Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Komunitas Transport For Malang Soroti Notifikasi Bus Trans Jatim yang Mepet

Nabila Amelia • Selasa, 31 Maret 2026 | 17:31 WIB
JALAN ENAM BULAN: Salah satu unit Bus Trans Jatim melintas di Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, kemarin. (DARMONO/RADAR MALANG)
JALAN ENAM BULAN: Salah satu unit Bus Trans Jatim melintas di Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, kemarin. (DARMONO/RADAR MALANG)

 MALANG KOTA, RADAR MALANG - Komunitas Transport For Malang turut menyoroti operasional Bus Trans Jatim yang sudah berjalan enam bulan. Wahyu Styo Pratama, perwakilan komunitas menyebut, ada beberapa aspek yang menjadi perhatian pihaknya. Seperti ketersediaan armada, terutama pada jam kerja maupun hari libur. 

Pihaknya juga menyoroti halte di Jalan Raya Tlogomas. Tepatnya di depan MAN 1 Kota Malang. Sebelumnya terdapat sepasang titik henti berupa rambu di sana. Namun, rambu itu dinonaktifkan karena ada masukan dari paguyuban angkutan kota (angkot) Malang.

Setelah dinonaktifkan, rencananya ada pengganti titik perhentian di lokasi lain. ”Kami menunggu percepatan survei pengganti titik henti yang sebelumnya didiskusikan dengan Organda,” kata Wahyu.

Wahyu melanjutkan, pemerintah di tiga daerah di Malang Raya dirasa perlu memiliki andil dalam merangkul angkutan konvensional. Sebab, pihaknya melihat angkot masih kurang mendapat atensi. 

”Itu tecermin dari wacana dan janji yang terus menerus dilontarkan wali kota terkait angkot pelajar, tapi belum ada realisasinya,” sambung dia.

Wahyu bersama Komunitas Transport For Malang pun berharap ke depan ada perbaikan layanan pada Bus Trans Jatim. 

Salah satunya yakni sarana informasi berupa notifikasi. Dari beberapa perjalanan yang pernah mereka lakukan menggunakan Bus Trans Jatim, notifikasi saat mendekati titik henti terdengar terlalu mepet. 

Seperti saat mengarah dari Kota Batu ke Jalan Veteran. ”Alhasil, penumpang menjadi tergopoh karena belum mempersiapkan diri. Terlebih bagi penumpang yang berasal dari luar Malang Raya,” imbuh Wahyu. 

Dia menilai seharusnya informasi halte berikutnya sudah diberikan sejak pintu tertutup. Sehingga waktu persiapan bagi penumpang yang akan turun lebih optimal.

Sarana dan prasarana lain yang perlu dikembangkan yakni pengembangan titik henti untuk menjadi brand. Terutama di titik henti dengan jumlah penumpang tertinggi. Menurut Wahyu, titik henti merupakan aset yang bisa menjadi non-farebox revenue atau pemasukan di luar tiket. 

Wujudnya bisa berbentuk pemasangan advertising atau iklan di titik henti. Selain itu, Wahyu melihat perlu survei secara berkala untuk origin and destination (O/D) atau trayek yang cocok. Dengan demikian bisa semakin menarik minat masyarakat untuk beralih ke transportasi umum.

Sarana lain yang dia sebut bagus dan harus dipertahankan yakni metode pembayaran. ”Karena sebagian warga nyaman dengan (pembayaran) uang tunai, namun yang sudah terbiasa dengan kartu uang elektronik ataupun QRIS juga tersedia,” tutup Wahyu. (mel/by)

Editor : Bayu Mulya Putra
#trans jatim koridor malang #evaluasi trans jatim #Trans Jatim #Pemprov Jatim