Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

BPBD Kota Malang: Potensi Cuaca Ekstrem sampai Bulan Mei

Nabila Amelia • Minggu, 12 April 2026 | 12:13 WIB
MASIH ADA POTENSI BENCANA: Banjir sempat menggenang kawasan Kelurahan Lesanpuro, Kedungkandang Gang 12, Kamis lalu (9/4).
MASIH ADA POTENSI BENCANA: Banjir sempat menggenang kawasan Kelurahan Lesanpuro, Kedungkandang Gang 12, Kamis lalu (9/4).

MALANG KOTA - Dibanding triwulan pertama pada 2024 dan 2025, jumlah bencana hidrometeorologi di Kota Malang pada tahun ini memang menurun. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Sebab sampai saat ini masih ada potensi peningkatan jumlah kejadian.

Analis Data Bencana BPBD Kota Malang Rian Agustian menjelaskan, berdasar data yang dihimpun pihaknya, terjadi perubahan ancaman bencana dari tahun ke tahun. Pada 2024, cuaca ekstrem cukup mendominasi.

Kemudian pada 2025, banjir menjadi bencana yang paling sering terjadi. Disusul tanah longsor dan cuaca ekstrem. Lalu tahun ini, tanah longsor yang menduduki peringkat pertama. Baru cuaca ekstrem lalu banjir.

”Anomali cuaca berupa hujan ekstrem masih akan terjadi sampai bulan Mei,” ucap Rian. Bahkan saat dimulainya musim kemarau pada Agustus nanti, dia menyebut masih ada potensi hujan ekstrem. Itu terbukti karena pada awal April ini, saat bencana hidrometeorologi masih terjadi. 

Seperti tanggal 4 April di kawasan Lowokdoro. Tinggi banjir di sana menyentuh pintu mobil. Selanjutnya pada 8 April di Gang Mirej.

Selain itu, banjir juga terjadi di Lesanpuro Gang 12, Cemorokandang, Jalan Danau Kerinci, dan Jalan Pisang Kipas. 

Lalu ada tanah longsor di Jalan Laksda Adi Sucipto. Disinggung terkait lokasi rawan bencana, Rian menyebut tidak ada perubahan. Beberapa di antaranya yang perlu diwaspadai yakni wilayah utara. Mulai dari Jalan Ahmad Yani, Jalan S Parman, Jalan Kedawung, Jalan Industri Barat, dan Jalan Sutoyo.

Di sisi selatan ada Jalan IR Rais, Jalan Jupri, Jalan Langsep, Jalan Terusan Dieng, Jalan Bukit Barisan, dan Jalan Galunggung. Sementara di sisi barat ada Jalan MT Haryono, Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Bunga Cokelat, Jalan Sudimoro, Jalan Borobudur, Jalan Borobudur, dan Jalan Terusan Borobudur.

Selanjutnya ada sisi timur. Mulai dari Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Kebonsari, Jalan Kemantren, Jalan Rajasa, Jalan Raya Gadang, Jalan Danau Maninjau, Jalan Danau Toba, Jalan Danau Kerinci, Jalan Ki Ageng Gribig Gang 12, dan Jalan Ki Ageng Gribig Gang Sate.

Beberapa wilayah permukiman warga juga perlu diwaspadai bila terjadi cuaca ekstrem. ”Misalnya saja di permukiman Glintung, Bareng, Bantaran, Perumahan De Cluster, Perumahan Ragil, dan Perumahan Teluk Bayur,” imbuh Rian.

Selama triwulan pertama tahun ini, bencana hidrometeorologi menimbulkan dampak yang cukup signifikan. Salah satunya yang terjadi pada 31 Maret lalu. Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Malang Surya Adhi Nugroho mengatakan, saat itu terjadi cuaca ekstrem berupa banjir di 16 titik. 

Sebagai contoh di Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Letjen S Parman, Jalan Kedawung, dan Jalan Industri Barat. Kemudian ada bencana angin kencang. Saat itu menyebabkan pohon tumbang di Jalan Brawijaya (Splendid), Lapangan Angmor, dan Lapangan Brawijaya. ”Pohon tumbang menimpa sampai 14 kendaraan,” sebut pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut. (mel/by)

Editor : A. Nugroho
#Kabid #cuaca ekstrem #malang #bpbd kota malang