MALANG KOTA, RADAR MALANG - Operasional Bus Trans Jatim di Malang Raya sudah memasuki bulan keenam. Sejak beroperasi pada 20 November 2025 lalu, animo masyarakat untuk memanfaatkan program dari Pemprov Jatim itu cukup tinggi. Sayangnya, sampai saat ini masih ada sarana dan prasarana bus yang belum dilengkapi.
Kepala Seksi (Kasi) Sarana dan Angkutan Jalan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur Cito Eko Yuly Saputro mengatakan, penambahan prasarana menjadi prioritas pihaknya pada tahun ini.
”Kami berencana menambahkan markah, warning light, dan Pedestrian Crossing Traffic Light (PCTL),” ucap dia. Penambahan beberapa prasarana itu bakal disesuaikan dengan kondisi di masing-masing titik perhentian.
Tidak semua titik henti bakal mendapat penambahan prasarana. Pihaknya mengutamakan titik henti yang memiliki bangkitan atau pengguna bus cukup tinggi.
”Dari data yang kami miliki, ada lima titik henti dengan bangkitan yang tinggi. Yakni Shelter Kajoetangan, Shelter Terminal Madyopuro, Shelter Eksisting Veteran 2, Shelter Eksisting Veteran 1, dan Stasiun Malang Kota Baru pintu barat,” papar Cito.
Kelima titik henti itu masuk daftar yang akan mendapat tambahan prasarana keselamatan. Dia merinci, Halte atau Shelter Kajoetangan tercatat sebagai titik henti yang memiliki bangkitan paling tinggi. Jumlahnya mencapai 14.918 penumpang per hari. Baik penumpang yang naik maupun turun.
Kemudian dilanjutkan dengan Shelter Terminal Madyopuro. Setiap hari, ada 6.876 penumpang yang menggunakan Bus Trans Jatim di sana.
Selanjutnya ada Shelter Eksisting Veteran 2 dengan 6.382 penumpang per hari. Selain itu ada Shelter Eksisting Veteran 1 dengan 5.344 penumpang. Terakhir, ada Stasiun Malang Kota pintu barat dengan 5.120 penumpang per hari.
Selain penambahan prasarana, dalam waktu dekat dishub akan melakukan survei untuk mencari titik perhentian yang baru. Titik henti tersebut sebagai ganti dari titik henti di Jalan Raya Tlogomas (depan MAN 1 Kota Malang) yang Februari lalu dinonaktifkan.
Mereka akan melakukan survei bersama paguyuban angkot Kota Malang dan Komunitas Transport For Malang. ”Usulan titiknya ada di perbatasan antara Kabupaten Malang dengan Kota Batu,” imbuh Cito.
Ada pula usulan di kawasan dekat GOR Ken Arok dan Terminal Hamid Rusdi. Beberapa usulan itu bakal dikaji kembali oleh pihaknya. Tujuannya agar setelah dipasang, tidak ada pergolakan terkait titik henti.
Selebihnya, Cito menyebut bahwa operasional Bus Trans Jatim di wilayah Malang Raya berjalan baik.
Hanya ada kendala minor seperti videotron atau running text di bus yang mati. ”Lalu yang paling banyak adalah permintaan untuk penambahan armada,” sambung dia. Khusus untuk permintaan itu, pihaknya belum bisa merealisasikannya. Sebab, penambahan armada belum masuk dalam APBD Provinsi Jatim 2026.
Pihaknya juga belum mendapat informasi terkait rencana koridor selanjutnya di Malang Raya dari Bappeda Provinsi Jawa Timur.
Kendala lain yang sering ditemui, terkadang ada kerusakan minor di bagian mesin. Jika ditemui kendala itu, penanganan bakal langsung dilakukan.
Sebab, operasional Bus Trans Jatim di Malang Raya ditangani langsung oleh konsorsium yang beranggotakan perusahaan transportasi besar yakni PO Restu, PO Tentrem, dan PO Bagong. ”Namun untuk kerusakan mesin juga jarang karena armadanya kan masih baru,” tutur Cito. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra