MALANG KOTA, RADAR MALANG - Penyebaran campak di Indonesia selama beberapa waktu terakhir cukup mengkhawatirkan. Terbaru, seorang dokter di salah satu rumah sakit di Kabupaten Cianjur dikabarkan meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran, pemkot akan menggelar imunisasi kejar atau catch-up campaign untuk campak pada awal April.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif mengatakan, sebetulnya imunisasi kejar digelar mulai pekan lalu. Namun, pihaknya masih melakukan verifikasi data. Sebab, datanya berbeda dengan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal darurat untuk campak yang digelar Februari lalu.
Dalam ORI, vaksin diberikan tanpa memandang apakah anak sudah imunisasi atau belum. Untuk imunisasi kejar campak, yang mendapat vaksin adalah anak-anak usia 9 sampai 59 bulan. ”Namun, kalau anak-anak yang sudah lengkap status imunisasinya ya tidak kami masukkan sasaran. Sementara ORI kami beri imunisasi tanpa memandang status imunisasinya,” kata Husnul, kemarin (30/3).
Dia menarget imunisasi kejar campak bisa dilakukan awal April mendatang. ”Mungkin tanggal 1 April. Untuk jumlah sasarannya sekitar 12 ribu anak,” imbuh pejabat eselon II B Pemkot Malang tersebut.
Di tempat lain, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr dr Wisnu Barlianto MSi Med SpA(K) menjelaskan bahwa sejak usia dini, anak-anak perlu mendapatkan vaksin lengkap. Untuk imunisasi campak biasanya dilakukan saat anak berusia 9 bulan.
Kemudian ada imunisasi campak lagi pada usia 18 bulan dan usia sekolah dasar (SD). Sayangnya tidak semua masyarakat memiliki kesadaran untuk melengkapi status imunisasi. Ada pula yang belum melengkapi status imunisasi pada usia dewasa.
Wisnu juga mengimbau agar masyarakat segera melengkapi status imunisasi. Terutama sejak usia anak-anak. ”Karena campak itu bisa menyebabkan komplikasi hingga ke otak dan paru-paru,” beber dia.
Komplikasi salah satunya dialami oleh seorang dokter berusia 26 tahun yang bertugas di Kabupaten Cianjur. Campak tersebut sudah merembet hingga menyebabkan beberapa kondisi seperti komplikasi pneumonia. Akibatnya, dokter tersebut gugur.
Untuk itu, Wisnu mengimbau agar imunisasi dilakukan pada anak-anak maupun orang dewasa yang status imunisasinya belum lengkap. ”Khusus pada dewasa, kalau belum lengkap wajib imunisasi campak 2 kali. Kalau sewaktu kecil sudah lengkap cukup satu kali,” imbuh dia. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra