Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dedikasi Jahfal Alafa Jirfasi Kembangkan Batik Cungkup agar Tetap Dilirik Generasi Muda

Aditya Novrian • Jumat, 3 April 2026 | 13:50 WIB
DIBUAT TERBATAS: Jahfal Alafa Jirfasi memamerkan salah satu batik cungkup yang diproduksi di rumahnya kemarin siang.
DIBUAT TERBATAS: Jahfal Alafa Jirfasi memamerkan salah satu batik cungkup yang diproduksi di rumahnya kemarin siang.

Satu Motif Hanya untuk Dua sampai Tiga Lembar Kain

AROMA malam yang dipanaskan masih samar tercium dari sudut rumah sederhana di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kabupaten Malang. Di ruang tamu yang tak begitu luas, puluhan lembar kain batik digelar rapi. Sebagian terlipat, sebagian lain dibiarkan terbentang seolah ingin bercerita.

Di sanalah tangan-tangan muda milik Jahfal Alafa Jirfasi bekerja merangkai jejak sejarah menjadi motif yang hidup. Ukuran kain-kain itu seragam, sekitar 2,2 x 1,7 meter. Cukup untuk satu gaun perempuan atau sehelai kemeja laki-laki.

Namun, yang membuatnya berbeda bukan sekadar ukuran atau warna. Setiap helai membawa potongan kisah. Tentang Malang, tentang candi, tentang warisan yang tak sekadar dipandang, tetapi dikenakan.

Baca Juga: Limbah Batik Diolah Menjadi Malam Lerob

Pria 22 tahun itu menyebutnya sebagai Batik Cungkup. Sebuah nama yang perlahan mulai dikenal, terutama di kalangan pencinta batik yang mencari sentuhan lokal. Di antara motif yang ia ciptakan, ada sosok lembu Nandi yang diambil dari relief Candi Jago.

Lembu itu bukan sekadar gambar. Ia menghadirkan jejak kepercayaan masa lampau, ketika Nandi dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. ”Dari cerita yang saya dapat, Nandi itu bagian penting dalam ajaran Hindu,” ujar Jahfal sembari merapikan salah satu kain.

Tak jauh dari motif itu, ada kisah lain yang tak kalah menarik. Seekor angsa digambarkan tengah terbang, menggigit seutas kayu yang dipegang dua kura-kura. Sekilas tampak sederhana, tetapi kisah di baliknya menyimpan pesan.

Baca Juga: Melestarikan Batik Tulis dan Tenun Badui, ”Pekatan Batik”Terus Berkembang Menghidupkan Wastra Nusantara Bersama Pemberdayaan BRI

Tentang keinginan, tentang kesabaran, dan tentang akibat dari lengah sesaat. Relief itu juga terpahat di Candi Jago, lalu dipindahkan Jahfal ke atas kain yang menghidupkannya kembali dalam warna.

Perjalanan Batik Cungkup bermula pada 2020. Saat itu, Jahfal baru saja lulus SMA. Di tengah jeda sebelum melanjutkan pendidikan, ia memilih tidak berdiam diri. Ada kegelisahan yang mendorongnya berupa bagaimana budaya lokal bisa tetap dekat dengan generasi muda.

Rumahnya yang hanya berjarak puluhan meter dari Candi Jago menjadi titik awal. Ia mulai mengamati relief, memotret detail, lalu mencoba menerjemahkannya ke dalam motif batik. Perlahan, koleksinya bertambah. Kini, sekitar 50 motif telah ia kembangkan, sebagian besar terinspirasi dari Candi Jago, dan beberapa dari Candi Kidal.

Namun, Jahfal tak ingin berhenti pada pakem klasik. Ia mencoba menjembatani tradisi dan kekinian. Motif kuda lumping dan mobil jip misalnya ikut ia hadirkan. Jip bukan tanpa alasan. Di kawasan Tumpang, kendaraan itu menjadi bagian dari denyut ekonomi warga mengantar wisatawan menuju Bromo.

Tak jarang, setelah perjalanan panjang, wisatawan justru tertarik membawa pulang batik bermotif jip sebagai kenangan. Di balik setiap kain, ada proses panjang yang dilalui. Jahfal memadukan teknik tulis dan cap.

Bahkan, untuk cap, ia memilih cara yang tak lazim. Alih-alih menggunakan tembaga seperti kebanyakan perajin, ia membuatnya sendiri dari kertas karton yang dibentuk sesuai motif lalu ditempelkan pada kayu.

”Lebih fleksibel, dan saya bisa menyesuaikan motif dengan cepat,” katanya.

Tak jarang, proses desain dilakukan secara spontan. Saat kain dibentangkan, ide-ide muncul begitu saja. Garis demi garis ditorehkan, motif disusun, warna dibayangkan. Meski demikian, ia tetap mempertimbangkan aspek praktis agar kain tetap mudah dipotong dan dijahit tanpa merusak komposisi gambar.

Setelah proses pembatikan selesai, kain masuk tahap pewarnaan. Warna yang telah meresap kemudian dikunci menggunakan water glass sebelum akhirnya melalui proses pelorotan untuk menghilangkan malam. Semua dilakukan dengan sabar, mengikuti ritme cuaca. Penjemuran pun tak boleh sembarangan. Sinar matahari langsung justru dihindari demi menjaga ketajaman warna.

Jahfal memilih tidak memproduksi secara massal. Dalam satu desain, ia hanya membuat dua hingga tiga lembar kain. Baginya, eksklusivitas adalah nilai. Ia ingin setiap pembeli merasa memiliki sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar batik, tetapi karya yang personal.

Sebagian besar proses ia kerjakan sendiri. Sesekali, ayah dan saudaranya ikut membantu. Namun, ia percaya, setiap tangan memiliki karakter. Satu goresan malam bisa berbeda dengan goresan lainnya, meski motifnya sama. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#batik cungkup #malang #generasi muda #budaya lokal