa Covid-19.
Goenawan mengenang salah satu bantuan sosial untuk korban gempa di Lombok tahun 2018 silam. Saat itu, pada usia 63 tahun, dia terjun langsung ke lokasi bencana. Mencari tahu kebutuhan korban yang mendesak untuk dibagikan. ”Waktu itu saya ke daerah pegunungan, bantuan pangan sudah melimpah, tapi ternyata masyarakat justru kedinginan dan butuh selimut,” cerita Goenawan.
Dia pergi ke Malang untuk mencari dua ribu selimut. Ternyata stoknya sudah habis. Lalu dia berpindah ke Semarang dan akhirnya bisa menemukan selimut yang sesuai. Goenawan juga tak lupa saat itu Jawa Pos juga menyumbang 1.200 selimut yang sama bersama dirinya.
Ciri khas penyaluran bantuan dari FKWTMR memang sangat akurat. Sebab pengurusnya aktif terjun langsung ke lapangan sehingga tahu betul kebutuhan para korban. Pengurusnya rela meluangkan waktu di sela kesibukan mengelola bisnis masing-masing untuk membantu korban.
Hingga kini, forum warga Tionghoa itu tetap eksis dan aktif berbagi kepada korban bencana maupun rakyat miskin. Motivasi utamanya tentu karena empati yang sangat tinggi. Goenawan juga menyebut ada kepuasan sendiri baginya saat melihat korban bencana tersenyum saat menerima bantuan.
Motivasi untuk terus membantu warga yang kesulitan itu berangkat dari pengalaman pribadi Goenawan. Sejak usia 17 tahun, dia sudah bekerja serampangan dan mulai menekuni impor pupuk pada usia 19 tahun. Hingga saat ini dia sukses menjalankan beberapa bisnis di bidang ekspor-impor apel hingga ternak ayam potong.
Begitu juga dengan Sutjipto Harsono, yang banyak meluangkan waktu mengurus forum di tengah kesibukannya menjalankan bisnis penyamakan kulit. Sejak lulus dari jurusan Chemical Engineering dan Business Administration di Amerika, Harsono sudah aktif meneruskan bisnis keluarga. Pada usia 22 tahun dia banyak merombak sistem perusahaan yang sudah berdiri tiga generasi.
Harsono aktif di forum warga Tionghoa dalam enam tahun terakhir. Kini dia dipercaya sebagai ketua umum. Kegiatan sosial mereka tetap rutin berjalan. Seperti bagi-bagi sembako untuk loper koran dan masyarakat kurang mampu jelang Lebaran. Kegiatan itu konsisten berlangsung hingga lebih dari 20 tahun.
”Waktu banjir di Malang Selatan akhir 2024 lalu, kami juga aktif membantu warga,” ujar adik dari Goenawan itu. Ketika itu dia terjun langsung ke Desa Sitiarjo hingga Bantur untuk menyalurkan bantuan. Kini, dia juga fokus mendidik generasi FKWTMR selanjutnya agar bisa meneruskan perjuangan mereka. (*/by)
Editor : Bayu Mulya Putra