MALANG KOTA, RADAR MALANG – Cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini bukan tanpa sebab. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur Anung Suprayitno menjelaskannya kepada Jawa Pos Radar Malang. Dia menyebut bahwa sekarang terjadi musim peralihan atau pancaroba.
Pada musim peralihan, cuaca cenderung tidak stabil dan memicu cuaca ekstrem. ”Adanya musim peralihan ditandai dengan munculnya awan cumulonimbus yang berkembang secara cepat,” terang Anung. Karena kondisi itu, biasanya terjadi panas terik dan cuaca cerah pada pagi hari.
Memasuki siang, baru muncul awan putih yang berbentuk bunga kol. Selanjutnya siang sampai sore, awan berubah gelap atau yang biasa disebut awan cumulonimbus.
”Di bawah awan itu, ada potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dengan intensitas tinggi, hujan es, angin kencang, puting beliung, hingga badai guntur,” sambung Anang. Fenomena hujan es sempat terjadi pada 9 April lalu. Beberapa warga melaporkan, hujan es berlangsung di kawasan Sawojajar, Sulfat, dan sekitarnya.
Yang perlu digarisbawahi, lanjut Anang, karakteristik hujan yang terjadi selama musim peralihan berbeda. ”Turunnya secara tiba-tiba, tapi singkat. Mulai siang hingga sore,” tutur Anung.
Peralihan musim itu diprediksi masih berlangsung sampai Malang Raya memasuki musim kemarau. Musim kemarau menurut prediksi bakal berlangsung pada bulan Mei mendatang. Anung mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. Termasuk bencana. (mel/by)
Editor : A. Nugroho